Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID – Pagi dini hari, beberapa hari lalu, kami rombongan kecil yang terdiri dari penulis dan istri, dua orang dokter, serta seorang apoteker; naik menuju Puncak Gunung Bromo menggunakan kendaraan offroad. Setelah sampai di pelataran terakhir kami turun dan mulai menapaki kaki menuju puncak. Percakapan kami kalau diringkas demikian;
“Dingin sekali,” ucap istri sambil merapatkan jaket, napasnya membentuk asap tipis di udara gelap. “Tapi aneh ya, rasanya justru menenangkan.”
Penulis tersenyum, menyesuaikan langkah di jalur berpasir basah yang menanjak. “Mungkin karena kita jarang memberi tubuh kesempatan untuk benar-benar merasakan alam apa adanya. Biasanya dingin langsung dilawan AC.”
Salah satu dokter rombongan kami tertawa pelan berkata. “Benar Prof. Di ruang praktik, kita sibuk mengukur suhu tubuh orang lain, tapi lupa mendengarkan tubuh sendiri. Di sini, termometer alamnya jujur.”
“Dan tidak bisa ditawar,” sambung dokter yang satunya, sambil mengencangkan penutup kepala. “Kalau dingin ya dingin. Tidak ada resep untuk menurunkan suhu Bromo.” Sambil tertawa ceria sebagai ciri khasnya. Apoteker yang berjalan di belakang kami menimpali, “Kalau ada, pasti sudah laku keras. Tapi mungkin justru karena tidak ada obatnya, kita dipaksa menerima.”
Langkah kami teratur, diselingi bunyi kerikil yang terinjak. Gelap masih berkuasa, namun di kejauhan langit mulai bergradasi, hitamnya perlahan melunak.
“Setiap hari kita bicara soal kesembuhan,” kata penulis pelan, karena takut memecah suasana. “Tapi jarang bertanya, apa sebenarnya yang menyembuhkan kita.”
Istri penulis menoleh. “Mungkin pagi ini jawabannya. Atau setidaknya, pengingatnya.”
Dokter pertama mengangguk. “Sebagai dokter, kita terbiasa merasa harus tahu. Di gunung begini, rasanya lebih jujur untuk mengaku kecil.”
“Dan lelah,” tambah apoteker sambil tersenyum. “Tapi lelah yang menyenangkan. Tidak ada target, tidak ada antrean pasien, hanya langkah demi langkah.”
Angin berembus lebih kencang. Kami berhenti sejenak, memandang ke arah timur. Garis cahaya tipis mulai muncul, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana.
“Sebentar lagi matahari muncul,” ujar istri penulis lirih. “Entah kenapa, setiap melihat terbit, rasanya seperti diberi kesempatan ulang.”
Penulis mengangguk. “Seperti dunia di-reset, tanpa harus menghapus apa pun.”
“Kita mungkin menyembuhkan orang dengan ilmu,” kata dokter kedua, “tapi pagi seperti ini mengingatkan bahwa ada penyembuhan yang datang tanpa resep.”
Kami kembali melangkah, lebih pelan, seolah tak ingin tergesa sampai. Di antara dingin, sunyi, dan cahaya yang mulai lahir, percakapan pun mereda. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing mulai menyadari: ada hal-hal yang lebih tepat direnungkan dalam diam, sambil membiarkan Bromo berbicara dengan caranya sendiri
Saat memandang siluet pagi dari puncak Bromo, ada perasaan kecil yang tiba-tiba tumbuh di dada, seolah diri ini hanyalah sebutir debu yang ikut menumpang hidup di hamparan semesta.
Gelap perlahan mundur, digantikan cahaya yang tidak datang dengan tergesa-gesa. Ia menyusup pelan, menyentuh garis cakrawala, lalu memantul pada kabut yang menggantung di antara lembah dan gunung. Dalam keheningan itu, dunia seperti sedang menarik napas panjang, bersiap menyambut hari dengan segala kemungkinan yang dikandungnya.
Angin pagi berembus dingin, menusuk kulit, namun justru membuat kesadaran terasa lebih jernih. Setiap hembusannya seakan membawa pesan tentang kebesaran Ilahi yang tidak perlu diumumkan dengan suara keras. Ia hadir dalam diam, dalam keteraturan yang nyaris tidak pernah meleset. Matahari selalu tahu kapan harus terbit, dari arah yang sama, dengan ritme yang setia. Tidak pernah ia terlambat, tidak pernah pula ingkar. Dari puncak ini, keteraturan itu tampak begitu nyata, seolah alam sedang memperlihatkan kitab terbukanya bagi siapa saja yang mau membaca dengan hati yang tenang.
Ketika cahaya mulai menyapu lautan pasir, warna-warna yang semula kelabu berubah menjadi keemasan. Bayangan gunung memanjang, membentuk siluet yang agung dan misterius. Di momen itu, terasa betapa kecilnya ambisi dan kegelisahan yang sering dibawa dari kehidupan sehari-hari. Segala kekhawatiran tentang masa depan, penyesalan tentang masa lalu, perlahan melemah di hadapan panorama yang begitu luas. Di sini, waktu seperti kehilangan sifatnya yang menekan; ia mengalir saja, tanpa tuntutan, tanpa paksaan.
Setiap matahari terbit seolah membawa janji yang sama: bahwa rezeki akan kembali ditaburkan kepada seluruh makhluk di muka dunia ini. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam rupa udara yang bisa dihirup, cahaya yang menghangatkan, dan kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Dari puncak Bromo, janji itu terasa begitu inklusif. Tidak ada yang dikecualikan. Gunung, pasir, tumbuhan kecil yang bertahan di celah-celah tanah, bahkan manusia dengan segala keterbatasannya, semua mendapat bagian dari kemurahan yang sama.
Keheningan pagi memaksa diri untuk bercermin. Sejauh mana rasa syukur benar-benar hidup dalam keseharian? Ataukah ia hanya menjadi kata yang diucapkan ketika segalanya berjalan sesuai harapan? Alam tidak pernah meminta pujian, namun ia terus memberi. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang ketulusan. Memberi tanpa perhitungan, hadir tanpa tuntutan untuk dipahami sepenuhnya. Dari ketinggian ini, muncul kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi dengan kebisingan untuk terasa bermakna.
Kabut yang perlahan terangkat mengungkapkan detail demi detail permukaan bumi. Garis-garis pasir, lekuk lembah, dan kontur pegunungan menjadi semakin jelas. Begitu pula dengan pikiran, yang perlahan menemukan kejernihannya sendiri. Ada rasa pasrah yang bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa ada tatanan yang lebih besar dari sekadar rencana manusia. Bahwa di balik setiap peristiwa, ada hikmah yang mungkin baru akan dipahami setelah waktu berlalu.
Di hadapan kebesaran ini, kesombongan terasa tidak pada tempatnya. Segala pencapaian manusia tampak rapuh jika dibandingkan dengan usia gunung dan siklus alam yang telah berlangsung jauh sebelum keberadaan kita. Namun justru di sanalah letak penghiburannya. Menjadi kecil bukanlah sebuah kutukan, melainkan pembebasan. Tidak semua hal harus dikendalikan, tidak semua jalan harus diketahui ujungnya sejak awal.
Saat matahari akhirnya menampakkan dirinya sepenuhnya, hangat mulai menggantikan dingin. Kehidupan kembali bergerak, meski dari kejauhan. Momen kontemplatif ini pun perlahan akan usai, digantikan oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Namun bekasnya tertinggal, seperti cahaya yang masih melekat di mata.
Dari puncak Bromo, pagi mengajarkan bahwa kebesaran Ilahi tidak selalu hadir dalam keajaiban yang spektakuler, melainkan dalam kesetiaan sebuah terbit, dalam rezeki yang terus mengalir, dan dalam kesempatan harian untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur.
Salam Waras dari Puncak Bromo (R-1)






Recent Comments