• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Wednesday, February 18, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Siklus yang Sama, Rasa yang Berbeda

Refleksi

by portall news
February 18, 2026
in Headline
Selamat Tinggal Bromo (Jejak Sunyi di Lautan Pasir)

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

123
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di sebauh pesantren menjelang datangnya Puasa Ramadan seorang santri berbincang dengan Kiainya;
“Puasa itu datang lagi, Kiai,” ujar seorang santri pelan ketika langit mulai berwarna jingga. “Rasanya seperti baru kemarin kita menjalaninya.”
Kiai tersenyum, menatap hamparan sawah yang mulai redup oleh senja. “Memang selalu terasa begitu. Puasa datang seperti tamu lama. Ia tidak pernah absen, hanya kita yang belum tentu selalu ada untuk menyambutnya.”
Santri itu terdiam sejenak. “Mengapa setiap orang menyambutnya dengan rasa yang berbeda, Kiai? Ada yang bersyukur, ada yang biasa saja, ada yang begitu gembira, tapi ada juga yang justru bersedih.”
“Karena puasa,” jawab Kiai lembut, “adalah cermin. Ia memantulkan isi hati masing-masing orang. Yang bersyukur melihat kesempatan memperbaiki diri. Yang biasa saja melihat rutinitas. Yang gembira mungkin melihat pintu rezeki terbuka. Dan yang sedih menyadari waktu hidupnya kian berkurang.”

Santri menunduk, jemarinya memainkan ujung sarung seraya berkata. “Apakah salah jika merasa biasa saja?”
“Tidak,” sahut Kiai. “Yang salah adalah jika puasa berlalu tanpa meninggalkan bekas apa-apa. Bahkan rasa biasa pun bisa menjadi jalan menuju kedewasaan, jika dijalani dengan kesadaran.”
“Lalu bagaimana seharusnya kami menyambutnya?” sergah santri.
“Dengan niat yang jujur,” jawab Kiai mantap. “Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari kesombongan, amarah, dan keinginan yang berlebihan. Puasa bukan sekadar menunggu azan magrib, melainkan menunggu hati menjadi lebih lapang.”
Angin sore berembus pelan. Santri itu mengangguk, seolah menemukan jawaban yang selama ini dicari.
“Kiai,” katanya lirih, “semoga kita masih diberi kesempatan menjalaninya hingga akhir.” Kiai tersenyum dalam diam, menyimpan doa yang sama di dalam hatinya.

Baca Juga

Kagama Lampung Gelar Rapat Kerja Daerah 2026

OAIL Itera akan Amati Hilal Ramadan Selama Dua Hari di Taman Teleskop OZT-ALTS

Ini 13 Bakal Calon Rektor Itera 

Puasa itu datang lagi untuk kesekian kali ke bumi ini. Ia tidak pernah terlambat, tidak pernah pula terlalu cepat. Seperti tamu lama yang hafal jalan pulang, ia mengetuk pintu hati manusia dengan cara yang sama, namun selalu menimbulkan rasa yang berbeda. Setiap kedatangannya membawa suasana yang khas: udara yang terasa lebih teduh menjelang senja, langkah yang bergegas menuju rumah sebelum azan, dan doa-doa yang menggantung lebih lama di langit malam. Namun, di balik keseragaman ritual, tersimpan keberagaman rasa yang tak pernah sama.

Ada yang menyambutnya dengan penuh syukur. Bagi mereka, puasa adalah kesempatan untuk membersihkan diri, menata ulang niat, dan menambal lubang-lubang iman yang mungkin retak oleh kesibukan dunia selama ini. Rasa lapar dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, melainkan jalan sunyi untuk menyadari betapa rapuhnya manusia tanpa pertolongan Tuhan. Setiap tegukan air saat berbuka terasa seperti anugerah yang tak ternilai. Setiap suapan sederhana menjadi pengingat bahwa hidup sesungguhnya ditopang oleh hal-hal kecil yang sering dilupakan. Dalam syukur itu, puasa menjadi ruang perenungan, tempat hati kembali menemukan arah.

Ada pula yang menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Bagi sebagian orang, puasa adalah rutinitas tahunan yang mengalir tanpa banyak gejolak. Ia datang, dijalani, lalu pergi. Tidak ada euforia berlebihan, tidak pula keluhan yang berarti. Aktivitas berjalan seperti biasa, hanya jam makan yang bergeser dan ritme tidur yang sedikit berubah. Namun, justru dalam kebiasaan yang tampak datar itu tersimpan makna yang tak kalah dalam. Sebab tidak semua kesalehan harus riuh, tidak semua kebaikan perlu sorak-sorai. Ada ketenangan yang tumbuh dalam konsistensi, ada kedewasaan yang lahir dari menjalani tanpa banyak drama. Puasa bagi mereka adalah bagian dari hidup, seperti musim yang datang dan pergi, namun tetap memberi warna pada perjalanan waktu.

Di sisi lain, ada yang menyambutnya dengan riang gembira karena melihat peluang yang terbuka lebar. Bulan puasa membawa denyut ekonomi yang berbeda. Pasar menjadi lebih hidup menjelang berbuka, lampu-lampu toko menyala lebih lama, dan aroma makanan menguap dari berbagai sudut kota. Bagi sebagian orang, inilah saat panen setelah menunggu sekian lama. Kerja keras yang mungkin tak begitu terasa di bulan-bulan lain, mendadak menemukan momentumnya. Senyum yang terbit bukan hanya karena ibadah, tetapi juga karena harapan akan rezeki yang meningkat. Dalam riang itu, puasa menjadi simbol pergerakan, dinamika, dan usaha untuk memperbaiki taraf hidup.

Namun, tidak semua menyambutnya dengan hati yang ringan. Ada pula yang merasakan kesedihan yang sulit dijelaskan. Kedatangan puasa adalah penanda bahwa waktu terus berjalan tanpa kompromi. Jika tahun lalu masih dapat berjumpa, belum tentu tahun depan kesempatan itu kembali ada. Setiap kali puasa datang, usia pun bertambah, sisa waktu berkurang. Kesadaran akan kefanaan menjadi lebih nyata ketika melihat kursi di meja makan yang dulu merupakan tempat duduk orang tercinta, kini kosong, atau suara yang dulu akrab kini hanya tinggal kenangan. Puasa, dalam sunyinya, mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan yang tak pernah berhenti menuju akhir.

Di titik inilah puasa menjadi cermin yang jujur. Ia memperlihatkan wajah manusia apa adanya. Syukur, biasa saja, riang, atau sedih; semuanya adalah reaksi yang lahir dari pengalaman dan pemaknaan masing-masing. Puasa tidak memaksa manusia untuk merasakan hal yang sama. Ia hanya hadir sebagai ruang. Ruang untuk menahan diri, ruang untuk berbagi, ruang untuk merenung, dan ruang untuk menyadari bahwa hidup bukan semata tentang hari ini.

Ketika fajar menyingsing dan niat diucapkan dalam hati, sesungguhnya manusia sedang membuat janji pada dirinya sendiri. Janji untuk lebih sabar, lebih peka, dan lebih sadar. Lapar mengajarkan empati kepada mereka yang sering berkecukupan. Dahaga mengajarkan kerendahan hati kepada mereka yang terbiasa berkuasa. Waktu yang terasa lebih panjang di siang hari mengajarkan bahwa setiap detik memiliki harga. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan menahan ego yang kerap ingin menang sendiri.
Setiap pertemuan dengan puasa adalah pertemuan dengan versi diri yang baru; lebih tua, mungkin lebih bijak, atau justru masih mencari arah. Ia adalah pengingat lembut bahwa waktu adalah anugerah sekaligus misteri.
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa. (R-1)

Previous Post

OAIL Itera akan Amati Hilal Ramadan Selama Dua Hari di Taman Teleskop OZT-ALTS

Next Post

Kagama Lampung Gelar Rapat Kerja Daerah 2026

Next Post
Kagama Lampung Gelar Rapat Kerja Daerah 2026

Kagama Lampung Gelar Rapat Kerja Daerah 2026

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Kagama Lampung Gelar Rapat Kerja Daerah 2026
  • Siklus yang Sama, Rasa yang Berbeda
  • OAIL Itera akan Amati Hilal Ramadan Selama Dua Hari di Taman Teleskop OZT-ALTS
  • Ini 13 Bakal Calon Rektor Itera 
  • Ustad Abdul Somad Isi Ceramah Jelang Ramadan di Itera

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist