PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Pagi itu, suasana di Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, terasa berbeda. Sejumlah warga berkumpul untuk menghadiri kegiatan sosialisasi dan pendampingan pengelolaan air limbah domestik yang digelar Pemerintah Provinsi Lampung bersama berbagai pemangku kepentingan.
Namun kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan biasa. Di awal acara, warga menandatangani sebuah kesepakatan bersama sebagai simbol komitmen untuk mendukung, menjaga, dan memelihara sarana sanitasi yang akan dibangun di lingkungan mereka.
Bagi sebagian orang, tanda tangan itu mungkin hanya sebuah formalitas. Namun bagi warga Pesawahan, komitmen tersebut merupakan harapan akan lingkungan yang lebih sehat bagi anak-anak dan generasi mendatang.
“Kita ingin fasilitas yang dibangun nanti benar-benar bermanfaat dan terus digunakan,” ujar Kis, salah seorang peserta kegiatan.
Seperti kasus di RT 27 Kelurahan Pesawahan, sebanyak 15 keluarga menggunakan fasilitas umum yang kondisinya memprihatinkan.
Fasilitas umum itu sekarang ditutup oleh aparat setempat, limbah feses yang tidak dapat terurai. Beberapa kali melakukan penyedotan tak kunjung selesai masalahnya.
Sebagai solusi awal, warga melakukan pembuangan tinjanya ke rumah RT setempat atau ke rumah warga yang memiliki WC.
Komitmen warga menjadi hal penting mengingat pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sanitasi.
Tanpa kepedulian dan pemeliharaan bersama, berbagai fasilitas yang telah dibangun berisiko kembali rusak dan tidak berfungsi.
Sanitasi Bukan Sekadar Infrastruktur
Perwakilan Dinas PKPCK Provinsi Lampung August Riko, menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung telah mendapatkan kewenangan untuk membangun sarana dan prasarana sanitasi di Kelurahan Pesawahan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan atau selesainya proyek fisik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu merawat dan memanfaatkan fasilitas tersebut secara berkelanjutan.
Karena itu, tanggung jawab menjaga keberlangsungan program tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga pemerintah kelurahan, ketua RT, dan seluruh warga sebagai pengguna langsung.
“Tahun depan akan dilaksanakan pembangunan fisik. Namun keberhasilannya akan dinilai dari sejauh mana masyarakat memanfaatkan dan merawat fasilitas tersebut,” ungkapnya.
Harapan besar pun disematkan pada kegiatan sosialisasi ini agar mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan kesehatan bersama.
Ancaman yang Tidak Terlihat
Persoalan sanitasi ternyata memiliki kaitan erat dengan kondisi kesehatan masyarakat. Perwakilan Dinas Kesehatan mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen sumber air yang diperiksa menunjukkan adanya pencemaran bakteri Escherichia coli (E. coli).
Bakteri ini menjadi salah satu penyebab berbagai penyakit, terutama diare.
Data yang dipaparkan semakin menguatkan pentingnya perbaikan sistem pengelolaan air limbah domestik. Air limbah yang tidak terkelola dengan baik dapat mencemari sungai, air tanah, dan lingkungan sekitar.
Dampaknya tidak hanya menimbulkan bau yang tidak sedap, tetapi juga menjadi sumber penyebaran penyakit.
Santri Mareta, sanitarian dari Puskesmas Ambon, menyampaikan bahwa Kelurahan Pesawahan saat ini menjadi wilayah dengan berbagai persoalan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Pada tahun 2026 tercatat tiga kasus stunting, tujuh kasus bayi kurang gizi, dan 17 kasus diare.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari persoalan pengelolaan limbah rumah tangga yang masih belum optimal.
“Air limbah yang tidak terkelola membawa risiko serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Mengubah Pola Pikir, Bukan Hanya Membangun Fasilitas
Pandangan serupa disampaikan oleh Bappeda Kota Bandar Lampung.
Perwakilan Bappeda, Fitri Yanti, menceritakan bahwa pada tahun sebelumnya terdapat mahasiswa magang dari Perancis yang melakukan pengamatan terhadap berbagai program pembangunan yang telah berjalan sejak tahun 2024.
Dari hasil pengamatan tersebut muncul satu kesimpulan penting: pembangunan fisik tidak akan bertahan lama apabila tidak diikuti dengan perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat.
Selama ini, berbagai program sanitasi telah hadir di masyarakat. Namun banyak yang tidak berkelanjutan karena minimnya pemeliharaan dan rendahnya rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun.
Akibatnya, pemerintah daerah mengalami kesulitan memperoleh dukungan pendanaan lanjutan dari pemerintah pusat karena program yang pernah dibangun tidak menunjukkan keberlanjutan yang memadai.
Karena itu, Bappeda mendorong agar masyarakat mulai aktif menyampaikan kebutuhan sanitasi melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Selama ini usulan terkait sanitasi masih tergolong minim dibandingkan kebutuhan yang ada di lapangan.
Potret Sanitasi Pesawahan Hari Ini
Gambaran kondisi sanitasi di Pesawahan semakin jelas ketika Yayasan Sagara Cita Indonesia (YSC Indonesia) memaparkan hasil survei dan asesmen yang dilakukan di 15 RT.
Survei terhadap 300 responden tersebut menunjukkan bahwa tantangan sanitasi masih cukup besar.
Sebanyak 37,6 persen warga masih melakukan praktik buang air besar sembarangan secara tidak langsung. Mereka memiliki toilet di rumah, namun limbah tinja dialirkan langsung ke lingkungan tanpa penampungan yang aman.
Tim survei juga menemukan banyak pipa pembuangan rumah tangga yang langsung mengarah ke sungai. Selain itu, terdapat satu fasilitas MCK yang digunakan oleh sekitar 195 orang dalam kondisi yang sudah tidak layak.
Direktur Eksekutif YSC Indonesia, Iffah Rachmi, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan sistem sanitasi yang lebih aman dan berkelanjutan.
Meski demikian, ia melihat adanya kabar baik. Hasil pendampingan menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap rencana pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T).
Warga bahkan menyatakan kesediaan untuk mendukung proses pembangunan apabila diperlukan penyesuaian teknis pada rumah mereka.
“Dalam tiga bulan ke depan, bersama Pemerintah Provinsi Lampung, kami akan mengintervensi tiga titik lokasi pembangunan fasilitas umum berupa MCK dan septic tank komunal,” jelas Iffah.
YSC juga mendorong pembentukan kelompok masyarakat yang nantinya bertugas membantu pengelolaan dan pemeliharaan sarana sanitasi setelah pembangunan selesai.
Menjaga yang Sudah Dibangun
Dalam sesi diskusi, Eko Andri dari Perkim Provinsi Lampung menjelaskan bahwa Kelurahan Pesawahan termasuk dalam kawasan kumuh seluas 10,25 hektare yang menjadi prioritas penanganan.
Program yang sedang diusung merupakan bagian dari upaya penataan kawasan kumuh dengan fokus pada peningkatan kualitas lingkungan dan sanitasi masyarakat.
Menariknya, pada sesi rencana tindak lanjut (RTL), warga diajak untuk menuliskan kondisi lingkungan saat ini dan harapan mereka ke depan.
Jawaban yang muncul hampir seragam. Warga mengakui bahwa banyak fasilitas umum mengalami kerusakan dan tidak terpelihara akibat kurangnya kepedulian serta kerja sama masyarakat.
Namun di balik pengakuan tersebut tersimpan harapan besar. Mereka ingin melihat fasilitas umum yang lebih baik, lebih bersih, dan terpelihara. Mereka ingin lingkungan yang sehat untuk anak-anak mereka. Mereka ingin sungai yang tidak lagi menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga.
Harapan itu kini telah dituangkan dalam sebuah komitmen bersama. Pembangunan sarana sanitasi mungkin akan dimulai tahun depan. Namun sesungguhnya, perubahan sudah dimulai hari ini—ketika warga Pesawahan memutuskan untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan kesehatan mereka sendiri.(ENI/R-1)

Recent Comments