PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Provinsi Lampung mengalami deflasi sebesar 0,49 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026. Penurunan harga tersebut terutama didorong oleh terjaganya pasokan pangan, khususnya bawang merah dan cabai merah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan deflasi Juli 2026 menunjukkan upaya pengendalian inflasi di daerah terus berjalan melalui penguatan pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta koordinasi antara Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Perkembangan inflasi pada Juli 2026 menunjukkan harga sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan. Kondisi ini didukung oleh ketersediaan pasokan yang memadai di sejumlah sentra produksi,” ujar Bimo dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi Lampung pada Juli 2026 berbalik dibandingkan Juni 2026 yang mencatat inflasi sebesar 0,55 persen. Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat sebesar 1,76 persen (year on year/yoy), menjadi yang terendah di Sumatera dan berada di bawah inflasi nasional sebesar 2,88 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi. Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,23 persen, disusul cabai merah sebesar 0,13 persen.
Selain itu, harga daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,07 persen. Komoditas tomat juga memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen.
Bimo menjelaskan, penurunan harga sejumlah bahan pangan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan selama masa panen di berbagai sentra produksi, baik di Provinsi Lampung maupun dari daerah lain.
Meski demikian, tekanan inflasi masih berasal dari sejumlah komoditas, terutama beras, daging sapi, dan bensin. Beras memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen akibat pasokan yang masih terbatas menjelang puncak panen gadu yang diperkirakan berlangsung pada September 2026.
Sementara itu, kenaikan harga daging sapi dipengaruhi peningkatan biaya logistik impor. Adapun bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi.
Menurut Bimo, Bank Indonesia bersama TPID Provinsi Lampung akan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi agar stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Ke depan, inflasi Provinsi Lampung diprakirakan tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen secara tahunan hingga akhir 2026. Namun, berbagai risiko global dan domestik tetap perlu diantisipasi,” katanya.
Sejumlah risiko yang menjadi perhatian antara lain potensi gangguan produksi pangan akibat perubahan cuaca, peningkatan biaya distribusi, kenaikan harga bahan bakar, serta perkembangan harga komoditas global.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI dan TPID Lampung memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi operasi pasar dan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penguatan pemantauan harga, peningkatan produksi hortikultura, serta penguatan kerja sama antardaerah.
Selain itu, BI dan TPID Lampung terus mengoptimalkan kerja sama pasokan cabai antara Kota Metro dan Kabupaten Kulon Progo serta kerja sama pasokan bawang merah antara Kota Bandar Lampung, Kota Metro, dan Kabupaten Solok.
“Sinergi antara Bank Indonesia, TPID, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga, ketahanan pangan, dan daya beli masyarakat Lampung,” pungkas Bimo.


Recent Comments