Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Ada kalanya sebuah kata yang tampak sederhana justru mampu memantulkan wajah sebuah zaman. Kata itu mungkin pendek, terdengar kasar, bahkan terkesan kekanak-kanakan. Namun, ketika dipertukarkan dalam sebuah percakapan, ia dapat berubah menjadi cermin yang memperlihatkan siapa yang sedang berbicara, siapa yang sedang menilai, dan siapa sesungguhnya yang sedang kehilangan akal sehat. Begitulah kira-kira yang terjadi dengan diksi “tolol”.
Beberapa saat lalu, sebuah meme berseliweran di beranda media sosial. Ceritanya sederhana: dua sahabat terlibat percakapan dengan menggunakan diksi “tolol”. Salah satunya meminta maaf karena telah “menololkan” sahabatnya. Permintaan maaf itu segera mendapat balasan yang tak kalah menggelitik. Sang sahabat mengatakan bahwa ia tidak menyangka orang yang mengatakannya “tolol” ternyata juga “tolol”. Percakapan pendek itu lucu karena mengandung ironi. Orang yang merasa cukup pintar untuk menunjuk kebodohan orang lain mendadak menemukan dirinya berada di dalam kategori yang sama yaitu, sama-sama tolol.
Meme itu barangkali lebih dari sekadar lelucon. Ia seperti potongan kecil dari kehidupan sosial kita: orang begitu mudah menyebut orang lain bodoh, sementara amat sulit bercermin kepada diri sendiri. Kita hidup di tengah suasana ketika perbedaan pendapat sering kali tidak lagi diselesaikan dengan pertukaran argumen, melainkan dengan pemberian label. Ketika seseorang tidak setuju dengan pendapat kita, ia dianggap tolol. Ketika pilihan politiknya berbeda, ia dicap tolol. Ketika selera musik, makanan, gaya hidup, atau cara berpikirnya tidak sesuai dengan selera kita, ia pun dengan mudah dimasukkan ke dalam keranjang kebodohan.
Kata “tolol” akhirnya bukan lagi sekadar kata sifat, melainkan senjata sosial.
Lebih menarik lagi, semakin sering kata itu digunakan, semakin kabur pula maknanya. Seseorang dapat disebut tolol bukan karena benar-benar tidak mampu berpikir, melainkan hanya karena berpikir berbeda. Seorang yang kalah berdebat disebut tolol. Seorang yang salah mengambil keputusan disebut tolol. Bahkan orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan luas pun bisa disebut tolol hanya karena satu pendapatnya tidak disukai.
Di sinilah persoalannya menjadi serius. Sebab kebodohan bukan semata-mata ketiadaan pengetahuan. Kebodohan yang lebih berbahaya adalah ketidakmampuan menyadari keterbatasan diri. Orang yang tidak tahu tetapi sadar bahwa dirinya tidak tahu masih mempunyai kesempatan untuk belajar. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya paling tahu justru dapat menutup pintu bagi pengetahuan.
Maka, negeri ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Sekolah, universitas, buku, seminar, sertifikat, gelar akademik yang panjang, dan berbagai macam indikator kecerdasan tersedia di mana-mana. Yang mungkin kurang adalah kerendahan hati intelektual: kemampuan untuk berkata, “Saya bisa saja salah.”
Kalimat sederhana itu sesungguhnya memiliki kekuatan luar biasa. Ia membuka ruang bagi dialog. Ia membuat seseorang bersedia mendengar sebelum menghakimi. Ia memungkinkan perbedaan menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Ironisnya, di era ketika informasi begitu mudah diperoleh, orang justru semakin gampang terjebak dalam keyakinan bahwa dirinya paling benar. Mesin pencari dan media sosial menyediakan begitu banyak informasi, tetapi sekaligus memungkinkan seseorang hanya mengonsumsi informasi yang mengukuhkan keyakinannya. Akibatnya, orang bukan sekadar mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran.
Dari sana lahirlah fenomena yang lucu sekaligus menyedihkan: orang saling menuduh tolol sambil sama-sama menolak kemungkinan bahwa dirinya keliru. Masing-masing berdiri di atas menara keyakinannya sendiri, menunjuk ke menara orang lain sambil tertawa. Tidak ada yang menyadari bahwa menara itu dibangun dari bahan yang sama: yaitu ego.
Karena itu, meme tentang dua sahabat tadi layak ditertawakan sekaligus direnungkan. Kelucuannya muncul dari permainan kata, tetapi pesannya jauh lebih dalam. Kita sering kali begitu sibuk menemukan kebodohan orang lain sampai lupa memeriksa kebodohan sendiri.
Mungkin kita memang membutuhkan sebuah negeri yang lebih sedikit gemar menyebut orang lain tolol. Bukan karena kata itu harus dihapus dari perbendaharaan bahasa, melainkan karena kita perlu belajar menggunakan penilaian secara lebih bijaksana. Sebab tidak setiap kesalahan adalah kebodohan, tidak setiap perbedaan adalah ketidakmampuan berpikir, dan tidak setiap orang yang berbeda dari kita layak direndahkan. Boleh jadi, persoalan terbesar bukanlah apakah kita hidup di negeri para tolol. Persoalannya adalah apakah kita cukup waras untuk menyadari bahwa kemungkinan menjadi tolol selalu terbuka bagi siapa saja, termasuk bagi orang yang paling yakin dirinya sedang menunjuk orang lain tolol.
Salam Waras (R-1)

Recent Comments