PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Inflasi Provinsi Lampung pada Oktober 2026 mencapai 3,83 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,23 persen. Kenaikan harga cabai merah, bawang merah, beras, dan tomat menjadi faktor utama yang mendorong tekanan harga kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis dalam siaran pers Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Senin (2/11/2026), inflasi Lampung secara bulanan (month-to-month/mtm) tercatat 0,54 persen, meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 0,14 persen.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan terutama dipengaruhi berkurangnya pasokan setelah berakhirnya periode panen serta menurunnya produktivitas tanaman akibat musim kemarau.
Cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,22 persen. Disusul bawang merah sebesar 0,07 persen, serta tomat, beras, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil inflasi 0,04 persen.
Kenaikan harga beras juga dipengaruhi penurunan produksi padi pascapanen gadu yang diperberat meningkatnya intensitas fenomena El Nino. Sementara kenaikan harga tomat terjadi akibat meningkatnya permintaan di tengah terbatasnya pasokan karena kondisi kekeringan.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain terong dengan andil deflasi 0,03 persen, daging ayam ras dan minyak goreng masing-masing 0,02 persen, serta jagung manis sebesar 0,01 persen.
BI memperkirakan inflasi Lampung tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen hingga akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko perlu diwaspadai, terutama dampak El Nino terhadap produksi pangan dan hortikultura.
Selain itu, potensi kebakaran hutan dan lahan, kurang optimalnya panen gadu, persaingan pembelian gabah oleh agen dari luar Lampung, serta kondisi cuaca maritim yang dapat menghambat aktivitas nelayan juga menjadi faktor yang berisiko mengganggu pasokan pangan.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi operasi pasar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pemantauan harga kebutuhan pokok, serta penguatan produksi hortikultura melalui dukungan sarana pertanian dan teknologi budidaya.
BI juga mendorong optimalisasi Toko Inflasi di Kota Metro dan Bandar Lampung sebagai saluran distribusi harian untuk beras SPHP dan komoditas pangan strategis lainnya.
Dari sisi distribusi, penguatan kerja sama antardaerah dilakukan melalui kerja sama pasokan cabai merah antara Kulon Progo dan Kota Metro, serta bawang merah antara Kabupaten Solok dengan Bandar Lampung dan Metro.
Sementara itu, untuk mengantisipasi dampak El Nino, BI dan TPID mendorong optimalisasi sarana pengairan, penyesuaian kalender tanam, serta dukungan sumur bor pada klaster pertanian binaan.
Bimo menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga dan penguatan sistem peringatan dini agar potensi gangguan produksi maupun distribusi dapat diantisipasi lebih awal.
Melalui berbagai langkah tersebut, BI bersama TPID berharap stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga pangan di Lampung tetap terjaga, sehingga tekanan inflasi tidak semakin membebani daya beli masyarakat.

Recent Comments