Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di suatu lembaga yang pekerjaannya mengelola ilmu pengetahuan sedang berlangsung pemilihan pimpinan tertinggi. Pola pemilihannya mengikuti aturan dari negeri atas angin yang berpola pemenang belum tentu menjadi, sebab yang disukai atasan adalah kunci diwujudkan dalam bentuk “sumbang suara” untuk memenangkan calonnya. Ada sepenggal dialog di ruang rapat sebagai institusi tertinggi sebagai berikut:
“Ruang rapat ini terasa lebih sunyi dari biasanya,” ujar Arman sambil melipat kertas visi-misi di tangannya. Di luar, poster pemilihan pimpinan lembaga masih terpampang rapi, seolah menunggu keputusan nasib.
Dira menoleh dari jendela. “Sunyi karena banyak yang ragu. Mereka takut kalah sebelum pemungutan suara dimulai.”
“Jujur saja,” Arman menghela napas, “aku juga berpikir untuk mundur. Dukungan tidak sekuat yang kubayangkan. Lawan-lawan kita lebih populer.”
Dira tersenyum tipis. “Populer tidak selalu berarti siap memimpin. Tapi kalau kamu menyerah sekarang, apa bedanya dengan mengakui bahwa gagasanmu tidak layak diperjuangkan?”
Arman terdiam. “Aku lelah bernegosiasi, meyakinkan orang, dan menjawab keraguan yang sama berulang-ulang. Rasanya lebih mudah berhenti.”
“Lebih mudah, iya,” jawab Dira tegas. “Tapi lembaga ini tidak butuh pemimpin yang memilih mudah. Ia butuh seseorang yang berani bertahan saat prosesnya tidak nyaman.”
“Tapi bagaimana jika aku maju dan tetap kalah?” tanya Arman pelan.
“Kalau itu terjadi,” kata Dira, “setidaknya kamu sudah membuka ruang diskusi, memunculkan pilihan, dan menunjukkan bahwa kepemimpinan bisa diperjuangkan dengan gagasan, bukan hanya angka.”
Arman menatap papan agenda pemilihan. “Jadi menurutmu, tetap maju meski peluang tipis?”
“Peluang tidak pernah lahir dari sikap menyerah,” jawab Dira. “Peluang diciptakan saat seseorang berani berdiri dan berkata, ‘Saya siap bertanggung jawab.’”
Arman mengangguk perlahan. “Baik. Aku akan tetap maju. Bukan semata untuk menang, tapi untuk memastikan lembaga ini punya pilihan.”
Dira tersenyum. “Dan dari situlah, peluang menang selalu bermula.”
Gambaran di atas seolah menegaskan: karena hanya ada dua pilihan antara menyerah dan terus berjuang, banyak orang merasa terjebak dalam dualitas sempit yang kerap membuat mereka menyerah sebelum sempat memahami kedalaman perjuangan itu sendiri. Namun, jika kita telaah konteks kontemporer kehidupan modern, yang penuh dengan ketidakpastian, disrupsi teknologi, persaingan global, dan perubahan cepat dalam hampir semua aspek kehidupan; menyerah bukanlah sekadar pilihan praktis, melainkan keputusan yang bisa menghentikan potensi diri. Karena hanya opsi menyerah, kita menjadi pecundang; maka sebaiknya kita tetap berjuang untuk menciptakan peluang menang.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perjuangan itu melelahkan. Ada momen ketika semua rencana tampak runtuh dan jalan keluar tampak tertutup rapat. Di sini, mentalitas kontemporer yang adaptif sangat dibutuhkan. Dunia saat ini menghargai mereka yang mampu bangkit dari kegagalan, karena bangkit menunjukkan kekuatan karakter, bukan sekadar kemampuan teknis. Menyerah dalam situasi seperti ini artinya mengizinkan ketakutan, rasa ragu, dan kemungkinan penilaian orang lain menguasai keputusan kita. Padahal, sejarah kontemporer penuh dengan individu maupun kelompok yang mengalami kegagalan demi kegagalan sebelum akhirnya menemukan jalan menuju keberhasilan yang berarti.
Banyak orang berpikir bahwa “menyerah” adalah tindakan rasional ketika menghadapi rintangan besar, tetapi itu adalah ilusi. Di era modern, bahkan konsep rasionalitas telah berubah. Rasional bukan berarti berhenti ketika menghadapi hambatan; rasional berarti terus mengevaluasi, belajar, dan beradaptasi. Orang-orang yang benar-benar menang dalam hidup bukanlah mereka yang paling pintar atau paling beruntung semata, tetapi mereka yang paling tangguh dalam menghadapi perubahan, yang mampu memetakan ulang strategi mereka berdasarkan pengalaman nyata. Dengan kata lain, kekalahan sejati bukanlah kegagalan dalam mencapai tujuan, tetapi ketidakmampuan untuk terus mencoba setelah gagal.
Menyerah juga sering menjadi pilihan karena tekanan sosial kontemporer yang menilai keberhasilan berdasarkan hasil instan. Media sosial, misalnya, menampilkan gambaran sukses yang sering kali tidak mencerminkan realitas proses panjang di baliknya. Ketika seseorang melihat orang lain tampak sukses dengan mudah, muncul perasaan tidak cukup kuat, tidak cukup cepat, dan akhirnya menyerah sebelum benar-benar mencoba. Padahal, narasi sukses sejati selalu diwarnai dengan jatuh-bangun, eksperimen yang gagal, dan keputusan yang diambil setelah refleksi mendalam. Keberhasilan yang tampak instan biasanya merupakan puncak gunung es dari segala usaha yang tak terlihat.
Penting untuk menanamkan dalam diri bahwa perjuangan tidak selalu berarti kita harus menolak segala bentuk risiko atau kesulitan, tetapi justru mengubah cara kita melihat risiko itu sendiri. Risiko bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan strategi yang cerdas. Dalam konteks kontemporer, peluang menang sering kali tersembunyi di balik risiko-risiko baru yang belum banyak dipahami orang. Misalnya, berkembangnya teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan ekonomi kreatif membuka banyak peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka yang hanya fokus pada kemungkinan kegagalan akan melihat teknologi semacam itu sebagai ancaman, sementara mereka yang memilih berjuang dan belajar melihatnya sebagai peluang untuk tumbuh.
Selain itu, perjuangan di era kontemporer juga mencakup kemampuan kolaboratif. Dunia kini bukan tempat bagi pejuang tunggal yang bekerja sendiri-sendiri, tetapi bagi komunitas yang saling terhubung. Ketika seseorang merasa ingin menyerah, dukungan sosial, baik dari teman, kolega, maupun komunitas professional; bisa menjadi penopang penting untuk terus maju. Menyerah dalam konteks ini berarti memutus hubungan dengan jaringan yang bisa membantu kita berkembang. Sebaliknya, terus berjuang berarti belajar bekerja bersama dan menciptakan peluang melalui sinergi.
Secara esensial, gagasan bahwa hanya ada dua pilihan, menyerah atau berjuang, mengajak kita untuk memilih bukan sekadar berdasarkan keadaan saat ini, tetapi berdasarkan visi jangka panjang tentang siapa kita dan apa yang ingin kita capai. Ketika kita memilih untuk berjuang, kita tidak hanya mengejar kemenangan sesaat, tetapi juga membentuk karakter yang mampu bertahan dalam liku kehidupan yang tak terduga. Berjuang berarti terus belajar, terus mencoba, terus berinovasi, dan terus menata ulang strategi agar selaras dengan realitas yang berubah.
Dalam konteks kontemporer, pilihan untuk berjuang adalah pilihan yang paling logis, karena ini adalah pilihan yang memungkinkan kita menggenggam peluang yang tak terhitung jumlahnya di dunia modern. Menyerah mungkin tampak seperti jalan keluar yang mudah, tetapi itu adalah jalan menuju stagnasi, ketidakpuasan, dan potensi yang tak pernah terealisasi. Jadi, meskipun perjuangan itu tidak selalu mudah, ia tetap merupakan pilihan terbaik untuk menciptakan peluang kemenangan; bukan hanya kemenangan sesaat, tetapi kemenangan yang bertahan lama dalam kehidupan kita.
Salam Waras (R-1)/
