Dibalik Tikungan Kehidupan

Refleksi

Prof. Dr. Djarwo, M. S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Minggu lalu disibukkan dengan ujian mahasiswa program magister Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL); mereka berlatarbelakang relatif sama, yaitu bidang kesehatan. Menjadi menarik selama ini mereka diantri pasien, pada program ini mereka mengantri petugas administratif akademik. Jadilah diskusi bagaimana perjalanan anak manusia di muka bumi ini, terkadang harus berhadapan dengan tingkungan, tidak jarang tanjakan dan turunan.

Kehidupan tidak pernah berjalan lurus sebagaimana yang sering diharapkan manusia. Di dalamnya terdapat tikungan yang mengubah arah, tanjakan yang menguras tenaga, turunan yang menguji kehati-hatian, serta ombak yang mengguncang keseimbangan hati. Semua itu bukanlah rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa makna. Setiap jalan yang dilalui merupakan bagian dari ketetapan Tuhan yang mengandung hikmah, meskipun tidak selalu dapat dipahami oleh akal manusia. Ada rahasia yang hanya diketahui oleh Sang Pencipta, sementara manusia diberi tugas untuk menjalani setiap fase kehidupan dengan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kepada-Nya.

Sering kali manusia berharap hidup dipenuhi kemudahan, kelancaran, dan keberhasilan tanpa hambatan. Namun, kenyataan justru memperlihatkan bahwa perjalanan hidup dipenuhi berbagai ujian yang datang silih berganti. Ada saat ketika segala usaha terasa sia-sia, doa belum menunjukkan jawaban, dan harapan seolah menjauh dari kenyataan. Pada kondisi seperti itu, manusia mudah bertanya mengapa semua harus terjadi. Padahal, tidak semua rahasia kehidupan diciptakan untuk segera dipahami. Ada kalanya Tuhan menghendaki hamba-Nya belajar menerima sebelum mengerti, bersabar sebelum memperoleh jawaban, dan tetap percaya meskipun belum melihat akhir dari setiap persoalan.

Tikungan kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua rencana manusia akan berjalan sesuai keinginannya. Jalan yang semula tampak mudah dapat berubah menjadi penuh tantangan. Keadaan yang semula membahagiakan dapat berganti menjadi ujian yang menguras air mata. Namun, justru pada setiap perubahan arah itulah manusia diajak menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kuasa mutlak atas kehidupan. Segala sesuatu berada dalam pengaturan Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Ketika manusia menerima kenyataan itu dengan lapang dada, ia akan menemukan ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada keyakinan kepada kehendak Tuhan.

Tanjakan kehidupan merupakan lambang perjuangan yang menuntut kesungguhan, kesabaran, dan keteguhan hati. Tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa pengorbanan. Tidak ada kedewasaan yang terbentuk tanpa proses yang panjang. Dalam setiap tanjakan, manusia belajar bahwa kemampuan dirinya memiliki batas. Ketika tenaga mulai melemah dan langkah terasa berat, saat itulah doa menjadi sumber kekuatan yang sesungguhnya. Kesulitan tidak selalu bertujuan untuk menjatuhkan manusia, melainkan sering kali menjadi jalan agar manusia semakin dekat kepada Tuhan dan semakin menyadari betapa besar kebutuhan dirinya kepada pertolongan-Nya.
Sebaliknya, turunan kehidupan juga mengandung ujian yang tidak kalah berat. Kemudahan, kelapangan rezeki, kesehatan, kedudukan, dan keberhasilan sering kali membuat manusia terlena apabila tidak disertai rasa syukur. Banyak orang mampu bersabar ketika menghadapi kesulitan, tetapi tidak sedikit yang lupa diri ketika memperoleh kenikmatan. Oleh karena itu, turunan kehidupan mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hati agar tetap rendah hati, tidak sombong, dan senantiasa mengingat bahwa segala nikmat hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Tuhan.

Ombak kehidupan menggambarkan berbagai gejolak yang datang tanpa diduga. Masalah keluarga, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan usaha, sakit, maupun berbagai cobaan lainnya dapat mengguncang keyakinan seseorang. Dalam situasi seperti itu, manusia sering merasa lemah dan tidak berdaya. Namun, justru pada saat hati sedang diguncang, keimanan diuji dalam bentuk yang paling nyata.
Keikhlasan bukan berarti menyerah tanpa usaha. Keikhlasan adalah menerima bahwa hasil akhir berada di tangan Tuhan setelah manusia mengerahkan ikhtiar terbaiknya.

Orang yang ikhlas tetap bekerja keras, tetap berdoa, tetap berusaha memperbaiki keadaan, tetapi tidak memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia memahami bahwa ada waktu ketika doa dikabulkan sesuai harapan, ada saat ditunda demi kebaikan yang belum diketahui, dan ada pula yang diganti dengan anugerah lain yang jauh lebih bermanfaat. Keikhlasan menjadikan hati tidak mudah kecewa karena sandaran utamanya bukan pada hasil, melainkan pada keyakinan bahwa Tuhan selalu menetapkan yang terbaik.

Bersujud tanpa pamrih merupakan puncak penghambaan seorang manusia. Ibadah tidak semata-mata dilakukan agar memperoleh kekayaan, kesehatan, atau keberhasilan duniawi. Ibadah adalah bentuk pengakuan bahwa Tuhan layak disembah dalam setiap keadaan, baik ketika hidup dipenuhi kebahagiaan maupun saat dilanda kesedihan. Ketulusan dalam bersujud menunjukkan bahwa cinta kepada Tuhan tidak bergantung pada banyaknya nikmat yang diterima, melainkan lahir dari kesadaran bahwa seluruh kehidupan berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Manusia tidak akan pernah mengetahui seluruh rahasia di balik setiap tikungan, tanjakan, turunan, dan ombak kehidupan. Banyak jawaban yang mungkin baru akan dipahami setelah waktu berlalu, bahkan ada yang tetap menjadi rahasia hingga akhir kehidupan. Namun, hal itu tidak mengurangi kewajiban manusia untuk tetap beriman, berikhtiar, bersabar, bersyukur, dan terus bersujud kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Di sanalah letak kemuliaan seorang hamba, bukan pada kemampuannya memahami seluruh takdir, melainkan pada kesediaannya menerima setiap ketetapan Ilahi dengan penuh keikhlasan. Ketika hati mampu berserah diri tanpa pamrih, manusia akan menemukan bahwa di balik setiap ujian selalu tersimpan kasih sayang Tuhan yang bekerja dengan cara-cara yang sering kali melampaui jangkauan pemikiran manusia.
Salam Waras (R-2)