Efek Moro yang Tertinggal

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Bayi memiliki refleks yang sederhana tetapi menarik. Ketika mendengar suara keras, merasakan gerakan mendadak, atau merasa kehilangan keseimbangan, kedua tangannya terbuka, tubuhnya menegang, matanya membesar, lalu perlahan kembali tenang. Itulah refleks Moro, respons alami dalam tahap awal perkembangan manusia.

Seiring pertumbuhan, sistem saraf semakin matang. Bayi mulai belajar bahwa tidak setiap suara keras adalah bahaya, tidak setiap kejutan harus ditanggapi dengan kepanikan, dan tidak setiap gangguan membutuhkan reaksi spontan. Refleks itu kemudian menghilang, digantikan kemampuan untuk berpikir, menimbang, dan memilih respons.

Tetapi dalam dunia kekuasaan, rupanya ada “efek Moro” yang dapat tertinggal jauh lebih lama. Seseorang bisa saja telah berusia lanjut, memiliki pengalaman politik puluhan tahun, menduduki jabatan tertinggi, dan dikelilingi para penasihat, tetapi tetap bereaksi terhadap setiap kejutan seolah-olah baru pertama kali mengenal dunia. Kritik sedikit dianggap serangan. Pertanyaan dianggap ancaman. Perbedaan pendapat dibaca sebagai pembangkangan. Ketika kebijakan mendapat masalah, yang muncul bukan ketenangan untuk mengevaluasi, melainkan refleks untuk membantah, menyerang, mengalihkan perhatian, atau mencari pihak lain untuk disalahkan.

Di situlah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar perilaku pribadi. Negara bukan ruang latihan bagi seseorang untuk belajar mengendalikan emosinya. Setiap keputusan pemimpin memiliki konsekuensi terhadap jutaan manusia. Harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, pendidikan, investasi, keamanan, dan masa depan masyarakat dapat ikut dipengaruhi oleh keputusan yang terkadang dibuat dalam suasana penuh tekanan. Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu bertindak cepat. Ia harus mampu mengetahui kapan harus bertindak dan kapan harus berhenti sejenak untuk berpikir.

Pemimpin yang kehilangan fokus akan mudah menjadi tawanan keadaan. Hari ini merespons kritik ekonomi, besok mengejar isu politik, lusa sibuk membantah pemberitaan, kemudian berpindah lagi kepada persoalan lain yang lebih gaduh. Semua dianggap penting. Semua harus dijawab. Semua harus segera ditangani. Akhirnya, tidak ada satu pun persoalan yang benar-benar memperoleh perhatian sampai tuntas.

Pemerintahan terlihat sibuk sepanjang waktu, tetapi kesibukan tidak selalu berarti kemajuan. Orang bisa berlari sangat cepat sambil tetap berada di tempat yang sama.
Lebih buruk lagi apabila pemimpin dikelilingi orang-orang yang hanya berani mengatakan apa yang ingin didengarnya. Informasi yang menyenangkan diperbesar, sementara kabar buruk diperkecil. Kritik dianggap sebagai serangan. Kesalahan dijelaskan sebagai akibat keadaan. Kegagalan dicarikan kambing hitam.

Dalam suasana seperti itu, kekuasaan kehilangan fungsi cermin. Pemimpin akhirnya tidak lagi melihat kenyataan sebagaimana adanya, tetapi melihat kenyataan sebagaimana orang-orang di sekitarnya ingin menampilkannya.
Padahal pengalaman panjang seharusnya melahirkan kemampuan untuk mengendalikan refleks. Semakin lama seseorang berada dalam pemerintahan, semakin banyak semestinya ia belajar bahwa tidak semua kritik adalah ancaman dan tidak semua pujian adalah kebenaran. Pengalaman seharusnya mengajarkan bahwa keputusan yang terlihat sempurna di ruang rapat dapat gagal ketika bertemu kenyataan.

Oleh karena itu, keberanian terbesar seorang pemimpin bukan selalu keberanian untuk berbicara keras atau mengambil keputusan cepat, melainkan keberanian untuk mengatakan, “Saya mungkin keliru.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sulit bagi kekuasaan. Sebab kekuasaan sering membuat orang mengira bahwa mengakui kesalahan berarti kehilangan wibawa. Akibatnya, kesalahan kecil dipertahankan sampai menjadi persoalan besar. Kebijakan yang tidak efektif terus dibela. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan narasi, narasinya yang dipertahankan, bukan kenyataannya yang diperbaiki. Data diperdebatkan, kritik diserang, sementara persoalan pokok terus berjalan seperti biasa.

“Efek Moro yang tertinggal” menjadi semacam metafora tentang kegagalan bergerak dari refleks menuju refleksi. Refleks berkata: segera jawab. Refleksi bertanya: mengapa ini terjadi? Refleks berkata: siapa yang harus disalahkan? Refleksi bertanya: apa yang harus diperbaiki? Refleks ingin mempertahankan harga diri. Refleksi ingin menyelamatkan kepentingan publik. Perbedaannya sederhana, tetapi dalam kekuasaan perbedaannya bisa menentukan arah sebuah negara.

Bayi pada akhirnya belajar bahwa tidak setiap kejutan adalah bahaya. Seorang pemimpin seharusnya belajar lebih cepat, sebab yang dipertaruhkan bukan hanya dirinya sendiri. Ketika seorang pemimpin terus-menerus terkejut oleh kritik, tekanan, perubahan keadaan, dan suara masyarakat, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana ia bereaksi. Persoalannya adalah apakah ia masih mampu mempertahankan fokus ketika dunia di sekelilingnya terus berubah.

Sebab, negara tidak membutuhkan pemimpin yang paling cepat bereaksi terhadap setiap suara. Negara membutuhkan pemimpin yang mampu tetap tenang ketika keadaan gaduh, tetap berpikir ketika semua orang berteriak, dan tetap melihat arah ketika berbagai kepentingan berusaha menarik perhatiannya ke segala penjuru. Jika kemampuan itu tidak tumbuh, maka usia boleh bertambah, pengalaman boleh menumpuk, jabatan boleh semakin tinggi, tetapi refleksnya tetap tertinggal jauh di belakang kedewasaan yang seharusnya sudah dicapai.
Salam Waras dari Jimbaran (R-1)