Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Setiap tahun siklus yang sama kembali berulang. Setelah sebulan penuh menjalani Ramadan, bulan pengendalian diri, kesabaran, dan kepekaan sosial; masyarakat memasuki Idulfitri dengan gegap gempita. Jalanan penuh, pasar sesak, rumah-rumah dibersihkan, hidangan disiapkan, dan pakaian baru dibeli. Namun di balik semarak itu, ada ironi yang jarang disadari.
Mereka yang paling sibuk menyambut Idulfitri justru sering kali bukan mereka yang menjalani proses spiritual selama Ramadan. Idulfitri pada hakikatnya adalah puncak perjalanan spiritual. Ia bukan sekadar perayaan setelah menahan lapar dan haus, tetapi simbol kembalinya manusia kepada kesucian, kepada kesadaran bahwa hidup bukan semata tentang diri sendiri. Selama Ramadan, orang diajak untuk merasakan lapar agar memahami penderitaan orang lain, menahan keinginan agar belajar mengendalikan nafsu, serta memperbanyak amal agar menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kepemilikan. Namun ketika Idulfitri tiba, semangat itu sering kali berubah arah. Yang tampak justru perlombaan konsumsi, pamer kemewahan, dan tradisi yang semakin jauh dari nilai yang diajarkan selama Ramadan.
Kesibukan yang muncul menjelang Idulfitri sering kali tidak lagi berkaitan dengan refleksi spiritual. Banyak orang lebih sibuk mempersiapkan simbol-simbol lahiriah daripada memperkuat makna batin. Rumah harus terlihat paling rapi, makanan harus berlimpah, pakaian harus baru, dan segala sesuatu harus tampak meriah. Di tengah semua itu, makna kemenangan yang seharusnya dirasakan oleh mereka yang berjuang selama Ramadan justru menjadi kabur. Seolah-olah Idulfitri berubah menjadi perayaan sosial yang berdiri sendiri, terlepas dari proses spiritual yang melahirkannya.
Ironinya lagi, dalam suasana yang seharusnya dipenuhi semangat berbagi, manusia tetap saja sibuk berhimpun untuk dirinya sendiri.
Tradisi berbagi memang ada, tetapi sering kali dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban atau menjaga citra. Bantuan diberikan, namun tidak selalu disertai kesadaran mendalam tentang ketimpangan yang terjadi. Kadang-kadang bahkan pemberian itu menjadi bagian dari ritual sosial yang lebih menonjolkan pemberi daripada memperhatikan martabat penerima. Dalam kondisi seperti ini, berbagi kehilangan ruhnya sebagai tindakan empati dan berubah menjadi formalitas yang diulang setiap tahun.
Sementara itu, bagi sebagian orang miskin, Idulfitri justru menjadi pengingat yang menyakitkan tentang keadaan mereka. Di saat orang lain merayakan kemenangan dengan pakaian baru dan meja makan penuh hidangan, mereka terpaksa meneguhkan kembali kenyataan hidup yang serba kekurangan. Tidak sedikit yang akhirnya berdiri di pinggir jalan, di pasar, bahkan di depan rumah ibadah, berharap belas kasihan dari mereka yang sedang merayakan hari kemenangan. Pemandangan ini bukan sekadar persoalan individu yang meminta-minta, tetapi cerminan dari struktur sosial yang belum mampu menghadirkan keadilan yang lebih luas.
Ada paradoks yang sulit diabaikan. Di satu sisi, Idulfitri sering disebut sebagai momen kebersamaan dan solidaritas sosial. Di sisi lain, kesenjangan justru terlihat semakin jelas. Rumah-rumah yang penuh makanan berdiri tidak jauh dari orang-orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Senyum perayaan bercampur dengan tatapan harap yang sunyi. Situasi ini menunjukkan bahwa semangat berbagi yang sering dibicarakan belum sepenuhnya menjelma menjadi sistem sosial yang benar-benar memuliakan yang lemah.
Di tingkat yang lebih luas, keadaan ini juga mencerminkan bagaimana kekuasaan dan kebijakan sering kali kehilangan arah moralnya. Mereka yang memiliki tanggung jawab untuk mendahulukan kesejahteraan masyarakat miskin kadang justru larut dalam kepentingan sendiri. Momentum hari besar yang seharusnya menjadi kesempatan memperkuat solidaritas sosial malah berubah menjadi ruang transaksi kepentingan. Komisi dibagi, proyek diatur, dan keuntungan pribadi dicari atas nama perayaan yang seharusnya sarat makna spiritual. Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai yang diajarkan selama Ramadan seolah berhenti hanya pada tingkat retorika.
Padahal, jika dimaknai dengan sungguh-sungguh, Idulfitri seharusnya menjadi titik balik. Ia adalah momen ketika manusia diingatkan bahwa keberhasilan menahan diri selama Ramadan tidak boleh berhenti pada praktik pribadi. Kesabaran, empati, dan kepedulian yang dilatih selama sebulan seharusnya meluas menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sosial. Idulfitri bukan hanya hari untuk saling memaafkan, tetapi juga hari untuk memperbaiki cara kita memandang sesama manusia.
Ketika seseorang benar-benar memahami makna puasa, ia tidak akan memandang kemiskinan sebagai pemandangan biasa yang muncul setiap tahun. Ia akan merasa terusik melihat ketimpangan yang begitu nyata. Ia akan menyadari bahwa kemenangan spiritual tidak lengkap jika masih ada orang yang terpaksa mengulurkan tangan untuk sekadar bertahan hidup. Dalam kesadaran itu, berbagi tidak lagi menjadi kewajiban musiman, tetapi menjadi sikap hidup yang terus menerus.
Pada akhirnya, Idulfitri bukan sekadar perayaan yang datang setelah Ramadan. Ia adalah cermin yang memperlihatkan sejauh mana manusia benar-benar belajar dari proses yang telah dijalani. Jika setelah sebulan menahan diri manusia masih terjebak dalam keserakahan, masih menutup mata terhadap penderitaan orang lain, dan masih menggunakan momentum suci untuk kepentingan pribadi, maka kemenangan yang dirayakan mungkin hanya bersifat simbolik.
Lebaran seharusnya bukan hari ketika manusia paling sibuk menunjukkan apa yang dimiliki, melainkan hari ketika manusia paling tulus menyadari bahwa hidup tidak bisa dijalani sendirian. Tanpa kesadaran itu, setiap tahun kita mungkin tetap merayakan Idulfitri dengan meriah, tetapi makna yang sesungguhnya akan terus terasa semakin jauh bahkan hampa.
Selamat Idulfitri (R-1)
