PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Institut Teknologi Sumatera (Itera) telah memiliki inovasi hilirisasi komoditas singkong, mulai dari teknologi pengolahan singkong menjadi tepung mocaf hingga pembuatan mie singkong, yang ditargetkan akan memperkuat BUMD dan UMKM di Provinsi Lampung.
Rektor Itera, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha mengatakan, dosen-dosen dan mahasiswa Itera telah melakukan transfer teknologi tepung mocaf dan mie singkong kepada masyarakat, terutama di Desa Mekar Karya, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, yang merupakan salah satu desa binaan Itera.
“Itera akan membantu pemerintah provinsi untuk mengatasi masalah singkong yang ada, seperti harga singkong yang rendah. Kita sudah punya inovasi pembuatan tepung mocaf yang dapat meningkatkan nilai jual singkong petani. Saat ini kami sedang menyusun business plan-nya untuk nanti disampaikan kepada Bapak Gubernur sehingga bisa diterapkan di BUMD-BUMD dan UMKM-UMKM di Lampung,” kata Prof. Pugeg Aryantha dalam acara Taklimat Media, Rabu, 17 Desember 2025. Pada pertemuan dengan beberapa awak media ini, Rektor Itera memaparkan tentang capaian program Itera 2025 dan program strategis 2026.
Menurut Pugeg, inovasi pembuatan tepung mocaf yang ditemukan dosen Itera memungkinkan proses fermentasi yang lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional. Dengan menggunakan bioaktivator atau mikroba khusus, fermentasi singkong bisa 1 atau 2 hari saja, serta dengan menggunakan teknologi pengolahan inovasi Itera, harga tepung mocaf yang dihasilkan juga lebih murah.
Untuk proses pengeringan tepung mocaf akan diintegrasikan dengan Insenator 3 in 1 yang juga merupakan inovasi unggulan Itera dalam mengatasi masalah sampah, sekaligus dapat digunakan sebagai mesin pengering.
“Insenator 3 in 1 ini sudah diterapkan di IWACI (Integrated Waste and Agro Center Itera) untuk mengolah sampah, mengeringkan gabah dan membuat baglog jamur. Nah, insenator ini nanti bisa kita gunakan sebagai pengering tepung mocaf,” imbuhnya.

Inovasi komoditas singkong ini tidak hanya berhenti pada pembuatan tepung mocaf. Itera juga telah memiliki inovasi mie singkong yang berhasil menggunakan campuran 70 persen tepung mocaf dengan 30 persen tepung terigu. Inovasi tepung mocaf dan mie singkong ini juga telah dihilirisasi ke masyarakat oleh dosen dan mahasiswa Itera melalui kegiatan-kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Oleh sebab itu, Itera menggandeng pemerintah provinsi untuk mendukung penguatan bisnis, terutama pemasaran tepung mocaf dan mie singkong tersebut.
“Kami sedang membuat business plan dengan skala satu kawasan. Mengaca dari perusahaan di Lampung Tengah, itu mereka bisa mengolah 30 ton singkong satu hari untuk menghasilkan 9 ton tepung mocaf. Nanti akan kami benchmarck untuk skala BUMD, tetapi kami juga akan usulkan ke Gubernur, yang UMKM juga harus didukung dan diperbanyak sehingga lebih menyebar dan merata dengan skala awal 1 ton singkong satu hari,” kata Pugeg.
Dia menegaskan, Itera juga akan menyurati Presiden untuk menyampaikan usulan agar diterapkan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) pada produk makanan berbasis tepung, sehingga perusahaan-perusahaan besar wajib menggunakan tepung blanded dengan tepung mocaf. Ini akan mengurangi impor tepung terigu dan membantu penyerapan tepung mocaf di Indonesia sehingga dapat mengatasi masalah harga singkong yang murah dan meningkatkan kesejahteraan petani singkong.
Inovasi Budidaya Padi Lahan Kering
Selain inovasi tersebut, Itera juga memiliki inovasi budidaya padi di lahan kering untuk membantu pemerintah provinsi mengoptimalkan penggunaan lahan kering dalam mendukung ketahanan pangan Lampung. Beberapa teknologi yang diterapkan adalah budidaya padi berbasis mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air; budidaya padi berbasis pori untuk menghemat air karena air cukup diberikan ke dalam lubang pori; serta budidaya padi di paving blok yang dibawahnya telah diberi sekam setinggi 20 cm dan diberi biang kompos.
“Kita kan tahu bahwa sebagian besar lahan di Lampung ini berupa lahan kering sehingga Itera mengembangkan inovasi padi gogo dan irigasi presisi ini untuk dapat mengatasi masalah tersebut,” kata Pugeg.

Pada kesempatan ini, Rektor Itera juga menjabarkan capaian program Itera pada tahun 2025, diantaranya institusi Itera meraih predikat Akreditasi Baik Sekali dari BAN-PT, 5 Prodi meraih Akreditasi Unggul, 15 Prodi meraih Akreditasi Baik Sekali, dan 22 Prodi terakreditasi Baik. Prestasi lainnya, Itera peringkat ke-16 nasional sebagai penerima terbanyak dana penelitian BIMA dari Diktisaintek, serta ranking GreenMetric Itera naik di peringkat 12 nasional pada tahun 2025 dari peringkat 14 pada tahun sebelumnya.
Dari segi prestasi mahasiswa Itera, terdapat 83,5 persen meraih prestasi tingkat nasional, 14,6 persen prestasi internasional, dan prestasi tingkat provinsi serta kabupaten/kota 1,9 persen.
“Yang sangat membanggakan di ajang Pimnas, Itera menempati posisi ke 6 nasional. Di usia 19 tahun, Itera sudah bisa mengungguli kampus-kampus besar bahkan ITB, ini sangat membanggakan. Ajang ini menyaring ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia, dan penelitiannya didanai oleh Dikti, setelah itu, hasil penelitian disaring lagi oleh dewan juri di nasional dan mahasiswa Itera berhasil meraih meraih medali emas dan medali-medali lain sehingga berada diurutan ke 6 nasional,” ujar Pugeg.
Dia bersyukur atas capaian Itera yang luarbiasa atas kerja sama semua sivitas akademika Itera, stakeholder, dan awak media yang selama ini mendukung publikasi kegiatan tridarma dan prestasi-prestasi Itera. (RINDA/R-1)






Recent Comments