PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Lampung mencatat pertumbuhan investor pasar modal di Provinsi Lampung terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026.
Kepala Kantor Perwakilan BEI Lampung, Hendi Prayogi, mengatakan pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari investasi saham, tetapi juga dari semakin beragamnya instrumen pasar modal yang diminati masyarakat.
“Fokus kita bukan hanya saham, tetapi pasar modal. Masyarakat kita berbeda-beda, ada yang memilih saham, reksa dana dan instrumen pasar modal lainnya,” kata Hendi dalam kegiatan bersama awak media di Bandar Lampung, Jumat (25/9/2026).
Menurut Hendi, hingga Agustus 2026 jumlah investor pasar modal di Lampung telah menunjukkan peningkatan dibandingkan capaian sepanjang 2025.
Ia menyebut, sepanjang 2025 tercatat sekitar 267.908 investor baru di pasar modal Lampung. Sementara hingga Agustus 2026, jumlah investor baru telah mencapai sekitar 365 ribu, sehingga capaian tersebut sudah melampaui jumlah investor baru sepanjang tahun sebelumnya meski 2026 masih menyisakan empat bulan.
“Untuk 2026 sampai Agustus sudah sekitar 365 ribu. Jadi hampir sama bahkan sudah melampaui sepanjang 2025. Kami masih punya waktu sampai akhir tahun dan berharap pertumbuhannya bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Gen Z dan Milenial Dominasi Investor
Hendi mengungkapkan, pertumbuhan investor pasar modal Lampung saat ini banyak didorong kelompok usia muda.
Investor berusia sekitar 18 hingga 30 tahun disebut menyumbang sekitar 64 persen dari keseluruhan investor. Sementara kelompok usia 30 hingga 40 tahun berada di kisaran 24 persen.
“Yang usia 18 sampai 30 tahun itu kurang lebih sekitar 64 persen. Jadi memang Gen Z dan milenial cukup menguasai investor di Lampung,” jelasnya.
Menurut Hendi, kelompok tersebut banyak berasal dari kalangan mahasiswa, karyawan muda, hingga masyarakat yang mulai mengenal investasi sejak usia produktif.
Dari sisi pekerjaan, investor Lampung didominasi karyawan swasta, kemudian pengusaha, pelajar dan kelompok pekerjaan lainnya.
Selain pertumbuhan jumlah investor, aktivitas transaksi pasar modal di Lampung juga menunjukkan geliat positif.
Hendi menyampaikan, frekuensi transaksi investor Lampung pada Juli 2026 mencapai sekitar 197 ribu transaksi, sedangkan pada Agustus berada di kisaran 147 ribu transaksi.
“Frekuensi kita di bulan Juli itu sekitar 197 ribu transaksi, kemudian Agustus 147 ribu. Ini menunjukkan investor cukup aktif melakukan transaksi,” katanya.
BEI Lampung berharap aktivitas transaksi tersebut terus meningkat hingga akhir 2026.
Edukasi Diperluas ke Kabupaten dan Desa
Untuk memperluas literasi dan inklusi pasar modal, BEI Lampung juga terus membangun jaringan edukasi investasi di berbagai wilayah.
Saat ini terdapat 15 Galeri Investasi di perguruan tinggi, tiga Galeri Investasi di lingkungan pemerintah kabupaten/kota, delapan Galeri Investasi di desa yang tersebar di lima kabupaten/kota, serta Galeri Investasi Edukasi di lima SMA.
Hendi mengatakan, edukasi pasar modal tidak hanya difokuskan di Bandar Lampung, tetapi juga diarahkan ke seluruh wilayah Lampung.
“Wilayah kerja kami bukan hanya Bandar Lampung, tetapi seluruh 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Kami terus berupaya memberikan edukasi di berbagai wilayah,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui penyebaran investor masih lebih terkonsentrasi di Bandar Lampung dibandingkan kabupaten lainnya.
Keterbatasan sumber daya manusia, jarak dan akses informasi menjadi sejumlah tantangan dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap investasi pasar modal.
“Memang masih terlihat Bandar Lampung cukup menguasai dibandingkan kabupaten lainnya. Tetapi kita tetap berupaya melakukan edukasi karena masih ada wilayah yang belum terlalu mengenal investasi di pasar modal,” kata Hendi.
BEI Lampung juga mengajak media untuk terus berperan dalam menyebarluaskan informasi mengenai pasar modal agar masyarakat semakin memahami investasi secara benar dan dapat mengenali berbagai instrumen investasi yang tersedia.
