Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Aiii… kadang kalau duduk santai, sambil ngiruop kopi item yang pekat nian, sambil njingok kabar di TV atau di HP, spontan bae mulut ini nyeletuk“katek antanan…”
Kalimat bahasa Palembang ini sederhana, tapi rasanya dalam. Bukan sekadar “tidak ada apa-apa, tapi lebih ke arah tidak jelas, tidak beres, atau tidak bisa diharapkan banyak. Dan anehnya, makin ke sini, kalimat ini makin sering terasa cocok untuk menggambarkan kondisi negeri ini.
Di layar televisi, para pejabat bicara rapi, terstruktur, penuh istilah yang kadang kita tidak paham. Program ini, kebijakan itu, rencana besar untuk masa depan. Secara bahasa, semuanya terdengar meyakinkan. Secara konsep, tampak indah, tetapi begitu kita lihat di lapangan, sering kali rasanya tidak nyambung.
Jalan masih berlobang, pelayanan masih berbelit, harga kebutuhan pokok naik turun tanpa aba-aba. Wong kecik tetap harus berjuang dari pagi sampai petang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, pernyataan resmi bilang “situasi terkendali”. Terkendali di atas kertas, mungkin. Tapi di pasar? Ceritanya lain. Di situlah muncul refleks khas wong kito “Aiii… katek antanan nian rasonyo.”
Ini bukan sekadar keluhan, tapi bentuk kritik halus. Bahasa yang tidak meledak-ledak, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada yang tidak beres. Dalam budaya Palembang, humor dan sindiran itu sering jadi cara paling aman untuk menyampaikan keresahan. Namun kalau jujur, kondisi ini bukan semata-mata salah “yang di atas”. Kita juga terkadang ikut berkontribusi dalam menciptakan situasi yang “katek antanan”.
Misalnya, hal kecil: buang sampah sembarangan, tapi marah saat banjir datang. Tidak mau antre tapi mengeluh pelayanan lambat. Mengecam korupsi, tapi diam-diam mencari celah untuk keuntungan pribadi. Aiii… kalau sudah mak ini, kito ini nak nyalahke siapo?
Jadi, “katek antanan” ini bukan cuma label untuk pemerintah atau sistem, tapi bisa jadi cerminan dari perilaku kita sendiri. Dari atas sampai bawah, kadang sama-sama belum beres. Kalau ditambah lagi dengan fenomena zaman sekarang, media sosial, ceritanya makin lengkap. Sedikit-sedikit viral, sedikit-sedikit ribut. Banyak yang cepat berkomentar, tapi lambat memahami. Informasi belum tentu benar, tapi sudah disebar ke mana-mana. “Aiii… ini jugo kadang bikin geleng kepalak. Belum jelas duduk pekaronyo, tapi sudah heboh bae. Katek antanan nian caronyo.”
Padahal, kalau dipikir-pikir, kemajuan teknologi itu seharusnya membantu kita jadi lebih cerdas, bukan malah tambah bingung. Tetapi namanya juga manusia, kadang lebih senang yang cepat daripada yang benar. Meski begitu, ada satu hal yang menarik dari ungkapan ini. Wong Palembang bilang “katek antanan” bukan berarti sudah putus asa. Justru sebaliknya, ini adalah tanda bahwa masih ada kepedulian. Masih ada yang memperhatikan, masih ada yang berharap. Kalau benar-benar tidak peduli, orang biasanya diam. Tidak berkomentar, tidak bereaksi. Tapi selama masih ada yang nyeletuk, masih ada yang mengeluh sambil bercanda, artinya harapan itu belum hilang.
Humor menjadi semacam pelindung. Dengan humor, kita bisa menyampaikan kritik tanpa harus marah-marah. Bisa menertawakan keadaan tanpa kehilangan kesadaran bahwa ada yang perlu diperbaiki. Kalimat pendek, tapi penuh makna. Di dalamnya ada kekecewaan, ada sindiran, sekaligus ada penerimaan bahwa realitas memang belum sesuai harapan. Tapi hidup tidak bisa berhenti di situ. Kita tidak bisa terus-terusan hanya mengomentari tanpa berbuat apa-apa. Negeri ini bukan cuma milik “mereka yang di atas”, tapi juga milik kita semua.
Perubahan mungkin tidak langsung besar, tapi bisa dimulai dari hal kecil. Dari diri sendiri. Dari kebiasaan sehari-hari. Dari sikap yang lebih jujur, lebih disiplin, lebih peduli. Karena kalau kita sendiri masih “katek antanan”, sulit berharap negeri ini jadi lebih baik.
Untuk saat ini, mungkin kita masih sering mengucapkan kalimat itu. Masih sering merasa bahwa banyak hal yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi tidak apa-apa, sebab selama kalimat “katek antanan” itu masih diiringi dengan kesadaran dan keinginan untuk memperbaiki, maka itu bukan akhir dari segalanya. Itu justru awal dari perubahan. Jadi, sambil ngopi santai dan ngobrol ringan, biarlah kalimat itu tetap hidup. Bukan hanya sebagai bahan candaan, tapi juga sebagai pengingat: Bahwa negeri ini mungkin belum sempurna. Bahwa kita sendiri-pun juga masih banyak kekurangan.
Namun, selama masih ada rasa peduli, masih ada harapan. Karena kalau bukan kita yang mulai membenahi, lalu siapa lagi?. Jadi, sebelum jauh-jauh menilai negeri ini, mungkin kita perlu bertanya dulu dalam hati: “Jangan-jangan aku ini jugo masih katek antanan?”. Kalau pertanyaan itu mulai muncul, berarti langkah pertama sudah dimulai. Dan dari situlah, perubahan pelan-pelan bisa jadi kenyataan.
Salam “katek antanan” (R-2)
