Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Senja turun perlahan di halaman posko relawan. Beberapa kardus bantuan masih tersisa. Rani duduk di tangga, mengelap keringat, sementara Bima menyeduh teh hangat dari termos.
“Capek?” tanya Bima sambil menyerahkan gelas.
“Lumayan,” jawab Rani sambil tersenyum. “Tapi entah kenapa rasanya ringan.”
Bima mengangguk. “Aku juga sering begitu. Badan lelah, tapi kepala tenang.”
Rani memandang anak-anak yang masih bermain di kejauhan. “Tadi aku lihat Ibu itu. Yang rumahnya roboh. Dia senyum waktu terima selimut.”
“Ya,” kata Bima pelan. “Senang sekali melihatnya. Padahal yang kita beri sederhana.”
“Kadang aku bertanya,” lanjut Rani, “kenapa hal kecil bisa berarti besar buat mereka.”
“Karena mereka merasa tidak sendirian,” jawab Bima. “Dan mungkin itu juga yang kita rasakan.”
Rani terdiam sejenak. “Aku dulu sering mikir, kapan ya aku bisa benar-benar bahagia.”
“Sekarang gimana?” tanya Bima.
Rani tersenyum, menatap gelas tehnya. “Sekarang aku jarang mikir begitu. Aku lebih sering mikir, besok bisa bantu apa lagi.”
Bima tertawa kecil. “Lucu ya. Kita datang ke sini niat membantu, tapi malah pulang membawa sesuatu.”
“Apa?” tanya Rani.
“Rasa cukup,” jawab Bima mantap. “Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena hari ini kita berguna.”
Angin berembus pelan. Suara tawa anak-anak terdengar lagi.
Rani berdiri. “Ayo bereskan sisa kardus itu.”
Bima ikut bangkit. “Ayo. Masih ada waktu sebelum gelap.”
Mereka berjalan bersama, tanpa banyak kata, tapi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Gagasan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering kita menanyai diri sendiri “apakah aku bahagia”, melainkan dari seberapa banyak orang yang telah kita bahagiakan, mengajak manusia keluar dari pusat egonya. Dalam pandangan filsafat manusia, kebahagiaan bukan sekadar keadaan batin yang privat, melainkan peristiwa relasional: ia lahir, tumbuh, dan bermakna di antara manusia. Manusia tidak hidup sebagai pulau yang terpisah; ia hadir dalam jejaring relasi yang saling memengaruhi. Karena itu, menimbang kebahagiaan dari dampak kebaikan yang kita tebarkan menjadi cara yang lebih jujur untuk memahami makna hidup.
Pertanyaan “apakah aku bahagia” sering terjebak dalam perhitungan subjektif yang rapuh. Ia bergantung pada suasana hati, pencapaian sesaat, atau perbandingan sosial. Ketika kebahagiaan dikejar sebagai tujuan langsung, ia mudah menguap. Filsafat manusia melihat bahwa hasrat yang berpusat pada diri sendiri cenderung tidak pernah selesai; selalu ada kekurangan baru yang menuntut pemenuhan. Dalam lingkaran ini, kebahagiaan menjadi objek yang dikejar, bukan buah yang tumbuh. Akibatnya, manusia menjadi letih oleh tuntutan untuk merasa cukup, padahal standar “cukup” terus bergeser.
Sebaliknya, ketika fokus berpindah pada pertanyaan “siapa yang telah kubahagiakan”, orientasi hidup berubah. Manusia menyadari dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas kehadirannya di dunia orang lain.
Tindakan kecil seperti; mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi waktu, menepati janji, atau menolong tanpa pamrih, menjadi begitu bermakna. Kebahagiaan muncul sebagai efek samping dari tindakan bermakna, bukan sebagai target yang dipaksa. Dalam perspektif ini, kebahagiaan bersifat emergen: ia hadir ketika makna hadir.
Relasi dengan sesama menyingkapkan dimensi etis dari kebahagiaan. Kebahagiaan tidak netral; ia terikat pada pilihan-pilihan yang menghormati martabat manusia lain. Ketika seseorang membahagiakan orang lain, ia mengakui nilai intrinsik sesama sebagai tujuan, bukan alat. Pengakuan ini membangun rasa keterhubungan yang mendalam. Manusia merasakan dirinya berguna, dibutuhkan, dan berarti. Rasa berarti inilah yang menjadi fondasi kebahagiaan yang tahan lama, karena ia tidak bergantung pada pujian atau hasil instan.
Lebih jauh, kebahagiaan yang lahir dari membahagiakan orang lain membentuk karakter. Ia melatih empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Empati membuka kemampuan memahami penderitaan dan harapan orang lain; kesabaran menahan dorongan ego; kerendahan hati mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus terlihat. Dalam pembentukan karakter ini, manusia tidak hanya “merasa bahagia”, tetapi “menjadi” pribadi yang lebih utuh. Filsafat manusia memandang keutuhan sebagai keselarasan antara niat, tindakan, dan relasi. Di sinilah kebahagiaan menemukan rumahnya.
Namun, membahagiakan orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ada keseimbangan yang perlu dijaga agar kebaikan tidak berubah menjadi pengorbanan yang merusak. Filsafat manusia menekankan tanggung jawab ganda: terhadap sesama dan terhadap diri. Merawat diri memungkinkan seseorang memberi dengan tulus, bukan dari kekosongan. Dengan demikian, membahagiakan orang lain dan merawat diri bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Dalam kehidupan sosial yang sering mendorong kompetisi dan pencitraan, ukuran kebahagiaan yang berorientasi pada dampak kebaikan menawarkan jalan alternatif. Ia membebaskan manusia dari tirani perbandingan dan angka-angka yang menilai diri. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki atau dirasakan semata, tetapi dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkan. Jejak ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam hubungan yang lebih hangat dan kepercayaan yang tumbuh.
Akhirnya, kebahagiaan sebagai hasil dari membahagiakan orang lain mengembalikan manusia pada makna hidup yang sederhana namun dalam. Hidup menjadi ruang untuk berkontribusi, bukan panggung untuk pembuktian diri. Ketika seseorang berhenti bertanya apakah ia bahagia dan mulai bertanya siapa yang telah ia bahagiakan, ia menemukan paradoks yang indah: kebahagiaan justru datang ketika ia tidak lagi mengejarnya, melainkan menghidupinya melalui kebaikan yang nyata.
Salam Waras dan Membahagiakan (R-1)



Recent Comments