National Cassava Center Unila Perkuat Ekosistem Singkong Nasional

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Rachmat Pambudy, menekankan pengembangan National Cassava Center (NCC) Universitas Lampung (Unila) untuk fokus pada kegiatan riset dan inovasi komoditas singkong dalam memperkuat ekosistem singkong nasional.

“National Cassava Center diharapakan fokus kepada action riset untuk meningkatkan produktivitas dan kandungan pati singkong, penerapan teknik budidaya singkong yang baik bagi para petani, serta penguatan hilirisasi industri berbasis singkong. Semua ini hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan petani,” ujar Rachmat Pambudy, saat Peluncuran National Cassava Center di Gedung National Cassava Center Unila, Jumat, 24 Juli 2026.

Kegiatan ini dihadiri Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriani didampingi Dekan Fakultas Pertanian Kuswanta Futas Hidayat, serta jajaran pimpinan Unila lainnya. Turut hadir Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta pimpinan Sungai Budi Group bersama tim.

Rachmat Pambudy menyatakan, peluncuran National Cassava Center menjadi tonggak penting dalam pembangunan komoditas singkong nasional. Sebab, Indonesia telah menunggu lebih dari empat dekade untuk mewujudkan hadirnya sebuah pusat pengembangan singkong yang mampu menghubungkan riset, industri, pemerintah, dan petani dalam satu ekosistem.

Rachmat Pambudy mengungkapkan, sejak 1980-an, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menyebut singkong sebagai miracle tree atau pohon ajaib yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual tinggi dan berkelanjutan.

“Mengapa hari ini saya bersyukur sekali adanya National Cassava Center? Karena ketika saya baru masuk IPB tahun 1979, FAO menerbitkan buku kecil yang menyebut singkong sebagai miracle tree. Tetapi keajaibannya tidak muncul-muncul setelah 45 tahun saya menunggu, dan tampaknya yang memunculkan keajaiban singkong adalah rekan-rekan yang hadir di ruangan ini,” tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan mewujudkan National Cassava Center ini tidak hanya karena status Lampung sebagai sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan petani. Kekompakan tersebut menjadi fondasi utama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

Ia menegaskan, National Cassava Center tidak boleh berhenti sebagai pusat penelitian semata, tetapi harus menjadi pusat inovasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi petani. Potensi pengembangan singkong juga sangat luas, tidak hanya sebagai bahan baku tapioka, tetapi juga sebagai sumber pangan, pakan ternak, energi terbarukan hingga kemasan plastik ramah lingkungan.

Rachmat Pambudy berharap, ke depannya, National Cassava Center dapat berkembang menjadi International Cassava Center. Melalui dukungan riset yang kuat, jejaring internasional, dan kolaborasi yang berkelanjutan, Lampung memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan singkong dunia.

Progres Cassava Center Unila

Sementara itu, dalam paparannya, Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriani, menyampaikan, walau menjadi sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, tetapi produktivitas petani singkong di Lampung masih relatif rendah. Hal tersebut disebabkan oleh belum seragamnya kualitas bibit yang ditanam, penggunaan varietas unggul yang masih terbatas, serta inovasi hasil penelitian belum sepenuhnya sampai kepada petani.

Di sisi lain, kebutuhan industri terus meningkat, sementara tantangan perubahan iklim, efisiensi budidaya, serta daya saing produk semakin besar. Menurut Lusmeilia, kondisi ini menjadi dasar pentingnya pembentukan National Cassava Center sebagai pusat kolaborasi nasional yang menghubungkan riset, inovasi, industri, dan petani dalam satu ekosistem terpadu.

“Kehadiran National Cassava Center tidak hanya diarahkan sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai pusat transformasi pengembangan singkong Indonesia,” ujarnya.

Lusmeilia menjelaskan, National Cassava Center akan dikembangkan di lahan hibah Pemerintah Provinsi Lampung yang berada di kawasan Kota Baru, Desa Purwotani, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Tim Unila telah menyusun tujuh fokus utama NCC, yakni riset dan inovasi; konservasi plasma nutfah dan perbenihan; smart farming dan digital agriculture; pengembangan hilirisasi; pemberdayaan petani; pelatihan dan transfer teknologi; serta pengembangan kawasan edukasi (Edu-Park).

“Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi petani maupun industri,” kata Lusmeilia.

Unila juga telah menyusun tujuh program jangka pendek dan saat ini tiga program telah berjalan, yakni penetapan lima varietas unggul singkong yang menjadi fokus pengembangan di Provinsi Lampung, yaitu Kasetsart (UJ-5), Vamas-1, Daun Sembilan, Garuda, dan UJ-3 (Thailand); penyusunan Good Agricultural Practices (GAP) Cassava sebagai standar budidaya nasional; serta pembangunan demplot sebagai laboratorium lapangan untuk menguji dan mendemonstrasikan berbagai inovasi kepada petani.

Pelaksanaan demplot didukung PT. Sungai Budi Group melalui proses seleksi proposal secara kompetitif. Dari delapan proposal yang diajukan, terpilih empat proposal terbaik dari tiga institusi, yaitu Prof. Suwarto dari IPB University, Prof. Robet Asnawi dari BRIN, serta Purba Sanjaya, S.P., M.Si., dan Fitri Yelli, Ph.D., dari Universitas Lampung.

Selain itu, National Cassava Center menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, PT. Sungai Budi Group, PT. Lambang Jaya, Masyarakat Singkong Indonesia, BRIN, IPB University, serta sejumlah institusi internasional, di antaranya Thai Tapioca Starch Association, Thai Tapioca Development Institute, Kasetsart University, dan Mahidol University.

“Prioritas utama National Cassava Center bukan hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi menghasilkan solusi nyata bagi petani melalui penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, implementasi GAP, dukungan sarana produksi, hingga pengembangan hilirisasi agar nilai tambah singkong terus meningkat melalui pengolahan produk,” tegas Lusmeilia.

Perkuat Daya Saing Tapioka Lampung

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menynampaikan, peluncuran National Cassava Center bukan sekadar peresmian sebuah lembaga riset, melainkan menjadi titik awal pembangunan ekosistem yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani dalam satu tempat.

Menurutnya, lebih dari 70 persen produksi singkong nasional berasal dari Provinsi Lampung sehingga komoditas tersebut telah menjadi tanaman rakyat. Namun, selama ini petani dan industri masih berjalan sendiri-sendiri sehingga produktivitas belum berkembang secara optimal.

Di tengah persaingan dengan negara produsen tapioka seperti Thailand dan Vietnam, petani di Lampung cenderung memperluas lahan, sedangkan negara pesaing lebih berfokus pada peningkatan produktivitas.

Melalui National Cassava Center, Gubernur berharap pengembangan singkong di Lampung dapat berorientasi pada peningkatan produktivitas, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan industri sehingga mampu memperkuat daya saing singkong Indonesia di tingkat global. (R-1)