Negeri Tuli

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Salah satu tanda kemunduran sebuah bangsa bukanlah ketika ia kekurangan sumber daya, melainkan ketika ia kehilangan kemampuan untuk mendengar. Lebih parah lagi ketika nasihat yang lahir dari pengalaman, kompetensi, dan kepedulian justru disambut dengan cacian, hinaan, dan kemarahan. Pada titik itulah akal sehat mulai tersingkir, digantikan oleh fanatisme yang membutakan. Padahal si pemberi kritik lebih dulu lahir dan pengalaman dibandingkan diri yang jadi orokpun belum.

Kita sering menyaksikan fenomena yang memprihatinkan. Seorang mantan pejabat tinggi yang memiliki rekam jejak, pengalaman panjang, serta pemahaman mendalam tentang tata kelola negara menyampaikan masukan kepada pemimpin yang sedang berkuasa. Masukan tersebut tidak selalu berupa pujian. Kadang berupa kritik, peringatan, atau evaluasi terhadap kebijakan yang dianggap kurang tepat. Dalam negara yang sehat, hal seperti ini seharusnya dianggap sebagai kontribusi berharga. Kritik yang konstruktif adalah bagian dari mekanisme perbaikan. Tidak ada pemerintahan yang sempurna, sehingga masukan dari mereka yang pernah berada di posisi strategis semestinya menjadi bahan pertimbangan.

Namun sayangnya yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih mendiskusikan substansi gagasan yang disampaikan, sebagian pendukung memilih menyerang pribadi pemberi masukan. Mereka tidak menjawab argumen dengan argumen, tetapi membalasnya dengan ejekan. Mereka tidak membantah data dengan data, tetapi menggantinya dengan kemarahan dan kebencian. Seakan-akan setiap kritik adalah ancaman yang harus dimusnahkan, bukan pandangan yang perlu dipertimbangkan.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran yang berbahaya dalam kehidupan berbangsa. Kesetiaan kepada tokoh tertentu perlahan berubah menjadi kultus yang menolak segala bentuk koreksi. Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi dinilai berdasarkan isi perkataannya, melainkan berdasarkan apakah ia berada di pihak yang dianggap kawan atau lawan. Jika dianggap lawan, maka semua pendapatnya salah. Jika dianggap kawan, maka semua tindakannya benar. Logika semacam ini bukan ciri masyarakat dewasa, melainkan gejala kemunduran cara berpikir.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian orang tampak kehilangan kemampuan untuk membedakan kritik dengan kebencian. Mereka menganggap setiap masukan sebagai serangan. Padahal kritik yang lahir dari kepedulian sering kali justru menjadi bentuk cinta yang paling tulus terhadap negara. Orang yang peduli akan berani mengingatkan ketika melihat kesalahan. Sebaliknya, orang yang hanya ingin menyenangkan penguasa akan terus memuji meskipun kebijakan yang diambil membawa masalah.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin besar justru dikelilingi oleh orang-orang yang berani berbeda pendapat. Mereka memahami bahwa kekuasaan memiliki keterbatasan. Tidak ada seorang pun yang mampu melihat seluruh persoalan dari semua sudut pandang. Karena itu, kritik menjadi kebutuhan, bukan ancaman. Sebuah pemerintahan yang anti kritik lambat laun akan terjebak dalam ruang gema, tempat hanya suara yang menyenangkan yang terdengar, sementara peringatan dan kenyataan diabaikan.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas diskusi publik. Ketika ruang publik dipenuhi makian, fitnah, dan serangan personal, maka yang mati bukan hanya etika, tetapi juga nalar. Orang-orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan dan pengalaman akhirnya enggan berbicara karena khawatir menjadi sasaran perundungan. Akibatnya, ruang publik kehilangan suara-suara berkualitas dan justru dikuasai oleh mereka yang paling keras berteriak.

Kondisi ini mencerminkan penyakit sosial yang semakin mengakar, yaitu merasa paling benar dan menolak introspeksi. Sebagian orang begitu yakin dengan pendapatnya sehingga tidak lagi bersedia mendengar pandangan lain. Mereka menganggap dirinya sebagai pemilik kebenaran mutlak. Padahal dalam kehidupan demokratis, tidak ada individu atau kelompok yang memiliki monopoli atas kebenaran. Setiap gagasan harus diuji melalui dialog, argumentasi, dan keterbukaan pikiran.
Ironisnya, mereka yang paling sering menyerukan persatuan justru menjadi pihak yang paling mudah memecah belah ketika berhadapan dengan kritik. Mereka membangun tembok permusuhan terhadap siapa saja yang berbeda pandangan. Akibatnya, bangsa ini semakin sulit menemukan titik temu karena perbedaan dianggap sebagai dosa, bukan sebagai kenyataan yang harus dikelola dengan kedewasaan.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang selalu memuji pemimpinnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengoreksi dirinya sendiri. Kemajuan lahir dari keberanian untuk mengakui kekurangan, bukan dari kebiasaan menutup mata terhadap kesalahan. Jika setiap kritik dibalas dengan cacian, maka yang sesungguhnya sedang dirusak bukanlah reputasi sang pengkritik, melainkan masa depan bangsa itu sendiri.

Sudah saatnya masyarakat belajar kembali menghargai perbedaan pendapat. Mendengar bukan berarti setuju, tetapi menunjukkan kedewasaan. Menghormati kritik bukan berarti melemahkan dukungan kepada pemimpin, melainkan memperkuat kualitas pemerintahan. Sebab pemimpin yang baik membutuhkan masukan yang jujur, bukan tepuk tangan yang membius.
Ketika nasihat diperlakukan sebagai musuh dan pujian dijadikan candu, maka saat itulah sebuah bangsa sedang berjalan menuju kemunduran tanpa disadari. Dan jika keadaan ini terus dibiarkan, yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang bukan budaya berpikir, melainkan budaya memaki. Bukan tradisi berdialog, melainkan tradisi membungkam. Sebuah negeri yang semakin ramai oleh suara, tetapi semakin sepi oleh kebijaksanaan.
Salam Waras (R-1)