PORTALLNEWS.ID (Lampung Selatan) – Tim Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) mengidentifikasi fenomena benda jatuh yang terlihat di langit Lampung pada Sabtu malam, 4 April 2026, sebagai sampah antariksa (space debris) berupa sisa badan roket CZ-3B R/B milik Tiongkok. Fenomena cahaya kemerahan yang disertai dentuman itu dipastikan merupakan peristiwa masuk kembali (re-entry) objek buatan ke atmosfer Bumi.
Kepala Pusat OAIL Itera, Dr. Annisa Novia Indra Putri, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa objek CZ-3B R/B merupakan bagian dari roket Long March 3B yang sebelumnya digunakan dalam misi peluncuran satelit oleh Tiongkok pada 23 Januari 2025. Setelah menyelesaikan tugasnya, bagian roket tersebut tetap berada di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) sebelum akhirnya mengalami penurunan ketinggian akibat gaya hambat atmosfer.
“Ketika benda angkasa memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, gesekan dengan partikel udara menyebabkan suhu meningkat dan memicu proses pembakaran,” ujar Dr. Annisa.
Identifikasi sebagai sampah antariksa diperkuat oleh laporan visual dan dokumentasi masyarakat. Fenomena tersebut memiliki ciri durasi relatif panjang, kecepatan lebih lambat dibanding meteor, adanya fragmentasi cahaya yang bergerak searah, serta lintasan yang cenderung horizontal. Karakteristik ini membedakannya dari objek alami seperti meteor atau komet.
Berdasarkan basis data prediksi jatuhnya benda antariksa dari Center for Orbital and Reentry Debris Studies (CORDS) milik The Aerospace Corporation, menampilkan hasil prediksi benda jatuh secara komputasi, didapatkan 4 kandidat benda jatuh berupa sampah antariksa pada tanggal 4 April 2026 yaitu Starlink-4461 (NORAD ID 53503), Starlink-4404 (ID 53195), CZ-4B R/B (ID 67301), CZ-3B R/B (ID 62805). Ukuran yang besar membuat kemungkinan objek tersebut adalah salah satu dari CZ-4B atau CZ-3B.
Analisis lanjutan menggunakan kamera all-sky milik OAIL menunjukkan bahwa objek berada pada inklinasi/kemiringan orbit 32° – 34°. Pengerucutan objek menjadi CZ-3B karena inklinasinya orbitnya yang kecil (28,0°). Objek tersebut bukan CZ-4B karena CZ-4B mengorbit dengan orbit sun synchronous dengan inklinasi 97,3°. Dengan demikian, objek yang teramati paling sesuai dengan karakteristik CZ-3B R/B yang memiliki inklinasi orbit sekitar 28 derajat.
Annisa menambahkan, sebagian besar material dari objek yang mengalami re-entry akan terbakar habis di atmosfer. Hanya sebagian kecil fragmen yang berpotensi mencapai permukaan Bumi, dengan probabilitas sangat rendah jatuh di kawasan permukiman, mengingat sebagian besar wilayah Bumi berupa lautan.
Lebih lanjut, Annisa menyebut, fenomena masuknya kembali sampah antariksa ke atmosfer merupakan konsekuensi meningkatnya aktivitas peluncuran satelit global. Oleh karena itu, pemantauan objek di orbit terus dilakukan secara internasional guna mitigasi risiko serta penyampaian informasi dini kepada publik.
Di tingkat nasional, Indonesia dinilai perlu memperkuat sistem pemantauan keantariksaan, antara lain melalui penambahan kamera pengamat dan stasiun bumi, serta peningkatan literasi masyarakat terkait fenomena antariksa.
OAIL Kembangkan Smart All-sky Camera
Sebagai bagian dari jejaring Indonesian Sky Patrol Network (ISPN), OAIL tengah mengembangkan instrumen Smart All-sky Camera yang mampu mengidentifikasi benda jatuh antariksa secara waktu nyata. Pengembangan ini dipimpin dosen Program Studi Sains, Atmosfer dan Keplanetan Itera, Dr. Robiatul Muztaba dan melibatkan kolaborasi dengan berbagai institusi, seperti BRIN, ITB, dan anggota ISPN lainnya.
Salah satu kamera All-Sky OAIL yang telah terpasang juga berhasil merekam fenomena tersebut. Hasil pengukuran sederhana menunjukkan arah jatuh objek sekitar 30 derajat, sejalan dengan karakteristik orbit roket CZ-3B R/B.
OAIL mengimbau masyarakat untuk tetap tenang apabila menyaksikan fenomena serupa, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta melaporkan temuan benda jatuh dari langit kepada pihak berwenang. (RLS/R-1)
