Pasar Membisu, Rakyat Menjerit

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Ada pemandangan yang seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah: pasar yang biasanya ramai kini semakin sunyi, pedagang lebih banyak menunggu daripada melayani pembeli, sementara konsumen semakin berhati-hati mengeluarkan uang. Keadaan ini tidak hanya terlihat di pasar tradisional, tetapi juga merambah toko, pusat perdagangan modern, warung, kios, dan berbagai usaha kecil yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat. Barang dagangan tersedia, tetapi pembelinya tidak ada. Kalaupun ada yang datang, banyak yang hanya bertanya harga, melihat-lihat, kemudian pergi tanpa membeli. Sebagian memilih membeli dalam jumlah sedikit, sebagian menunda kebutuhan, dan sebagian lainnya terpaksa meminta kas bon atau berutang. Ini bukan sekadar persoalan pasar yang sepi, melainkan tanda bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami tekanan serius.

Pasar merupakan tempat paling jujur untuk membaca keadaan ekonomi rakyat. Angka pertumbuhan ekonomi mungkin terlihat baik, investasi mungkin terus dilaporkan meningkat, dan berbagai indikator makroekonomi dapat memberikan kesan bahwa keadaan masih terkendali. Namun rakyat tidak hidup dari angka statistik. Pedagang hidup dari pembeli, pekerja hidup dari upah, dan keluarga hidup dari pendapatan yang mereka bawa pulang. Ketika pendapatan tidak lagi cukup mengejar biaya kebutuhan, masyarakat secara otomatis mengurangi belanja. Mereka tidak berhenti membeli karena tidak membutuhkan barang, tetapi karena kemampuan membeli semakin terbatas.

Persoalan utama yang patut dicurigai adalah melemahnya daya beli. Biaya kebutuhan sehari-hari terus mengambil porsi besar dari pendapatan, sementara penghasilan banyak masyarakat tidak meningkat sebanding. Makanan, transportasi, pendidikan, tempat tinggal, energi, dan kebutuhan rumah tangga harus dibayar secara rutin. Ketika semua pengeluaran meningkat, ruang untuk belanja semakin sempit. Masyarakat kemudian memilih barang yang lebih murah, membeli lebih sedikit, menunda kebutuhan, atau menggunakan utang untuk menutup kekurangan. Jika kondisi tersebut terjadi secara luas, perdagangan pasti ikut terpukul.

Dampaknya tidak berhenti di pasar. Ketika omzet pedagang turun, pembelian kepada distributor ikut berkurang. Distributor mengurangi pesanan kepada pemasok. Produsen kemudian menekan produksi karena barang tidak terserap. Ketika produksi turun, kebutuhan tenaga kerja ikut berkurang. Pendapatan pekerja pun tertekan, lalu konsumsi kembali melemah. Terbentuklah lingkaran yang berbahaya: daya beli turun, perdagangan lesu, produksi melemah, pendapatan berkurang, dan daya beli kembali turun. Jika siklus ini dibiarkan terlalu lama, persoalan ekonomi akan semakin sulit dipulihkan.

Pada situasi seperti ini, meminta masyarakat terus berbelanja bukanlah solusi. Konsumsi tidak dapat dipaksa dengan promosi atau diskon apabila isi dompet memang semakin terbatas. Orang yang uangnya sedikit akan memilih membeli beras daripada barang sekunder, membayar listrik daripada memenuhi keinginan, dan menyimpan sebagian uang untuk menghadapi keadaan darurat. Itu bukan perilaku konsumtif yang buruk, tetapi keputusan rasional keluarga yang sedang berusaha bertahan.

Karena itu, pemerintah tidak boleh hanya merasa puas dengan angka pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan yang tidak terasa dalam pendapatan dan daya beli masyarakat harus dipertanyakan kualitasnya. Pembangunan seharusnya tidak berhenti pada gedung, jalan, investasi, dan proyek besar, tetapi harus menghasilkan pekerjaan yang layak, pendapatan yang memadai, biaya hidup yang terkendali, serta ruang yang sehat bagi usaha kecil untuk bertahan.

Rakyat kecil sebenarnya tidak meminta kemewahan. Pedagang hanya ingin dagangannya laku agar dapat membawa pulang penghasilan. Pekerja hanya ingin upah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pemilik warung hanya ingin pembeli datang tanpa harus terus memberikan utang. Keluarga biasa hanya ingin membeli kebutuhan pokok tanpa setiap hari menghitung sisa uang dengan kecemasan. Jika kebutuhan sesederhana itu semakin sulit dipenuhi, pemerintah seharusnya melihatnya sebagai persoalan ekonomi yang serius.

Lebih berbahaya lagi adalah ketika kesunyian pasar mulai dianggap normal. Pedagang terbiasa dengan omzet rendah, konsumen terbiasa menunda pembelian, dan keluarga terbiasa menutup kebutuhan dengan utang. Jika keadaan tersebut berlangsung lama, usaha kecil akan kehilangan kemampuan bertahan. Sebagian mengurangi tenaga kerja, sebagian menutup usaha, dan sebagian lainnya terjerat utang. Pekerja yang kehilangan pendapatan kemudian semakin mengurangi konsumsi, sehingga tekanan terhadap pasar semakin besar.

Pasar yang sepi sedang menyampaikan pesan yang sangat jelas: banyak masyarakat tidak lagi memiliki keleluasaan untuk membelanjakan pendapatannya. Mereka bukan tidak membutuhkan barang, bukan tidak ingin berbelanja, dan bukan tidak peduli kepada pedagang. Mereka sedang kehilangan kemampuan ekonomi. Jika pemerintah terus berbicara tentang pertumbuhan sementara rakyat berbicara tentang harga, utang, omzet, dan kebutuhan yang tidak terbeli, maka telah terjadi jurang besar antara bahasa negara dan kenyataan kehidupan masyarakat.

Ekonomi yang sehat seharusnya membuat rakyat mampu bekerja, memperoleh pendapatan, berbelanja, menjalankan usaha, dan memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Jika pasar semakin membisu sementara rakyat semakin banyak berutang untuk bertahan hidup, pemerintah tidak boleh sekadar meminta rakyat bersabar. Negara harus berani melihat kenyataan, mengakui masalah, dan mengambil tindakan nyata sebelum kesunyian pasar berubah menjadi krisis kepercayaan terhadap masa depan ekonomi.
Salam Waras (R-2)