Pemimpin Tidak Punya “Udel”

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Bahasa Jawa mengenal cara menegur tanpa harus menunjuk, mengkritik tanpa harus membentak, dan menyampaikan ketidaksukaan tanpa harus melukai muka orang yang dikritik. Di dalam kebudayaan semacam itu, kata-kata tidak selalu berdiri sendiri. Ada makna yang bersembunyi di baliknya, ada pesan yang sengaja tidak ditelanjangi, dan ada kebijaksanaan untuk membiarkan seseorang menemukan sendiri kesalahan yang sedang disindir. Itulah salah satu kekuatan sanepo. Kalimatnya lembut, tetapi maknanya dapat setajam mata pisau.

Salah satu ungkapan yang terasa sederhana namun menyimpan kritik mendalam adalah ora nduwe udel. Secara harfiah, ungkapan itu berarti tidak mempunyai udel, tidak memiliki pusar. Tentu saja, secara jasmani manusia tidak mungkin hidup tanpa pernah memiliki pusar. Karena itu, mustahil ungkapan tersebut dimaksudkan untuk menerangkan keadaan tubuh. Yang sedang dibicarakan sesungguhnya adalah perilaku manusia: seseorang yang tidak memiliki rasa malu, tidak mengenal kepantasan, dan tidak cukup memiliki kepekaan untuk menyadari bahwa tindakannya dapat melukai atau merendahkan orang lain.

Ketika ungkapan itu diarahkan kepada seorang pemimpin, maknanya menjadi semakin dalam. Pemimpin berada dalam ruang yang tidak pernah benar-benar kosong dari pandangan orang lain. Setiap ucapan diperhatikan, setiap keputusan dirasakan akibatnya, bahkan sikap kecil sekalipun dapat menjadi tanda mengenai bagaimana kekuasaan dipergunakan. Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya memiliki keberanian mengambil keputusan. Ia juga membutuhkan kemampuan untuk menahan diri, membaca keadaan, serta memahami kapan sebuah kewenangan harus digunakan dan kapan kepantasan harus menjadi batas.

Ora nduwe udel adalah sindiran terhadap hilangnya batas tersebut. Bukan karena seseorang benar-benar kehilangan pusarnya, melainkan karena ia seolah kehilangan pusat rasa di dalam dirinya. Ia dapat melihat kepentingannya sendiri dengan sangat jelas, tetapi gagal melihat perasaan orang lain. Ia mampu menghitung keuntungan sebuah keputusan, tetapi tidak menghitung luka yang mungkin ditinggalkannya. Ia mengetahui bahwa dirinya memiliki kewenangan, tetapi lupa bahwa kewenangan selalu datang bersama tanggung jawab moral.

Pada tradisi Jawa, rasa memiliki tempat yang penting. Rasa bukan sekadar perasaan, melainkan kemampuan untuk membaca situasi, memahami posisi orang lain, dan menempatkan diri secara pantas. Orang yang memiliki rasa tahu kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya diam. Ia tahu kapan harus berdiri di depan dan kapan harus memberi ruang kepada orang lain. Karena itu, pemimpin yang kehilangan rasa akan mudah terjebak pada keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dibenarkan selama berada dalam wilayah kewenangannya.

Padahal, tidak semua yang boleh dilakukan berarti pantas dilakukan. Tidak semua yang sah berarti bijaksana. Dan tidak semua keputusan yang dapat dipaksakan akan melahirkan penghormatan. Kekuasaan memiliki batas yang tidak selalu tertulis dalam peraturan. Ada batas yang hidup dalam hati nurani, kesopanan, kepatutan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ketika batas-batas itu diterobos, masyarakat mungkin tidak selalu melakukan perlawanan dengan suara keras. Dalam kebudayaan Jawa, perlawanan bahkan dapat hadir dalam bentuk kalimat pendek yang terdengar seperti gurauan: ora nduwe udel.

Justru di situlah ketajaman sanepo. Ia tidak menyerang wajah, tetapi menyentuh watak. Ia tidak menyebut seseorang tidak beretika, tetapi membuat orang yang mendengarnya bertanya apakah dirinya sedang bertindak tanpa etika. Ia tidak memukul dengan kata-kata kasar, tetapi meninggalkan sesuatu yang mengganggu pikiran. Kritik semacam ini mengandung penghormatan sekaligus peringatan. Wajah tetap dijaga, tetapi kesalahan tidak dibiarkan tanpa nama.

Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu dipuji. Pujian terlalu mudah membuat kekuasaan merasa benar. Pemimpin justru membutuhkan ruang bagi kritik, termasuk kritik yang disampaikan melalui bahasa paling halus sekalipun. Sebab di balik kritik terdapat kemungkinan untuk bercermin. Dan cermin yang paling berguna bukanlah cermin yang selalu memperlihatkan wajah tampak indah, melainkan cermin yang memperlihatkan noda yang selama ini tidak ingin dilihat.

Maka, ketika seseorang berkata bahwa seorang pemimpin ora nduwe udel, jangan terburu-buru memahaminya sebagai kelakar tentang bagian tubuh. Sanepo itu sedang berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih penting: hilangnya rasa malu, pudarnya empati, dan kaburnya batas antara kewenangan dengan kesewenang-wenangan. Udel hanyalah simbol. Yang sedang dipersoalkan adalah pusat kesadaran manusia dalam menggunakan kekuasaan.

Sebab seorang pemimpin boleh memiliki kuasa, tetapi tidak boleh kehilangan rasa. Boleh mengambil keputusan, tetapi tidak boleh kehilangan kepantasan. Boleh berdiri paling depan, tetapi tidak boleh lupa bahwa di belakangnya ada manusia-manusia yang kehidupannya ikut disentuh oleh setiap keputusan. Ketika kesadaran itu hilang, sanepo Jawa mempunyai satu kalimat pendek untuk menyampaikan kritik yang panjang: ora nduwe udel. Kata-katanya mungkin hanya beberapa suku kata, tetapi ia membawa pertanyaan yang berat tentang apakah kekuasaan masih ditemani oleh rasa kemanusiaan.
Salam Waras (R-1)