Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Pesantren satu ini agak berbeda dari yang lain. Biasanya pesantren didirikan di lereng gunung, atau perbukitan yang agak jauh dari pemukiman, tetapi pesantren ini justru dibangun di tepi laut lepas, tempatnya ada di derah yang cukup tinggi, sehingga seakan-akan menjadi pagar laut. Pemandangannya sangat indah di senja hari, dan sangat menakjubkan di pagi hari. Sore itu selepas ashar ada percakapan kecil antara Kiai dengan seorang Santri, di beranda yang ditingkahi hembusan angin laut sepoi-sepoi, dan diselingi deburan ombak; ringkas percakapan itu sebagai berikut:
“Guru,” kata seorang santri muda tadi, ketika langit mulai merunduk dan laut di kejauhan tampak seperti halaman kitab yang belum selesai dibaca. “Mengapa cakrawala selalu terlihat seperti tempat pertemuan yang kita tak akan pernah bisa gapai?”
Sang kiai menatap ke arah horison yang memudar, seakan sedang membaca sesuatu yang tak tertulis. “Karena ada hal-hal tertentu, Nak, yang diciptakan bukan untuk digapai, tetapi untuk dihayati. Cakrawala itu seperti janji yang tidak pernah selesai diucapkan.”
“Akan tetapi mengapa ia terasa begitu dekat sekaligus jauh, Guru?” tanya sang santri, suaranya ragu, seakan takut mengganggu kesunyian yang turun perlahan bersama angin dari laut. Kiai tersenyum tipis. “Begitulah hidup. Kita sering berdiri di antara dua dunia: yang kita pahami dan yang tak pernah benar-benar kita mengerti. Langit dan laut tampak bersentuhan, padahal mereka tidak. Namun manusia merasa damai saat melihatnya, seolah ada kesepakatan diam antara ketakterhinggaan di atas dan kedalaman di bawah.”
Santri itu mengangguk pelan, namun matanya masih terpaku pada garis semu yang kini hampir hilang. “Jadi, apa yang sebenarnya kita cari di sana, Guru?”. “Kita mencari diri kita sendiri,” jawab sang Kiai lirih, “Di tempat yang hanya bisa kita kunjungi lewat perenungan.”
Santri menundukkan kepala dalam-dalam seraya berkata; “Guru, jika berkenan, saya ingin sekali mendengar tausiyah tentang ini semua dari Guru, maaf Guru atas kelancangan saya”. Kiai tersenyum tipis seraya berkata “Baiklah muridku”:
Garis cakrawala yang tampak tegas itu sesungguhnya hanyalah ilusi: perbatasan yang diciptakan oleh jarak, oleh persepsi, oleh keinginan kita untuk menamai segala yang bergerak dan berubah. Namun justru pada ilusi itulah sering tersimpan kebenaran yang paling melankolis; bahwa segala yang kita kira pasti, sesungguhnya rapuh; bahwa segala yang tampak menyatu, sebenarnya hanya saling mendekat tanpa pernah benar-benar bersentuhan.
Di tempat inilah manusia sering membiarkan pikirannya berkelana. Memandang laut berarti memandang kedalaman yang tidak memiliki pusat; memandang langit berarti memandang keluasan yang tidak memiliki batas. Ketika keduanya tampak saling menyapa, kita sebenarnya sedang menyaksikan dialog antara dua ketakterhinggaan. Dan di tengah dialog itu, manusia berdiri sebagai saksi yang rapuh, yang keberadaannya hanya sekejap dibandingkan dengan rentang waktu yang dilalui ombak.
Ada keheningan tertentu yang hanya dapat lahir di tepi laut saat senja. Keheningan yang bukan berarti tidak ada suara, melainkan suara yang membaur begitu halus hingga tidak dapat dipisahkan. Debur ombak yang teratur, angin yang membawa aroma asin, serta cahaya jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu; semuanya berubah menjadi komposisi yang menenangkan sekaligus mencemaskan. Seolah alam sedang berbicara, namun dalam bahasa yang terlalu tua untuk dapat dimengerti, terlalu luas untuk dapat ditangkap oleh kata-kata.
Dalam keheningan semacam itu, manusia sering merasa kecil. Bukan kecil dalam arti tidak penting, tetapi kecil seperti titik yang menyadari dirinya bukan pusat dari apa pun. Laut mengajarkan bahwa kedalaman tidak memerlukan penjelasan; langit mengajarkan bahwa keluasan tidak membutuhkan alasan untuk tetap terbuka. Dan manusia di antaranya belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan kepastian, melainkan kemungkinan-kemungkinan untuk hanyut, untuk tenggelam, untuk terbang, atau bahkan untuk tetap terdiam di batas antara keberanian dan ketakutan.
Cakrawala menjadi metafora bagi batas-batas batin yang terus bergerak. Seperti garis yang terlihat jelas tetapi tak pernah dapat digapai, banyak hal dalam hidup tetap berada di kejauhan meskipun kita menghabiskan seluruh energi untuk mendekatinya. Kita mengejar ketenangan, tetapi ia bergeser setiap kali kita merasa hampir menyentuhnya. Kita mencari makna, tetapi ia sering kali menampakkan diri justru ketika kita berhenti memaksanya hadir. Seperti langit dan laut yang tak pernah menyatu, manusia dan harapannya sering saling mendekat tanpa benar-benar bertemu.
Namun di sanalah letak keindahannya. Ketidakpastian melahirkan kerinduan; kerinduan melahirkan gerak; dan gerak adalah bukti bahwa kita masih hidup.
Ada kesedihan samar yang muncul dari kesadaran bahwa apa pun yang kita cintai pada akhirnya akan berubah. Tetapi justru karena itulah cinta dapat terasa begitu mendalam. Melihat langit berubah warna dan laut berubah suasana mengingatkan kita bahwa segala yang sementara memiliki tempat khusus di hati: bukan karena ia kekal, tetapi karena ia menghilang.
Ketika malam mulai turun, cakrawala menghilang, dan batas antara langit dan laut larut ke dalam kegelapan. Kita tidak lagi dapat membedakan mana yang di atas dan mana yang di bawah; mana yang melindungi dan mana yang menelan. Pada saat itu, manusia belajar bahwa kejelasan bukanlah satu-satunya bentuk kebenaran. Ada kebenaran yang justru hadir lewat ketidakjelasan kebenaran; bahwa hidup bukanlah peta yang sudah lengkap, melainkan perjalanan yang membiarkan kita tersesat untuk sesaat agar dapat menemukan arah yang lebih jujur.
Di tempat langit dan laut saling menyapa itulah manusia memahami dirinya: makhluk yang dibentuk oleh jarak, disatukan oleh kerinduan, dan dijaga oleh kesadaran bahwa segala yang paling berarti justru berasal dari hal-hal yang tidak dapat digenggam sepenuhnya. Dan dalam kesadaran itulah melankoli menemukan rumahnya; senyap, dalam, namun penuh cahaya yang perlahan menyelinap di antara gelombang. Dan, itulah sejatinya kehidupan, tidak ada yang abadi, yang ada hanya kesementaraan. “Semoga kau paham nak atas kefanaan ini, karena bisa jadi wajah semanis senja memberi luka sedalam samudra ” tutup Kiai dalam tauziahnya.
Salam Waras (R-1)

Recent Comments