• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Tuesday, February 24, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Puasa Yang Sesungguhnya

Refleksi

by portall news
February 24, 2026
in Headline
Selamat Tinggal Bromo (Jejak Sunyi di Lautan Pasir)

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

124
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) -Senja turun perlahan di halaman Pesantren. Angin menggerakkan daun-daun pohon Mangga, sementara para santri baru saja selesai mengaji. Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai yang memegang tasbih dengan tenang.
“Yai,” tanya santri itu pelan, “mengapa banyak orang mampu berpuasa menahan lapar dan dahaga, tetapi tetap mudah marah dan saling menyakiti?”
Kiai tersenyum tipis. “Karena menahan lapar itu urusan perut, Nak. Menahan amarah itu urusan hati. Perut yang kosong terasa jelas, tetapi hati yang keruh sering tak disadari.”
Santri itu mengangguk, lalu kembali bertanya, “Apakah itu yang disebut puasa batin, Yai?”

“Benar,” jawab kiai. “Puasa batin bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Ia adalah latihan menjaga lisan agar tidak melukai, menjaga pikiran agar tidak berburuk sangka, dan menjaga niat agar tetap lurus. Orang bisa saja kuat menahan haus, tetapi belum tentu kuat menahan ego.”

Baca Juga

Inflasi Pangan Naik, Kemendagri Minta Daerah Turun Tangan

Jelang Lebaran, Jalan Provinsi Lampung Dipastikan Mulus

Polda Lampung Perketat Patroli Malam Cegah Balap Liar

Santri terdiam, memandangi lantai kayu yang mulai redup oleh cahaya senja. “Mengapa terasa lebih sulit, Yai?”
“Karena yang dilawan bukan sekadar rasa lapar,” kata kiai lembut, “melainkan diri sendiri. Nafsu ingin dipuji, ingin menang, ingin selalu benar. Itu tidak terlihat, tetapi pengaruhnya besar.”
Adzan magrib berkumandang dari menara. Kiai berdiri perlahan. “Ingatlah, Nak, puasa lahir mengosongkan perut untuk beberapa jam. Puasa batin mengosongkan kesombongan untuk seumur hidup.”

Santri itu menunduk hormat, hatinya terasa lebih penuh daripada sebelumnya.
Hampir setiap orang bisa menahan lapar dan dahaga. Tubuh memiliki kemampuan beradaptasi; perut yang kosong dapat dilatih untuk bersabar, tenggorokan yang kering dapat dikuatkan untuk bertahan hingga waktu berbuka. Puasa lahiriah adalah disiplin yang kasatmata, terukur oleh jam dan ditandai oleh terbit serta terbenamnya matahari. Ia memiliki batas yang jelas: kapan harus berhenti, kapan boleh kembali menikmati. Karena itu, banyak orang sanggup melakukannya. Ia adalah latihan fisik yang, meskipun tidak mudah, tetap berada dalam jangkauan kehendak.

Namun puasa batin tidak sesederhana menahan makan dan minum. Ia tidak diukur oleh waktu, tidak ditandai oleh perubahan cahaya, dan tidak diumumkan oleh suara apa pun. Puasa batin berlangsung di ruang yang sunyi, di wilayah terdalam dari diri manusia; di mana keinginan, amarah, iri hati, kesombongan, dan berbagai dorongan lain saling berkelindan. Jika puasa lahiriah meminta tubuh untuk berhenti sejenak, puasa batin menuntut jiwa untuk jujur dan sadar tanpa henti.

Menahan lapar adalah perkara fisik; menahan ego adalah perkara eksistensial. Lapar memiliki batas biologis, sedangkan ego seolah tidak pernah kenyang. Ia selalu ingin diakui, dipuji, dibenarkan. Ia ingin menjadi pusat perhatian, ingin menang sendiri, ingin diprioritaskan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang bisa saja berpuasa makan dan minum, tetapi tetap memelihara amarah dalam hati, tetap menyebarkan kata-kata yang menyakitkan, tetap memandang rendah sesama. Di sinilah perbedaan antara puasa sebagai ritual dan puasa sebagai kesadaran menjadi begitu nyata.

Puasa batin adalah kemampuan untuk menahan diri dari reaksi yang berlebihan. Ketika dihina, ia memilih diam yang bermartabat. Ketika dipuji, ia memilih rendah hati. Ketika tergoda untuk berbuat curang, ia memilih jujur meskipun tidak ada yang melihat. Puasa batin bukan tentang menahan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, melainkan menahan sesuatu yang keluar dari hati dan pikiran. Ia mengendalikan kata-kata sebelum terucap, menimbang niat sebelum menjadi tindakan, dan membersihkan motivasi sebelum menjelma keputusan.

Mengapa tidak semua orang mampu melakukannya? Karena puasa batin menuntut kesadaran yang lebih dalam daripada sekadar kepatuhan pada aturan. Ia memerlukan refleksi, keberanian untuk melihat kekurangan diri, dan kerendahan hati untuk mengakuinya. Tidak ada sorak-sorai ketika seseorang berhasil menahan amarahnya. Tidak ada pujian ketika ia menolak godaan untuk menyombongkan diri. Puasa batin sering kali sunyi dan tidak terlihat. Ia hanya diketahui oleh diri sendiri dan oleh Yang Maha Mengetahui.
Selain itu, puasa batin menantang kenyamanan. Menahan makan dan minum memang menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi ketidaknyamanan itu jelas sebabnya dan jelas pula akhirnya.

Sementara itu, menahan dendam atau memaafkan kesalahan orang lain bisa terasa jauh lebih berat dan berkepanjangan. Ia menyentuh harga diri dan luka batin. Ia meminta kita untuk melepaskan beban yang justru sering kita peluk erat-erat.

Puasa batin juga berarti menata pikiran di tengah derasnya arus informasi dan godaan dunia. Di zaman ketika segala sesuatu bergerak cepat dan serba instan, manusia mudah terjebak dalam keinginan untuk selalu memiliki, selalu tahu, selalu terlihat. Puasa batin mengajarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi, tidak semua keinginan perlu dipenuhi, dan tidak semua pendapat perlu diumbar. Dalam jeda itulah, manusia belajar mengenali dirinya sendiri.

Ketika seseorang menjalani puasa batin, ia sedang melatih kebebasan sejati. Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan dari belenggu nafsu dan dorongan yang membutakan. Ia tidak lagi mudah diprovokasi, tidak gampang terseret arus kebencian, dan tidak cepat silau oleh pujian. Ia menjadi lebih tenang, lebih jernih, dan lebih arif dalam melihat persoalan. Dalam ketenangan itu, ia menemukan ruang untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, puasa batin adalah perjalanan panjang yang tidak dibatasi oleh kalender. Ia tidak selesai ketika hari raya tiba, tidak berakhir ketika hidangan kembali tersaji. Ia adalah komitmen untuk terus membersihkan hati, meluruskan niat, dan mengendalikan diri dalam setiap situasi. Ia adalah latihan seumur hidup untuk menjadi manusia yang lebih utuh.

Hampir setiap orang mampu menahan lapar dan dahaga untuk beberapa waktu. Tetapi tidak semua orang bersedia menahan kesombongan, kemarahan, dan keinginan untuk selalu menang. Di situlah letak tantangan sekaligus kemuliaannya. Puasa batin adalah hening yang mengenyangkan; ia mungkin tidak mengisi perut, tetapi ia mengisi jiwa dengan kedamaian. Dan ketika jiwa kenyang oleh kedamaian, tubuh pun belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang dikonsumsi, melainkan dari apa yang mampu dikendalikan.
Salam Ramadan (R-1)

Previous Post

Inflasi Pangan Naik, Kemendagri Minta Daerah Turun Tangan

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Puasa Yang Sesungguhnya
  • Inflasi Pangan Naik, Kemendagri Minta Daerah Turun Tangan
  • Jelang Lebaran, Jalan Provinsi Lampung Dipastikan Mulus
  • Polda Lampung Perketat Patroli Malam Cegah Balap Liar
  • Eva Dwiana Buka Safari Ramadan, Tiga Jamaah Dapat Umroh

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist