Oleh: Sudjarwo , Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Pada budaya Jawa dikenal istilah “Kakang kawah, adi ari-ari, dulur papat kelimo pancer” bukan sekadar rangkai tentang kelahiran manusia. Di dalamnya tersimpan kesadaran mendalam bahwa manusia hadir ke dunia melalui sebuah relasi. Sebelum mengenal nama, jabatan, harta, bahkan identitas sosial, manusia telah ditemani oleh sesuatu yang berada di luar dirinya. Ia lahir bersama alam, bersama keluarga, bersama lingkungan, dan kelak tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Pancer adalah diri manusia yang berdiri di tengah, sementara dulur papat mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah hanya tentang “aku”. Ada yang menyertai, memengaruhi, menjaga, sekaligus menuntut tanggung jawab dari keberadaan kita.
Ajaran tersebut terasa semakin relevan ketika melihat kondisi negeri saat ini. Kehidupan modern membuat manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk terhubung, tetapi pada saat yang sama semakin mudah merasa sendirian. Teknologi memperpendek jarak, namun tidak selalu mempererat hubungan. Media sosial memungkinkan seseorang berbicara kepada ribuan orang, tetapi percakapan yang sungguh-sungguh mendalam justru semakin langka. Perbedaan pilihan, kepentingan, kelas sosial, bahkan cara pandang sering berubah menjadi alasan untuk saling menjauh. Kita hidup di tengah masyarakat yang sangat terkoneksi secara digital, tetapi belum tentu terkoneksi secara batiniah, bahkan kemanusiaan.
Pada situasi seperti ini, konsep dulur papat kelimo pancer menawarkan cara pandang yang penting: manusia bukan pusat dari segala sesuatu, melainkan pusat kesadaran yang harus mampu menjaga keseimbangan dengan yang mengelilinginya. Pancer bukan berarti menjadi penguasa atas alam dan manusia lain. Pancer adalah kesadaran untuk memahami posisi diri di tengah jejaring kehidupan. Apa yang dilakukan seseorang selalu memiliki akibat bagi orang lain dan bagi lingkungan. Ketika kesadaran semacam ini hilang, kepentingan pribadi mudah berubah menjadi keserakahan, kekuasaan menjadi dominasi, dan kebebasan menjadi pembenaran untuk mengabaikan kepentingan bersama.
Kondisi lingkungan menjadi salah satu contoh paling nyata. Banjir, kekeringan, polusi, kerusakan hutan, dan persoalan sampah bukan hanya persoalan teknis yang dapat diselesaikan dengan pembangunan infrastruktur. Di baliknya terdapat persoalan cara manusia memandang alam. Jika alam hanya dianggap sebagai sumber daya yang boleh dieksploitasi demi keuntungan, maka keseimbangan akan terus terganggu. Sebaliknya, jika manusia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam, maka menjaga sungai, hutan, tanah, dan udara bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan itu sendiri.
Harmoni juga memiliki makna sosial yang sangat penting. Negeri ini dibangun dari keberagaman. Perbedaan bahasa, budaya, agama, pilihan hidup, dan latar belakang semestinya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk membangun tembok permusuhan. Namun, ruang publik hari ini sering dipenuhi suara yang ingin menang sendiri. Perdebatan tidak lagi selalu bertujuan menemukan kebenaran atau jalan keluar, tetapi sekadar membuktikan bahwa kelompok sendiri paling benar. Dalam keadaan seperti itu, ajaran tentang sedulur mengingatkan bahwa orang lain bukan ancaman yang harus selalu dikalahkan. Mereka adalah bagian dari ruang kehidupan yang sama.
Harmoni bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Keselarasan justru membutuhkan kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.
Seperti sebuah gamelan yang menghasilkan suara indah bukan karena seluruh instrumennya berbunyi sama, melainkan karena masing-masing memiliki peran dan mampu bermain dalam irama yang selaras. Masyarakat pun demikian. Perbedaan dapat menjadi energi kehidupan apabila manusia memiliki kesadaran bahwa kebebasan dirinya dibatasi oleh hak dan martabat orang lain.
Di tengah tekanan ekonomi, perubahan teknologi, ketidakpastian pekerjaan, serta derasnya informasi, manusia membutuhkan pegangan yang membuatnya tidak kehilangan arah. Pancer mengajarkan pentingnya kembali kepada kesadaran diri, tetapi kesadaran itu tidak berhenti pada kepentingan pribadi. Diri harus mampu melihat hubungan antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan dengan kehidupan yang lebih luas. Menjadi pancer berarti berani bertanggung jawab atas posisi kita di tengah keluarga, masyarakat, alam, dan kehidupan bersama.
Karena itu, ajaran Jawa tersebut tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu. Ia dapat dibaca sebagai etika kehidupan yang sangat kontekstual. Ketika dunia semakin individualistis, ia mengajarkan persaudaraan. Ketika manusia semakin rakus terhadap alam, ia mengajarkan keselarasan. Ketika perbedaan mudah menjadi konflik, ia mengajarkan penghormatan. Ketika manusia sibuk mengejar dirinya sendiri, ia mengingatkan bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar berdiri sendirian.
Mungkin persoalan terbesar negeri ini bukan semata-mata kurangnya kecanggihan, melainkan semakin tipisnya kesadaran bahwa kita adalah sedulur. Kita dapat berbeda pilihan, berbeda keyakinan, berbeda kepentingan, bahkan berbeda jalan hidup, tetapi tetap berbagi tanah, udara, air, ruang sosial, dan masa depan yang sama. Kakang kawah, adi ari-ari, dulur papat kelimo pancer mengajak manusia kembali memahami satu hal sederhana namun mendasar: hidup bukan tentang menjadi yang paling tinggi di antara yang lain, melainkan menemukan tempat yang tepat di tengah keseluruhan kehidupan. Ketika kesadaran itu tumbuh, harmoni bukan lagi sekadar semboyan, tetapi menjadi cara manusia memperlakukan dirinya, sesamanya, dan alam yang menopang kehidupannya.
Salam Waras (R-1)
