Selamat Tinggal Bromo (Jejak Sunyi di Lautan Pasir)

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID Mesin Jeep offroad meraung pelan saat mulai bergerak meninggalkan lautan pasir. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung rendah. Empat orang diantara kami duduk berhadap hadapan di dalam kabin, penulis di depan mendampingi driver; tubuh sedikit terhentak mengikuti jalur turunan ekstrim menuju lembah.
“Cepat sekali rasanya,” ujar sang istri sambil merapatkan jaket. “Tadi berangkat masih gelap, sekarang sudah pulang.”
“Sindrom enggan berpisah,” canda salah satu dokter. “Resepnya cuma satu: kembali lagi.”

Tawa kecil mengisi ruang sempit itu.
“Saya masih terbayang savananya,” kata apoteker, menoleh ke luar. “kecoklatan dan tenang sekali.”
“Iya,” sahut dokter lainnya. “Di sana rasanya kita kecil sekali.”
“Bukan kecil,” jawab sang istri pelan. “Lebih tepatnya… sadar diri.” Jeep terguncang lebih keras saat melewati turunan. “Pegangan,” kataku spontan. Semua tertawa, tapi tangan tetap mencengkeram kursi.

“Lucu ya,” ujar seorang dokter, “sehari-hari kita menyuruh orang tenang. Tadi justru kita yang belajar tenang.”
“Gunung ini seperti ruang konsultasi besar,” kata penulis. “Bedanya, yang berbicara adalah keheningan.”
Hening sejenak. Hanya suara mesin dan angin.

“Kalau ditanya apa yang dibawa pulang?” tanya apoteker.
“Rasa cukup,” jawab sang istri.
“Kerendahan hati,” tambah dokter.
Penulis memandang jejak roda yang perlahan hilang tertiup angin. “Keheningan,” ucap penulis spontan. “Karena di sana kita benar-benar mendengar diri sendiri.”

Jeep terus melaju turun, meninggalkan Bromo di belakang; dan membawa kami kembali ke hotel tempat menginap.
Pendakian Bromo telah selesai. Langkah-langkah yang kemarin terasa berat kini berubah menjadi gema kenangan yang terus berulang di dalam ingatan. Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan, seperti butiran pasir yang tak mungkin dihitung satu per satu. Gunung itu berdiri sebagaimana adanya; diam, kokoh, dan tak pernah benar-benar peduli pada siapa yang datang dan pergi. Namun bagi kami, ia bukan sekadar bentang alam yang indah. Ia adalah ruang perenungan, tempat tubuh diuji dan jiwa diajak bercermin.

Lautan pasir Bromo membentang seperti samudra yang membeku. Tanpa ombak, tanpa air, namun menghadirkan rasa luas yang sama tak bertepinya. Angin berhembus membawa butiran pasir menari tipis di permukaan tanah. Di tempat itu, manusia tampak begitu kecil. Setiap orang hanyalah siluet yang bergerak perlahan di antara bentangan alam purba. Kesadaran itu tidak mengecilkan hati, justru menumbuhkan kerendahan. Ada keindahan dalam menyadari bahwa kita bukan pusat dari segalanya.

Ketika cahaya pertama muncul di ufuk timur, warna langit berubah pelan-pelan. Gelap yang semula pekat beralih menjadi jingga lembut, lalu keemasan yang hangat. Sinar matahari menyentuh hamparan pasir dan savana, memantulkan cahaya yang membuat semuanya tampak hidup. Rumput-rumput liar di savana bergoyang pelan diterpa angin pagi, membentuk gelombang kecoklatan yang memanjakan mata. Di sanalah rasa takjub tumbuh tanpa diminta. Alam berbicara dalam bahasa yang sederhana, namun mampu menyentuh relung terdalam jiwa.

Hamparan savana menghadirkan suasana berbeda. Jika lautan pasir terasa sunyi dan gersang, savana menawarkan kesejukan dan harapan. Warna coklat rumput yang mengering membentang luas seperti pengingat bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, bahkan di tanah yang keras sekalipun. Berjalan di antara padang rumput itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang perlu dibuktikan. Hanya ada langkah yang mengalir mengikuti kontur bumi.
Perjalanan ini bukan tentang mencapai titik tertinggi, melainkan tentang mengalami setiap detiknya. Di tengah bentangan alam yang luas, pikiran yang semula riuh perlahan menjadi tenang.

Beban-beban yang selama ini terasa berat mendadak mengecil, seolah terserap oleh angin gunung. Ada ruang untuk merenung, untuk mengingat kembali tujuan, dan untuk menyadari betapa berharganya setiap proses.
Lautan pasir mengajarkan keteguhan. Ia tampak kosong, namun menyimpan kekuatan dalam diamnya. Savana mengajarkan harapan. Ia tumbuh tanpa banyak suara, tetapi menghadirkan kehidupan yang nyata. Di antara keduanya, kami belajar tentang keseimbangan. Hidup tidak selalu hijau dan subur, kadang ia kering dan tandus. Namun keduanya adalah bagian dari perjalanan yang utuh.

Jejak kaki di pasir mudah terhapus angin. Begitu pula manusia dalam arus waktu. Kesadaran itu tidak membawa kesedihan, justru menghadirkan kelegaan. Jika segala sesuatu akan berlalu, maka yang terpenting adalah bagaimana menjalaninya dengan sepenuh hati. Bromo menjadi cermin yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan sederhana: apa arti perjalanan, apa arti kebersamaan, dan apa arti pulang.

Saat tiba waktunya meninggalkan kawasan itu, ada rasa enggan yang tak terucap. Setiap sudut seperti menyimpan cerita: dingin yang menggigit di awal perjalanan, tawa yang lepas tanpa beban, dan diam yang sarat makna di tengah luasnya savana. Namun perpisahan adalah bagian dari setiap perjalanan. Tak ada pendakian tanpa langkah kembali.

Selamat tinggal, Bromo, bukanlah ucapan akhir, melainkan jeda. Gunung itu akan tetap berdiri, lautan pasirnya tetap membentang, dan savananya tetap bergoyang diterpa angin. Ia akan terus menjadi tempat kontemplasi kehidupan, ruang di mana manusia belajar mendengarkan suara hatinya sendiri. Kenangan tentangnya akan tinggal dalam ingatan: tentang langit yang perlahan memerah, tentang hamparan pasir yang tak bertepi, dan tentang savana yang menenangkan.

Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan. Dan di antara kenangan itu, tersimpan rasa syukur yang sederhana; atas sunyi yang menguatkan, atas luas yang menyadarkan, dan atas perjalanan yang memperkaya makna kehidupan.
Selamat Tinggal Bromo. (R-1)