Setelah Seragam Dilipat

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di sebuah teras rumah tua yang menghadap taman, dua pria sepuh pensiunan jenderal duduk berhadapan. Seragam telah lama tergantung rapi di lemari, digantikan kemeja sederhana dan secangkir kopi yang mulai mendingin.
Salah seorang mantan jenderal yang lebih senior membuka percakapan; “Sunyi juga ya, Mil,” ujar Jendral Komar sambil menatap daun-daun yang gugur perlahan. “Dulu, satu langkah kita diikuti puluhan orang. Sekarang, suara burung lebih sering menyapa.”
Jendral Kamil, sebagai yang lebih junior menjawab sambil tersenyum tipis. “Sunyi, tapi jujur. Dulu ramainya bukan karena kita, tapi karena jabatan.”

Komar mengangguk pelan. “Aku masih ingat, saat pertama kali masuk ruangan rapat, semua berdiri. Sekarang, masuk ke kantor lama saja, prajurit jaganya sempat bertanya aku mau ke siapa.”
Kamil tertawa pendek, lalu terdiam dan sejurus kemudian berkata: “Itu bukan hinaan, jenderal. Itu pengingat. Bahwa dunia menghormati kursi, bukan orang yang duduk di atasnya.”
Komar menghela napas, dan berguman, “Masalahnya, saat kita duduk di kursi itu, mereka memuji seolah kita tak tergantikan. Begitu turun, seakan jasa kita ikut turun.”
“Kau kecewa, jenderal?” tanya jenderal Kamil lirih.
“Bukan. Lebih ke… heran,” jawab jenderal Komar, seraya menghirup kopinya yang sudah mulai dingin, seraya berkata; “Bagaimana pujian bisa secepat itu berubah jadi lupa.”

Jenderal Kamil tidak kalah seru, beliau menukas: “Aku belajar satu hal setelah pensiun. Penghormatan sejati bukan yang diucapkan keras-keras, tapi yang tetap ada meski kita tak lagi punya kuasa.”
Jenderal Komar menoleh sambil berguman. “Dan kalau itu tak ada?”.
“Berarti kita harus berdamai,” jawab Jenderal Kamil tenang, seraya menambahkan. “Bahwa yang kita lakukan dulu cukup untuk diri kita sendiri, bukan untuk ingatan dunia.”

Angin berhembus pelan. Dua jenderal pensiunan itu terdiam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena akhirnya mengerti: tidak semua jasa ditakdirkan untuk dikenang, dan tidak semua akhir harus dirayakan. Datang disambut, pergi dihina. Berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Begitulah dunia. Kalimat ini terasa pahit, tetapi jujur menggambarkan irama kehidupan manusia yang kerap berulang dari zaman ke zaman.

Dunia sering kali bersikap ramah di awal, penuh senyum dan harapan, namun berubah dingin ketika kepentingan telah terpenuhi. Manusia dipuja saat dibutuhkan, lalu dilupakan bahkan direndahkan ketika perannya dianggap selesai. Fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin watak sosial yang masih terus hidup hingga hari ini.

Pada awal kehadiran seseorang, dunia cenderung membuka pintu dengan tangan terbuka. Sambutan hangat, sanjungan, dan pujian mengalir deras. Kehadiran dianggap membawa manfaat, solusi, atau keuntungan. Nilai seseorang diukur dari apa yang bisa ia berikan. Selama kontribusi itu nyata dan menguntungkan, ia ditempatkan di posisi terhormat. Namun, sambutan tersebut sering kali tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari harapan akan hasil. Ketika harapan itu terpenuhi, pujian pun menjadi mata uang sosial yang murah dan mudah dibagikan.

Masalah muncul ketika waktu berjalan dan keadaan berubah. Dunia yang dulu memuji mulai menuntut lebih, tanpa melihat batas kemampuan manusia. Kesalahan kecil diperbesar, kelelahan dianggap kelemahan, dan penurunan peran dipersepsikan sebagai ketidakbergunaan. Saat seseorang tak lagi mampu memberi seperti sebelumnya, nada dunia pun berubah. Sambutan hangat berganti sikap acuh, bahkan hinaan. Seolah-olah jasa yang pernah diberikan tak pernah ada, lenyap ditelan ingatan kolektif yang selektif.

Ironisnya, manusia sering kali ikut melanggengkan pola ini. Kita terbiasa mengingat seseorang dari kegunaannya saat ini, bukan dari perjalanan dan pengorbanan yang pernah ia lalui. Penghargaan menjadi bersyarat: ada selama manfaat terasa, hilang ketika manfaat menguap. Dalam logika seperti ini, nilai manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi dianggap rusak atau usang, manusia diperlakukan layaknya barang yang bisa dibuang.

Rasa sakit terbesar bukanlah saat tidak lagi dipuji, melainkan saat jasa masa lalu dihapus begitu saja. Pengabdian yang dulu diagungkan berubah menjadi catatan yang dianggap tidak relevan. Inilah luka yang sunyi, karena sering kali tak terlihat dan tak diakui. Banyak orang memilih diam, menelan kekecewaan, dan melanjutkan hidup dengan sisa harga diri yang masih mereka genggam. Dunia mungkin tak peduli, tetapi luka itu nyata.
Namun, di balik getirnya kenyataan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik. Dunia yang mudah memuji dan menghina mengajarkan bahwa menggantungkan harga diri pada penilaian luar adalah fondasi yang rapuh. Pujian bersifat sementara, hinaan pun demikian. Keduanya datang dan pergi mengikuti kepentingan. Jika makna diri hanya dibangun dari keduanya, maka hidup akan terus terombang-ambing tanpa pijakan yang kokoh.

Kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari nilai yang lebih dalam dan personal. Berbuat baik bukan lagi demi tepuk tangan, melainkan karena keyakinan. Bekerja dan berjasa bukan semata agar diingat, tetapi karena itu bagian dari integritas diri. Ketika penghargaan datang, ia disyukuri. Ketika hinaan muncul, ia disikapi dengan jarak emosional. Bukan karena kebal rasa, tetapi karena memahami bahwa dunia tidak selalu adil dalam menilai.
Pada akhirnya, dunia memang seperti itu: datang disambut, pergi dihina; berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Mengharapkan dunia berubah sepenuhnya mungkin terlalu utopis. Namun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya larut dalam pola tersebut. Kita bisa memilih untuk lebih adil dalam menilai sesama, lebih setia mengingat jasa, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan mereka yang pernah berkontribusi.

Di tengah dunia yang mudah lupa dan cepat menghakimi, menjaga nurani adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna. Sebab ketika dunia gagal menghargai, setidaknya kita tidak gagal menghargai diri sendiri dan orang lain. Dan mungkin, dari sikap kecil itulah, dunia yang kejam perlahan belajar untuk menjadi sedikit lebih manusiawi.
Salam Waras (R-1)