Soroti 636 Ribu Laporan Scam, Rektor Unila Tegaskan Pentingnya Literasi Keuangan

Rektor Unila, Prof. Lusmeilia Afriani memberikan sambutan pada ajang Lampung Financial Festival, Sabtu, 5 September 2026. FOTO/DOK

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof. Lusmeilia Afriani menyoroti data transaksi mencurigakan yang lebih dari 636 ribu laporan hingga Juli 2026. Hal tersebut menunjukkan masih terbatasnya literasi keuangan masyarakat Indonesia.

Dalam sambutannya di ajang Lampung Financial Festival, Sabtu, 5 September 2026, Lusmeilia mengungkapkan hasil survei nasional yang menyatakan indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%, namun literasi keuangannya masih 69.57%, sehingga terdapat gap 24 poin.

“Pesannya jelas bahwa seseorang sudah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum memahami biaya, manfaat, hak, kewajiban dan risikonya,” kata Lusmeilia.

“Akses (keuangan) berada di telepon genggam kita. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup cakap mengambil keputusan saat menggunakannya,” lanjutnya.

Lusmeilia bertanya kepada para peserta apakah pernah menerima tawaran investasi dengan imbalan tinggi yang tampak menguntungkan? Atau menerima pesan transfer segera tanpa sempat memeriksanya? Jika pernah, maka itulah alasan kenapa literasi keuangan sangat penting pada hari ini.

“Literasi bukan kemampuan menghapal nama produk, tetapi literasi adalah kemampuan berhenti sejenak untuk menghitung, memeriksa, dan berani mengatakan tidak ketika risikonya tidak kita pahami,” tegas Lusmeilia.

Dia menekankan bahwa peningkatan literasi keuangan sangat mendesak. Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre pada 30 Juli 2026, terdapat 636 ribu laporan transaksi keuangan yang mencurigakan dan berhasil memblokir Rp 723 miliar dana korban.

“Di balik angka itu, ada keluarga yg kehilangan tabungan, pelaku usaha kehilangan modal. Saya harap generasi muda tidak seperti ini,” tegas Lusmeilia.

Menurutnya ada tiga hal yang perlu dikerjakan bersama, pertama menghadirkan pembelajaran berbasis keputusan nyata, yaitu menyusun anggaran, menghitung biaya utang, mengenal investasi legal, memahami perlindungan dan memiliki kemampuan digital.

Kedua, membangun jalur perlindungan yang mudah dijangkau. ketika mengalami dugaan penipuan mahasiswa dan masyarakar harus tahu cara memverifikasi, tempat bertanya dan saluran untuk segera melapor.

Ketiga, membawa riset keluar dari kampus. Perguruan tinggi dapat mendampingi sekolah, UMKM, desa, petani, dan komunitas, agar akses pembiayaan digunakan secara sehat dan produktif.

“Kampus tidak Bekerja sendiri, OJK, LPS, BI, pemda, perbankan, media, memiliki peran berbeda, tapi tujuan sama, yaitu masyarakat yang cakap terlindungi, dan mampu bertumbuh,” ungkapnya.

Lusmeilia mengingatkan, festival keuangan ini akan bermakna, jika mahasiswa dan masyarakat yang mengikuti kegiatan ini, setelah pulang berubah menjadi lebih baik dalam literasi keuangan. Misalnya, mulai mencatat pengeluaran, lebih hati-hati berhutang, berinvestasi dengan benar, menjaga data pribadi, dan segera melapor ketika menghadapi penipuan. (RUS/R-1)