Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Setiap perguruan tinggi memiliki identitas, nilai, dan budaya akademik yang menjadi pembeda dengan institusi pendidikan lainnya. Identitas tersebut tidak hanya tercermin dari kualitas pendidikan, prestasi akademik, maupun fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari nilai-nilai luhur yang ditanamkan dalam kehidupan seluruh civitas akademikanya. Universitas Malahayati mengembangkan suatu tradisi yang menarik dan memiliki kekhasan tersendiri, yaitu tradisi etika akademik. Tradisi ini bukan sekadar slogan atau rangkaian kata yang menghiasi visi dan misi institusi, melainkan diwujudkan melalui berbagai simbol, tata cara, kebiasaan, dan perilaku yang menjadi bagian dari kehidupan akademik, termasuk dalam pelaksanaan upacara wisuda.
Bagi saya, tradisi etika akademik yang ditampilkan Universitas Malahayati dalam prosesi wisuda merupakan gambaran bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata bertujuan menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual dan profesional dalam bidang keilmuannya. Lebih dari itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang berakhlak, menghormati nilai-nilai keagamaan, menjunjung tinggi budaya, serta memiliki kepedulian sosial. Pendidikan yang demikian diharapkan mampu melahirkan insan akademik yang tidak hanya berhasil dalam dunia kerja, tetapi juga memiliki kepekaan nurani dan tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Kekhasan tradisi tersebut terlihat jelas ketika upacara wisuda dilaksanakan. Jika pada umumnya pimpinan perguruan tinggi, anggota senat, dan jajaran rektorat mengenakan toga sebagaimana lazimnya tradisi akademik, Universitas Malahayati menghadirkan nuansa berbeda. Pakaian yang biasa dikenakan dalam prosesi tersebut digantikan dengan peci dan busana muslim. Pilihan ini memberikan pesan simbolis bahwa kehormatan akademik hendaknya berjalan seiring dengan nilai-nilai religius. Kedudukan, jabatan, dan kewibawaan akademik tidak boleh menjauhkan seseorang dari kesederhanaan, kesantunan, serta kesadaran akan tanggung jawab spiritual.
Keunikan lainnya tampak dalam tata cara mengatur jalannya prosesi. Jika dalam tradisi wisuda pada umumnya dikenal penggunaan tongkat sebagai bagian dari aba-aba atau pengaturan barisan, di Universitas Malahayati hal tersebut digantikan dengan aba-aba yang dipandu oleh seorang pemuda berpakaian adat Melayu. Kehadiran unsur budaya Melayu ini bukan hanya memperindah prosesi, melainkan juga memperlihatkan penghargaan terhadap identitas budaya bangsa. Dengan demikian, tradisi etika akademik tidak hanya berbicara tentang tata tertib dan kesopanan dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana nilai agama dan budaya dapat berjalan beriringan.
Nuansa religius semakin terasa ketika rombongan senat, rektor, dan jajaran pimpinan memasuki gedung atau area pelaksanaan wisuda. Langkah mereka diiringi lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW. Acara kemudian dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Demikian pula ketika seluruh rangkaian kegiatan selesai, rombongan meninggalkan tempat dengan iringan sholawat Nabi. Rangkaian tersebut menghadirkan suasana khidmat sekaligus mengingatkan bahwa setiap aktivitas akademik selayaknya dilandasi rasa syukur, penghormatan terhadap ajaran agama, dan kesadaran untuk menjalankan kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan.
Namun, ada satu bagian prosesi wisuda yang menurut saya memiliki makna kemanusiaan sangat mendalam, yaitu kehadiran anak-anak yatim piatu yang mendampingi setiap wisudawan. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap seremoni atau bagian dari keindahan acara. Di balik itu terdapat pesan sosial yang kuat. Anak-anak yatim piatu ditempatkan dalam ruang kebahagiaan akademik bersama para wisudawan, seolah mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak seharusnya hanya dinikmati untuk dirinya sendiri. Ada tanggung jawab sosial yang menyertai setiap pencapaian. Kebahagiaan akan terasa lebih bermakna ketika dapat dibagikan kepada mereka yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan kepedulian.
Makna penghormatan terhadap keluarga juga menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.
Sebelum menjalani prosesi pengambilan sumpah, para wisudawan diwajibkan melakukan sungkem kepada kedua orang tua atau suami. Momen ini menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam keseluruhan rangkaian wisuda. Di tengah kebanggaan memperoleh gelar akademik, para wisudawan diajak kembali mengingat orang-orang yang telah memberikan dukungan, pengorbanan, doa, dan kasih sayang selama perjalanan pendidikan mereka. Sungkem menjadi simbol kerendahan hati sekaligus pengakuan bahwa keberhasilan akademik tidak pernah sepenuhnya merupakan hasil perjuangan pribadi.
Jika seluruh rangkaian tersebut direnungkan, terlihat bahwa Universitas Malahayati sedang membangun sebuah pesan pendidikan yang utuh. Peci dan busana muslim merepresentasikan identitas religius, pakaian adat Melayu menghadirkan penghormatan terhadap budaya, sholawat dan pembacaan Al-Qur’an memperkuat dimensi spiritual, pendampingan anak yatim piatu menanamkan kepedulian sosial, sedangkan sungkem kepada orang tua atau suami mengajarkan penghormatan dan rasa terima kasih kepada keluarga. Seluruh unsur tersebut menyatu menjadi sebuah tradisi akademik yang sarat makna.
Saya memandang tradisi etika akademik ini sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter yang disampaikan bukan hanya melalui ruang kuliah, buku, dan teori, melainkan melalui pengalaman langsung yang melibatkan perasaan, kesadaran, dan tindakan. Para wisudawan tidak hanya menerima pengakuan atas keberhasilan akademiknya, tetapi juga diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan harus disertai akhlak, keberhasilan harus disertai kepedulian, dan kehormatan harus disertai kerendahan hati.
Kekhasan tradisi akademik Universitas Malahayati patut menjadi identitas yang terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Nilai utamanya bukan terletak pada perbedaan bentuk seremoni semata, melainkan pada pesan moral yang terkandung dalam setiap tahap pelaksanaannya. Dan, ini tercermin dari salah satu bunyi Janji Alum I yang dibacakan berbunyi berkuwajiban peduli pada anak yatim saat bertugas dimanapun berada. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk manusia seutuhnya, yaitu manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan emosional, kepekaan sosial, serta kedalaman spiritual. Inilah makna tradisi etika akademik yang sesungguhnya: menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, kesuksesan sebagai sarana berbagi, dan kehidupan akademik sebagai ruang untuk menumbuhkembangkankan karakter, akhlak, serta nilai-nilai kemanusiaan. Selamat Berwisuda para duta kemanusiaan. (R-2)
