Pelajar Lampung Dibekali Wawasan Kebangsaan Anti Radikalisme

PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Upaya memperkuat ketahanan ideologi generasi muda terus dilakukan melalui kolaborasi antara Densus 88 Antiteror Polri dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung dengan menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan bagi siswa SMA se-Provinsi Lampung, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi langkah preventif untuk mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di lingkungan pelajar, terutama di era digital yang dinilai semakin rentan dimanfaatkan kelompok radikal.

Sosialisasi menghadirkan jajaran Satgaswil Lampung, kepala sekolah, dewan guru, pengurus OSIS, akademisi, hingga mantan narapidana terorisme yang berbagi pengalaman langsung mengenai bahaya ideologi kekerasan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico mengatakan dunia pendidikan kini memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan nasional di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat.

Menurutnya, media sosial dan ruang digital menjadi salah satu jalur masuk penyebaran ideologi transnasional yang menyasar generasi muda.

“Sekolah harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari benih kebencian maupun sikap eksklusif,” ujarnya.

Thomas menegaskan pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter kebangsaan yang kuat sebagai pondasi masa depan bangsa.

Sementara itu, Kasatgaswil Lampung Densus 88 Antiteror Polri, Stialanri Kurniawan Setinggar mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus informasi global.

Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis sebagai penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Pelajar harus menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terpengaruh propaganda yang bertentangan dengan ideologi bangsa,” katanya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMA Provinsi Lampung, Suharto menyebut sekolah merupakan benteng utama pembentukan karakter bangsa.

Menurutnya, wawasan kebangsaan menjadi “imun ideologis” yang mampu melindungi pelajar dari pengaruh intoleransi dan radikalisme.

“Kalau nilai kebangsaan tertanam kuat, maka pengaruh kebencian tidak akan mudah masuk ke diri pelajar,” ujarnya.

Ia juga menilai Provinsi Lampung sebagai miniatur Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama sehingga nilai toleransi harus terus dijaga sejak dini.

Dalam kegiatan itu, narasumber Sumarna memaparkan tahapan berkembangnya paham terorisme yang bermula dari intoleransi, kemudian berkembang menjadi radikalisme hingga berujung pada tindakan teror.

Menurutnya, kelompok radikal sering memanfaatkan isu agama, sosial, dan politik untuk merekrut anggota baru, terutama anak muda yang sedang mencari jati diri.

“Penyebaran paham radikal kini banyak dilakukan melalui media sosial, lingkungan pergaulan, hingga relasi keluarga,” jelasnya.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan mantan narapidana terorisme asal Lampung, Meilani Indra Dewi yang membagikan pengalaman hidupnya di hadapan para siswa.

Ia mengungkap perilaku negatif seperti bullying, tawuran, hingga rasa terasing sering dimanfaatkan kelompok radikal untuk mendekati anak muda.

“Kelompok radikal biasanya menawarkan rasa diterima dan persaudaraan semu kepada mereka yang merasa tersisih,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan memiliki ketahanan ideologi yang kuat, mampu berpikir kritis di era digital, serta menjadi agen perdamaian yang menjaga persatuan dan keutuhan bangsa dari lingkungan sekolah.