Ketika Pikiran Berlalu Tanpa Jejak

Refleksi

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Empat hari meninggalkan kota ini tanpa membawa alat tulis. Niatnya sederhana, saya ingin beristirahat sejenak dari kegiatan menulis. Saya ingin menikmati perjalanan tanpa harus berpikir tentang apa yang bisa ditulis, tanpa sibuk mencari kalimat, dan tanpa merasa perlu mencatat setiap hal yang menarik perhatian. Saya ingin membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Melihat apa yang bisa dilihat, mendengar apa yang bisa didengar, dan menikmati apa yang ada di hadapan saya.

Awalnya, saya merasa keputusan itu cukup masuk akal. Bukankah sesekali kita perlu berhenti dari kebiasaan yang selama ini kita lakukan? Saya pikir, dengan tidak membawa alat tulis, pikiran akan lebih santai. Saya bisa menikmati perjalanan tanpa terbebani keinginan untuk menghasilkan tulisan. Tidak perlu memikirkan judul, tidak perlu menyusun kalimat, dan tidak perlu merasa ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Namun, setelah empat hari berlalu, ternyata ada yang terasa kurang. Saya justru merasa tidak nyaman. Banyak hal yang saya temui selama perjalanan sebenarnya bisa menjadi bahan tulisan. Ada kejadian kecil, percakapan, suasana, dan berbagai pikiran yang muncul begitu saja. Semuanya terasa menarik ketika sedang berlangsung. Namun, karena tidak dituliskan, banyak di antaranya lewat begitu saja.

Saya sempat berpikir bahwa semuanya akan tetap tersimpan dalam ingatan. Nanti, ketika sudah kembali ke rumah, saya bisa menuliskannya. Ternyata, ingatan tidak selalu bisa diandalkan. Apa yang terasa penting hari ini belum tentu masih jelas besok. Sebuah pikiran yang muncul di tengah perjalanan bisa terasa begitu menarik, tetapi beberapa jam kemudian sudah sulit diingat. Bahkan, terkadang saya hanya mengingat bahwa pernah memikirkan sesuatu yang menarik, tanpa bisa mengingat apa sebenarnya yang saya pikirkan.
Dari situ saya mulai menyadari bahwa menulis bukan sekadar kegiatan mencatat sesuatu agar tidak terlupakan. Menulis juga merupakan cara untuk memahami apa yang sedang saya alami. Ketika menulis, saya biasanya tidak hanya memindahkan kejadian ke dalam kalimat. Saya juga memikirkan kembali apa yang terjadi, mengapa hal itu menarik, dan apa yang bisa saya pelajari darinya.

Sebuah kejadian sederhana bisa terasa biasa saja ketika hanya dilewati. Namun, ketika mulai dituliskan, saya sering menemukan hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Saya bisa melihat hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Saya bisa memahami perasaan yang muncul, bahkan menemukan makna yang sebelumnya belum saya sadari.
Barangkali itulah sebabnya menulis membuat otak bekerja. Kita tidak cukup hanya mengingat. Kita juga harus memilih kata, menyusun pikiran, dan mencari cara agar apa yang ada di kepala bisa disampaikan dengan jelas. Kadang-kadang, ketika sedang menulis, saya justru menemukan apa yang sebenarnya ingin saya pikirkan. Ada gagasan yang baru terlihat setelah dituangkan ke dalam kalimat. Ada pula perasaan yang baru bisa dipahami setelah dicoba untuk dijelaskan.

Selama empat hari itu, saya merasa kehilangan kesempatan untuk melakukan proses semacam itu. Banyak hal datang silih berganti, tetapi saya hanya membiarkannya lewat. Saya memang tetap bisa menikmati perjalanan, melihat tempat-tempat baru, dan mengalami berbagai kejadian. Namun, ada bagian dari pengalaman itu yang terasa tidak lengkap karena tidak sempat saya olah menjadi pikiran dan tulisan.

Tentu saja, bukan berarti setiap hal harus ditulis. Tidak semua kejadian perlu dicatat, dan tidak semua pengalaman harus diubah menjadi cerita. Ada saatnya kita cukup menikmati apa yang sedang berlangsung tanpa sibuk memikirkan bagaimana cara menuliskannya. Kita juga perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, termasuk beristirahat dari kebiasaan yang kita sukai. Namun, saya mulai memahami bahwa beristirahat dari menulis tidak harus berarti menjauh sepenuhnya dari kegiatan itu. Saya bisa tetap menikmati perjalanan sambil sesekali mencatat hal-hal yang menarik. Saya tidak perlu memaksakan diri untuk menulis setiap hari atau menjadikan semua pengalaman sebagai bahan tulisan. Cukup memberi kesempatan kepada pikiran untuk menyimpan sesuatu sebelum semuanya terlupakan.

Empat hari meninggalkan kota tanpa membawa alat tulis akhirnya memberi saya pelajaran sederhana. Saya berangkat dengan keinginan untuk terbebas dari pikiran tentang menulis, tetapi justru menyadari bahwa menulis telah menjadi bagian dari cara saya memahami banyak hal. Saya merindukan kegiatan itu bukan semata-mata karena ingin menghasilkan tulisan, melainkan karena melalui tulisan saya bisa mengolah pengalaman dan menemukan sesuatu yang mungkin terlewatkan jika hanya mengandalkan ingatan.

Sekarang saya tidak lagi merasa harus menjauh dari menulis agar bisa menikmati kehidupan. Saya hanya perlu menemukan keseimbangan. Ada saatnya saya menutup buku dan menikmati apa yang ada di hadapan saya. Ada pula saatnya saya membuka buku dan mencoba memahami apa yang baru saja saya alami. Sebab, bagi saya, menulis bukan hanya tentang menghasilkan rangkaian kalimat. Menulis adalah cara untuk berhenti sejenak, mengingat, berpikir, dan memahami kehidupan. Dan setelah empat hari membiarkan banyak hal berlalu tanpa sempat dituliskan, saya semakin mengerti bahwa terkadang yang kita rindukan bukanlah kegiatan menulis itu sendiri, melainkan kesempatan untuk memikirkan sesuatu lebih dalam sebelum waktu membawanya pergi. Salam Waras (R-1)