• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, January 12, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Antara Hujan dan Harapan

Refleksi

by portall news
January 12, 2026
in Headline
Menjaga yang Nyaris Hilang

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

106
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) -Sore itu, kota ini di guyur hujan yang sangat lebat, orang banyak menyebutnya anomali iklim. Saat memandang curahan hujan yang begitu lebat terbersit dalam ingatan untuk menulisnya. Atas palilah (kerelaan) dari sohib jurnalis senior yang menggawangi media ini, jadilah tulisan ini. Dan, di salah satu emper toko ada dua orang yang berteduh. Seorang berprofesi sebagai tukang ojek, dan seorang lagi penjual kue keliling. Mereka berdua terlibat pembicaraan seperti ini;

“Deras banget, ya. Dari tadi kayak nggak ada niat berhenti,” kata tukang ojek sambil memarkir motornya agak ke pinggir teras agar joknya tidak terkena timpahan air dari talang air yang meluap.
“Iya, Mas. Kue saya aja sampai basah-basah. Untung masih sempat ditutup plastik,” jawab penjual kue keliling, menggeser tampahnya lebih dekat ke dinding agar tidak terkena tempias.
“Biasanya jam segini udah dapet penumpang dua atau tiga. Ini malah dapet hujan,” ucap tukang ojek, tertawa kecil.
“Sama. Biasanya sore laku buat orang pulang kerja. Hujan begini, orang milih langsung ke rumah,” kata penjual kue. “Mas ojek narik dari pagi?”
“Dari subuh. Pagi panas, siang mendung, eh sore begini. Kadang cuaca lebih susah ditebak daripada orderan,” jawab tukang ojek sambil menyeringai.

Baca Juga

Menyusuri Sungai dan Gang Sempit, Walikota Eva Pastikan Warga Aman dari Banjir

Itera Sediakan 5.275 Kursi Mahasiswa Baru pada 2026

UIM Sambut Kunjungan Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Dorong Pendidikan Inklusif dan Berkarakter

Penjual kue mengangguk. “Kalau saya, yang susah itu kue sisa. Nggak bisa disimpan lama. Besok rasanya udah beda, bahkan cenderung basi.”
“Kalau nggak habis, dibagi ke tetangga?” tanya tukang ojek.
“Kadang. Kadang ya dimakan sendiri. Capek sih, tapi mau gimana.” Jawab penjual kue memelas.

Hujan semakin keras, suara genting dipukul air tanpa jeda.
“Mas masih kuat nunggu hujan reda?” tanya penjual kue lagi.
“Kalau nekat jalan, bahaya. Jas hujan bocor lagi,” jawab tukang ojek. “Mending nunggu. Rezeki nggak ke mana.”
“Iya, ya. Kata orang, rezeki ada waktunya sendiri.” Guman penjual Kue.
“Betul. Kita mah jalanin aja. Hujan, panas, tetap keluar rumah.” Sambung tukang ojek.

Penjual kue tersenyum, dan berkata. “Kalau hujan reda, Mas mau kue satu? Nggak usah bayar.”
“Wah, jangan gitu. Saya beli. Biar sama-sama jalan rezekinya.” Jawab tukang ojek.

Mereka terdiam sejenak, mendengar hujan yang perlahan mulai mengecil, seperti memberi isyarat untuk kembali melanjutkan hari.

Hujan selalu datang tanpa meminta izin, seperti kabar yang tiba di lini masa pada jam-jam paling sibuk. Ia bisa menjadi penanda jeda, bisa pula menjadi alasan keterlambatan. Di kota-kota yang tak pernah benar-benar tidur, hujan memantulkan cahaya lampu dan menebalkan kesepian. Namun, di sela bunyinya yang jatuh berulang, ada sesuatu yang tetap hidup: harapan. Di antara hujan dan harapan, manusia kekinian belajar menata ulang makna bertahan.

Hujan hari ini bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah metafora bagi tekanan yang datang beruntun; tagihan yang jatuh tempo, notifikasi yang tak berhenti, target yang berubah setiap pekan, dan berita yang sering kali lebih cepat daripada kemampuan kita mencernanya. Kita hidup di zaman ketika rasa cemas dapat diukur dalam persentase baterai dan kecepatan jaringan. Ketika hujan turun, ritme melambat sejenak, memaksa kita mengakui bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Di trotoar yang basah, langkah-langkah menjadi hati-hati; di kepala yang penat, pikiran mencari pegangan.

Namun harapan, seperti payung yang kadang terlupa, tetap ada meski tak selalu terlihat. Harapan kekinian tidak selalu berwujud mimpi besar yang berkilau. Ia sering hadir sebagai keputusan kecil: tetap bangun pagi meski semalam gagal, mengirim lamaran lagi meski sudah berkali-kali tak berbalas, atau memilih istirahat ketika dunia menuntut lebih. Harapan bukan lagi janji masa depan yang jauh, melainkan ketekunan pada hari ini. Ia belajar merendah agar tak mudah patah.
Di layar-layar kecil, hujan sering difilter agar terlihat indah. Kita mengunggah foto jendela berembun, menulis caption puitis, lalu melanjutkan hidup. Tapi di balik estetika itu, hujan juga berarti banjir yang berulang, rumah yang terendam, pekerjaan yang tertunda. Kekinian mengajarkan paradoks: keindahan dan kesulitan bisa berdampingan, dan keberanian bukan menolak keduanya, melainkan mengakui kehadirannya. Harapan tumbuh ketika kita berhenti menyangkal kenyataan dan mulai merawat kemungkinan.

Hujan menguji solidaritas. Saat air naik, tangan-tangan saling terulur. Di tengah keterpecahan opini, ada momen-momen sederhana ketika empati bekerja tanpa slogan. Harapan mengambil bentuk gotong royong yang disesuaikan zaman: penggalangan dana daring, informasi cepat yang menyelamatkan waktu, dan ruang-ruang diskusi yang mencoba lebih mendengar. Meski sering bising, dunia digital juga menyimpan potensi merajut ulang kepercayaan.

Hujan juga menyingkap hubungan kita dengan diri sendiri. Ketika suara luar mereda, kita mendengar yang selama ini diabaikan. Keletihan yang dipendam, kegembiraan kecil yang tertunda, dan kebutuhan untuk memaafkan diri. Harapan di sini bersifat intim: kesediaan merawat kesehatan mental, menetapkan batas, dan mengakui bahwa kuat tidak selalu berarti keras. Di zaman serba cepat, keberanian paling radikal bisa jadi adalah berhenti sejenak.

Pada akhirnya, antara hujan dan harapan, ada ruang belajar menjadi manusia. Kita belajar bahwa basah bukan akhir dari perjalanan, bahwa menunggu reda pun bagian dari bergerak. Harapan tidak menghapus hujan; ia mengajarkan cara berjalan di bawahnya, kadang dengan payung, kadang dengan membiarkan diri basah sambil tertawa. Di zaman yang penuh ketidakpastian, mungkin itulah kemenangan kecil yang paling nyata: tetap melangkah, meski langit belum sepenuhnya cerah.
Salam Waras di tengah deras (R–1)

Previous Post

Menyusuri Sungai dan Gang Sempit, Walikota Eva Pastikan Warga Aman dari Banjir

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Antara Hujan dan Harapan
  • Menyusuri Sungai dan Gang Sempit, Walikota Eva Pastikan Warga Aman dari Banjir
  • Pertemuan Yang Tak Pernah Selesai
  • Itera Sediakan 5.275 Kursi Mahasiswa Baru pada 2026
  • UIM Sambut Kunjungan Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Dorong Pendidikan Inklusif dan Berkarakter

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist