Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di sebuah pesantren yang tenang di pinggir desa, angin sore berembus pelan menyapu halaman yang dipenuhi suara lantunan hafalan. Para santri duduk melingkar di serambi masjid, sementara matahari perlahan condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan pada dinding-dinding tua yang sarat sejarah. Di sudut serambi, seorang santri tampak gelisah, berbeda dari teman-temannya yang khusyuk. Ia memandangi lantai dengan pikiran yang bergejolak, lalu memberanikan diri mendekati kiainya yang duduk bersandar pada tiang kayu. Dan berkata:
“Yai, mengapa rasanya sulit sekali hidup tanpa memikirkan omongan orang?”. Tanya Santri.
Kiai itu tersenyum dan menjawab . “Apa yang membuatmu gelisah, Nak?”
“Saya merasa, satu kesalahan kecil saja membuat orang lupa pada semua kebaikan yang pernah saya lakukan. Seolah-olah semuanya hilang begitu saja.” Jawab Santri tadi.
Kiai mengangguk pelan. “Begitulah manusia. Penglihatannya terbatas, hatinya mudah berubah. Mereka bisa menghapus banyak kebaikan karena satu kekeliruan.”
“Lalu bagaimana agar saya tidak terus memikirkannya, Yai?” sergah sang santri.
“Coba kau renungkan,” jawab sang kiai, “manusia bisa saja melupakan kebaikanmu. Tetapi Tuhan tidak. Bahkan satu kebaikan yang tulus bisa menghapus banyak kesalahanmu di hadapan-Nya.”
Santri itu mlongo dan terdiam, kemudian menunduk.
“Kalau begitu,” lanjut kiai, “mengapa engkau sibuk mencari ridho manusia, sementara ridho Tuhan jauh lebih menentukan?”
“Tapi hinaan itu terasa menyakitkan, Yai.” Sergah Santri.
“Hinaan tidak menjadikanmu sampah. Pujian juga tidak menjadikanmu rembulan. Nilaimu tidak bergantung pada lisan manusia, melainkan pada hatimu dan Tuhan yang menilainya.” Tegas Kiai.
Santri itu menarik napas panjang. “Jadi, yang harus saya jaga adalah niat dan amal saya di hadapan Tuhan?”
Kiai tersenyum, sambil berkata. “Itulah yang akan menyelamatkanmu.”
Manusia hidup di antara dua tarikan besar: keinginan untuk diterima oleh sesama dan kebutuhan untuk merasa bernilai di hadapan Tuhan. Dalam perjalanan itu, sering kali kita terjebak pada penilaian manusia yang berubah-ubah, seolah-olah harga diri kita ditentukan oleh tepuk tangan atau cibiran. Padahal, manusia dapat menghapus seribu kebaikan hanya karena satu kesalahan, sementara Tuhan dengan kasih sayang-Nya mampu menghapus seribu kesalahan karena satu kebaikan yang tulus. Di situlah letak perbedaan mendasar yang seharusnya menyadarkan kita tentang kepada siapa seharusnya hati ini bergantung.
Lalu mengapa kita sering kali lebih sibuk mencari ridho manusia dibanding ridho Tuhan? Mengapa komentar dan penilaian orang lain lebih kita takuti daripada pengawasan Ilahi yang tak pernah lengah? Jawabannya mungkin karena manusia terlihat di depan mata, sementara Tuhan diyakini dengan iman. Kita cenderung takut pada sesuatu yang langsung terasa dampaknya: ejekan, pengucilan, atau hilangnya reputasi. Padahal dampak dari kehilangan ridho Tuhan jauh lebih besar, bukan hanya di dunia, tetapi juga di kehidupan yang abadi.
Ketika orientasi hidup berpusat pada manusia, kita mudah lelah. Kita akan terus berusaha menyenangkan semua orang, padahal itu mustahil. Setiap individu memiliki standar dan harapan berbeda. Hari ini kita dipuji, esok bisa jadi dicela. Hari ini dianggap benar, besok dinilai salah. Hidup menjadi panggung sandiwara di mana kita memainkan peran sesuai selera penonton. Lama-kelamaan, kita kehilangan jati diri dan kedamaian batin.
Sebaliknya, ketika orientasi diarahkan pada ridho Tuhan, hidup terasa lebih kokoh. Prinsip menjadi jelas, tujuan menjadi tegas. Kita tidak lagi berbuat baik demi pujian, tetapi demi ketaatan. Kita tidak meninggalkan keburukan demi citra, melainkan karena kesadaran akan pertanggungjawaban.
Hati menjadi lebih tenang karena standar yang digunakan adalah standar Ilahi yang konsisten dan adil.
Direndahkan oleh manusia tidak akan mengubah hakikat diri kita. Penghinaan tidak serta-merta menjadikan seseorang sampah. Nilai diri tidak ditentukan oleh opini orang lain, melainkan oleh integritas dan hubungan dengan Tuhan. Jika seluruh manusia meremehkan, tetapi Tuhan memuliakan, maka kemuliaan itulah yang sejati. Sebaliknya, disanjung setinggi langit pun tidak akan menjadikan seseorang laksana rembulan yang bercahaya jika di sisi Tuhan ia kosong dari kebaikan. Pujian hanyalah gema suara; ia bisa keras, tetapi cepat menghilang.
Omongan orang memang sulit dihindari. Setiap langkah selalu berpotensi menjadi bahan pembicaraan. Namun merisaukan semua itu hanya akan menguras energi dan mengaburkan fokus.
Tidak semua kritik harus dimusuhi, karena sebagian bisa menjadi cermin untuk memperbaiki diri. Tetapi cibiran yang lahir dari kebencian tidak perlu disimpan dalam hati. Kita cukup menimbangnya dengan bijak, mengambil yang bermanfaat, dan meninggalkan yang merusak.
Kebebasan sejati muncul ketika kita tidak lagi diperbudak oleh opini manusia. Bukan berarti kita mengabaikan norma sosial atau hidup semaunya sendiri, melainkan menempatkan penilaian manusia pada posisi yang proporsional. Kita tetap menghargai sesama, menjaga etika, dan memenuhi tanggung jawab. Namun semua itu dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, bukan semata demi pengakuan.
Pada akhirnya, hidup adalah sebuah perjalanan yang setiap langkah akan dipertanggungjawabkan bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Tuhan. Maka alangkah ruginya jika sepanjang perjalanan kita habiskan energi hanya untuk mengejar tepuk tangan yang fana, sementara kita lalai membangun bekal yang kekal. Ridho manusia mungkin menghadirkan kenyamanan sesaat, tetapi ridho Tuhan menghadirkan keselamatan dan ketenangan yang abadi.
Karena itu, jangan biarkan satu kesalahan membuat kita putus asa hanya karena manusia menilai dengan kejam. Selama Tuhan masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, selalu ada harapan. Dan jangan pula terbang tinggi karena pujian, sebab kemuliaan sejati bukan berasal dari sanjungan, melainkan dari kedekatan dengan-Nya. Saat hati telah mantap menggantungkan diri kepada ridho Tuhan, maka omongan manusia tak lagi mengguncang. Kita berjalan dengan keyakinan, bekerja dengan keikhlasan, dan hidup dengan ketenangan.
Salam Ramadan (R-1)

Recent Comments