• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, October 12, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Diksi Palembang: Wong Bengak Samo Wong Calak

Refleksi

by portall news
October 12, 2026
in Headline
Diksi Palembang: Wong Bengak Samo Wong Calak
104
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di dalam khazanah bahasa Palembang, terdapat ungkapan sederhana yang menyimpan makna mendalam: wong bengak samo wong calak. Ungkapan ini menggambarkan persoalan yang semakin sulit dibedakan dalam kehidupan berbangsa hari ini, yakni batas antara kebebalan dan kecerdasan. Orang yang dianggap bengak ternyata memiliki gelar doktor, bahkan profesor. Sebaliknya, orang yang terlihat calak ternyata hanya pandai mencari keuntungan bagi diri sendiri, tanpa peduli apa yang akan terjadi pada negeri ini. Sekalipun sekolahnya diragukan oleh banyak pihak.

Pengertian sehari-hari pada masyarakat Palembang, bengak merujuk pada sifat bebal, sulit memahami persoalan, atau tidak mampu menggunakan akal sehat secara semestinya. Sementara itu, calak menggambarkan seseorang yang cerdik, tangkas membaca keadaan, dan pandai mencari jalan untuk mencapai tujuan. Keduanya seolah bertolak belakang. Namun, persoalan menjadi rumit ketika kecerdikan tidak lagi digunakan untuk kepentingan bersama, melainkan sekadar menjadi alat untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Baca Juga

Foto Mangrove dari Luar Angkasa: Cara Baru Cek Kesehatan Hutan Mangrove Margasari

Alfamart dan Kalbe Nutritionals Perkuat Dukungan 1.000 HPK melalui Sahabat Posyandu, Jangkau 2.800 Penerima Manfaat di 28 Titik

Saat Rasa Sedulur Mulai Luntur

Hari ini, gelar akademik yang tinggi tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemikiran dan kebijaksanaan. Seseorang dapat menyandang gelar doktor, bahkan profesor, tetapi keputusan dan tindakannya justru memperlihatkan ketidakmampuan memahami persoalan mendasar masyarakat. Pengetahuan yang semestinya menjadi penerang kehidupan malah berhenti sebagai simbol kehormatan.

Gelar dipamerkan, tetapi tanggung jawab moral yang menyertainya kerap terlupakan. Kecerdasan akademik kehilangan makna apabila tidak disertai kejujuran, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kepedulian terhadap kepentingan rakyat.

Lantas, apakah seseorang masih layak disebut cerdas hanya karena memiliki kemampuan intelektual yang tinggi? Bukankah kecerdasan seharusnya tercermin dalam kemampuan memahami akibat dari setiap keputusan, mempertimbangkan kepentingan masyarakat, serta membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar menguntungkan? Jika seseorang memahami persoalan dengan baik, tetapi sengaja mengambil keputusan yang merugikan banyak orang demi mempertahankan jabatan atau memperoleh keuntungan, persoalannya bukan lagi terletak pada kemampuan berpikir, melainkan pada cara menggunakan kecerdasannya.

Di sinilah sosok wong calak memperoleh makna yang berbeda. Kecerdikan yang semula dianggap sebagai kelebihan dapat berubah menjadi alat untuk membenarkan segala cara. Orang seperti ini pandai membaca kelemahan sistem, memahami keinginan orang lain, dan menyesuaikan perkataan dengan kepentingannya. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus tampil sebagai pembela rakyat. Namun, di balik semua kecakapan itu, pertimbangannya hanya berpusat pada satu hal: apa keuntungan yang bisa diperoleh untuk dirinya sendiri?

Ironisnya, orang semacam ini sering kali mampu membangun citra yang meyakinkan. Ia pandai merangkai kata, menggunakan simbol moral, dan berbicara tentang pengabdian seolah-olah kepentingan rakyat selalu menjadi prioritasnya. Padahal, tindakannya justru memperlihatkan kecenderungan mengamankan kedudukan dan keuntungan pribadi. Di tengah masyarakat yang mudah terpukau oleh jabatan, popularitas, dan kepandaian berbicara, kecerdikan semacam ini dapat tumbuh subur. Yang terlihat hebat belum tentu bermanfaat, dan yang terdengar meyakinkan belum tentu mengandung kebenaran.

Sebaliknya, wong bengak tidak selalu dapat dikenali dari rendahnya pendidikan atau terbatasnya pengetahuan. Kebebalan justru dapat muncul ketika seseorang menolak memahami kenyataan meskipun bukti telah tersedia. Ia mempertahankan pendapat yang keliru, mengulangi kesalahan yang sama, dan menganggap kritik sebagai ancaman terhadap kehormatannya.

Persoalan menjadi lebih serius apabila kebebalan semacam ini berada dalam jabatan yang memiliki kekuasaan menentukan nasib banyak orang. Ketika kewenangan tidak disertai kesediaan belajar dan mendengarkan, kesalahan pribadi dapat berubah menjadi penderitaan bersama.

Sulitnya membedakan wong bengak samo wong calak mencerminkan persoalan ukuran yang digunakan masyarakat dalam menilai manusia. Kita terlalu mudah menghubungkan kecerdasan dengan gelar, kekuasaan, kekayaan, dan kemampuan memenangkan persaingan. Padahal, semua itu tidak otomatis membuktikan kualitas pikiran maupun keluhuran watak. Ada orang yang cerdas secara akademik, tetapi miskin kepekaan sosial. Ada pula orang yang sangat lihai mengelola kepentingan, tetapi tidak memiliki keberanian moral untuk menolak sesuatu yang menguntungkan dirinya dan merugikan orang lain.

Keadaan menjadi semakin memprihatinkan ketika orientasi terhadap perut mengalahkan tanggung jawab terhadap negeri. Perut bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan lambang kepentingan material yang ditempatkan sebagai tujuan utama. Jabatan dipandang sebagai kesempatan memperoleh fasilitas, kewenangan menjadi jalan mengumpulkan keuntungan, sedangkan pengabdian berubah menjadi transaksi. Negeri seolah hanya menjadi ladang untuk memanen kepentingan pribadi. Rakyat dibutuhkan ketika dukungan mereka diperlukan, tetapi dilupakan ketika keputusan harus dibuat. Masa depan bangsa menjadi perkara yang dapat ditunda selama kepentingan pribadi telah terpenuhi.

Oleh karena itu, ukuran kecerdasan seharusnya dikembalikan pada kejernihan berpikir, kemampuan memahami persoalan secara utuh, kesediaan mengakui kesalahan, dan keteguhan menjaga kepentingan publik. Negeri tidak hanya dirugikan oleh orang yang tidak memahami persoalan, tetapi juga oleh orang yang memahami persoalan dengan baik dan sengaja mengabaikannya demi keuntungan pribadi. Yang satu mungkin tidak mengetahui akibat tindakannya, sedangkan yang lain mengetahui akibatnya, tetapi tetap memilih melakukannya. Di antara keduanya, garis pemisah antara bengak dan calak semakin tipis, terutama ketika kebebalan dapat bersembunyi di balik gelar akademik dan kecerdikan mencari keuntungan mampu menyamar sebagai kecerdasan mengabdi kepada negeri.
Salam Waras (R-1)

Previous Post

Foto Mangrove dari Luar Angkasa: Cara Baru Cek Kesehatan Hutan Mangrove Margasari

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Diksi Palembang: Wong Bengak Samo Wong Calak
  • Foto Mangrove dari Luar Angkasa: Cara Baru Cek Kesehatan Hutan Mangrove Margasari
  • Alfamart dan Kalbe Nutritionals Perkuat Dukungan 1.000 HPK melalui Sahabat Posyandu, Jangkau 2.800 Penerima Manfaat di 28 Titik
  • Unila Raih Gold Winner Kartini Humas Indonesia 2026
  • Saat Rasa Sedulur Mulai Luntur

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist