PORTALLNEWS.ID (Lampung Timur) – Bagaimana cara mengetahui “kesehatan” hutan mangrove tanpa harus menyusuri setiap jengkal kawasan yang luas, lebat, dan berlumpur?
Sekelompok peneliti dari Universitas Lampung mencoba menjawab tantangan tersebut lewat pendekatan integratif: memadukan pengamatan langsung di lapangan (ForestHelath Monitoring/FHM) dengan analisis foto satelit dari luar angkasa. Penelitian ini mengambil lokasi di hutan mangrove pesisir Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.
Tim dosen Unila tersebut terdiri dari Prof. Dr. Rahmat Safe’i, S.Hut., M.Si., selaku ketua tim, dengan anggota tim peneliti Dr. Ir. Gunardi Djoko Winarno, M.Si. , Dr. Rudi Hilmanto, S.Hut., M.Si. , Dr. Rico Andrian, S.Si., M.Kom.
Mangrove: Benteng Pesisir yang Perlu Dijaga
Mangrove bukan sekadar deretan pohon di tepi laut. Ekosistem ini menjadi benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi dan terpaan gelombang, sekaligus rumah bagi beragam organisme laut. Mangrove juga menghasilkan berbagai jasa ekosistem yang dimanfaatkan masyarakat pesisir sehari-hari (Friess et al., 2020), dan dikenal mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar untuk mitigasi perubahan iklim.
Indonesia termasuk negara dengan ekosistem mangrove terluas di dunia. Bagi warga pesisir, mangrove menjadi tumpuan penghidupan, mulai dari perikanan hingga ekowisata (Kusmana dan Sukristijiono, 2021). Karena itu, memastikan mangrove tetap sehat berarti ikut menjaga kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Namun, memantau kondisi mangrove hanya melalui survei lapangan memiliki keterbatasan, terutama untuk wilayah yang sangat luas. Di sinilah teknologi penginderaan jauh (remote sensing) hadir sebagai solusi komplementer untuk memberi gambaran kondisi mangrove secara lebih luas dan komprehensif.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa menggabungkan data lapangan dengan citra satelit memberi gambaran kesehatan mangrove yang lebih komprehensif (Yang et al., 2024; Hidayah et al., 2024).
Turun ke Lumpur, Menengadah ke Satelit
Di lapangan, tim peneliti menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Metode ini menilai kesehatan hutan dari beberapa indikator ekologis, yaitu: produktivitas, vitalitas, biodiversitas, dan kualitas tapak (Safe’i et al., 2021).
Dalam penelitian ini, pengamatan difokuskan pada vitalitas pohon, kuhususnya kondisi tajuk: seberapa rimbun daunnya, seberapa tembus cahaya, dan seberapa banyak ranting yang mati. Tajuk dipilih karena ia adalah organ tempat fotosintesis berlangsung sekaligus bagian pohon yang pertama kali bereaksi terhadap tekanan lingkungan (Saragih et al., 2022).
Seluruh parameter tajuk digabung menjadi satu skor bernama Visual Crown Rating (VCR) (Nurfaizi et al., 2024). Peneliti membangun tiga klaster-plot FHM dengan jenis mangrove berbeda, yaitu: Rhizophora mucronata (Klaster-plot FHM 1/CL 1), Avicennia marina (Klaster-plot FHM 2/CL 2), dan Rhizophora apiculata (Klaster-plot FHM 3/CL 3). Total terdapat 12 plot pengamatan sesuai standar desain klister-plot FHM.
Di saat yang sama, dari angkasa, citra satelit Landsat 8 OLI dimanfaatkan untuk menghitung tingkat kehijauan vegetasi memakai indeks Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Semakin hijau dan rapat tajuk mangrove, semakin tinggi nilai pantulan yang tertangkap satelit (Setiawan et al., 2021).
Ketika Data Lapangan dan Data Satelit “Berjabat Tangan”
Yang menarik, saat kedua data dibandingkan, hasilnya menunjukkan pola yang sejalan: klaster dengan tajuk paling sehat di lapangan juga tercatat paling hijau di citra satelit.
Dari 12 plot pengamatan, skor kesehatan tajuk (VCR) berkisar antara 1,65 hingga 2,83 dengan rata-rata 2,51. CL 1 dan CL 2 mencatat rata-rata VCR sama tinggi yaitu 2,61, sedangkan CL 3 berada di angka 2,31. Dari foto satelit, tingkat kehijauan (NDVI) CL 2 mencatat angka tertinggi (0,59), disusul CL 1 (0,58), dan CL 3 paling rendah (0,46). Memperkirakan
Rumus Sederhana untuk “Memperkirakan” Kesehatan Mangrove
Dari pemodelan regresi antara data lapangan dan data satelit, peneliti berhasil merumuskan persamaan matematis sederhana untuk memperkirakan skor kesehatan tajuk mangrove berdasarkan nilai kehijauan satelit: Skor kesehatan tajuk (VCR) ≈ 1,65 + (1,57 × NDVI). Artinya, semakin tinggi nilai NDVI yang tertangkap satelit, semakin tinggi pula perkiraan kesehatan tajuknya.
Sebagai contoh, plot dengan nilai NDVI 0,60 diperkirakan memiliki skor VCR sebesar 2,59. Hubungan ini terbukti signifikan secara statistik. Temuan ini sejalan dengan laporan Sari dan Setiawan (2022) bahwa NDVI berkorelasi kuat dengan kondisi kesehatan mangrove hasil pengamatan lapangan.
Seberapa Akurat? Bukan Pengganti, tapi Pelengkap
Uji validasi statistik menunjukkan bahwa rumus ini memiliki tingkat kesalahan deviasi yang cukup rendah (MAE 0,18 dan RMSE 0,23), atau hanya meleset sekitar 7 hingga 9 persen dari kondisi pengukuran lapangan. Meski begitu, satelit ibarat melihat hutan dari pesawat: ia dapat memetakan area mana yang hijau dan gundul secara cepat, namun belum bisa menggantikan peran pengamatan langsung di darat untuk mengetahui penyebab detail kelemahan pohon. Karena itu, data satelit berfungsi sebagai penduga awal yang mempercepat kerja pemantauan kesehatan hutan mangrove.
Mengapa Ini Penting?
Dengan pendekatan integratif ini, petugas lapangan (pengelola kaeasan) tidak perlu lagi menyusuri seluruh areal pesisir yang luas dan sulit dijangkau. Cukup memvalidasi beberapa titik kunci di lapangan, sementara citra satelit membantu memetakan kondisi vegetasi secara cepat, lebih luas, dan berkala.
Kombinasi “mata di darat” dan “mata di langit” ini diharapkan menjadi alat bantu yang cepat dan efisien bagi pemerintah daerah maupun komunitas pesisir dalam menjaga kelestarian mangrove, sebelum kerusakan telanjur meluas.
Pemantuan kesehatan hutan mangrove yang akurat juga menjadi pondasi penting bagi upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus perlindungan ekonomi dan masyarakat pesisir (SDGs 1 dan SDGs 3). (R-1)
Penulis : Prof. Dr. Rahmat Safe’i, S.Hut., M.Si., Dosen Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Univeritas Lampung

Recent Comments