Ekonomi Lampung Tumbuh 5,02%, Lampaui Rata-Rata Sumatra

PORTALLNEWS.ID ( BANDAR LAMPUNG ) – Perekonomian Provinsi Lampung pada triwulan III 2026 tumbuh sebesar 5,02 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski melambat dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 5,29 persen, pertumbuhan ekonomi Lampung masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata wilayah Sumatra sebesar 4,95 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Lampung tetap menunjukkan kondisi yang solid, dalam keterangan rilisnya, Jumat (11/6/2026). Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai ekonomi Lampung atas dasar harga berlaku mencapai Rp150,55 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp80,42 triliun.

Pertumbuhan tersebut juga ditopang sejumlah sektor utama, terutama industri pengolahan dan perdagangan besar serta eceran.

Pada triwulan III 2026, industri pengolahan tumbuh 5,63 persen, sementara perdagangan besar dan eceran tumbuh 5,78 persen. Kedua sektor tersebut menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi masing-masing 1,04 persen dan 0,83 persen.

Selain itu, sektor konstruksi mencatatkan peningkatan pertumbuhan dari 6,57 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 7,98 persen. Sektor transportasi dan pergudangan juga tumbuh 7,97 persen, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan minum meningkat hingga 9,46 persen.

Peningkatan sektor transportasi dan pariwisata tersebut sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat serta kunjungan wisatawan nusantara.

Namun, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki pangsa terbesar dalam perekonomian Lampung, yakni 28,17 persen, hanya tumbuh 2,05 persen. Angka tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,97 persen.

Perlambatan ini sejalan dengan penurunan produksi padi setelah berakhirnya panen gadu serta berkurangnya produksi tanaman hortikultura. Kondisi tersebut turut dipengaruhi meningkatnya intensitas fenomena El Niño.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 4,87 persen dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 2,85 persen.

Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tumbuh lebih cepat, yakni 6,08 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,08 persen. Peningkatan tersebut sejalan dengan aktivitas konstruksi pemerintah maupun swasta.

Bimo menjelaskan, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Lampung sepanjang 2026 tetap tumbuh pada kisaran 5,0–5,6 persen. Prospek tersebut didukung kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi, serta kinerja sejumlah sektor usaha utama.

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain ketidakpastian global, dampak El Niño terhadap produksi pangan, serta volatilitas harga pangan dan komoditas.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan melalui tiga strategi utama.

Pertama, memperkuat sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian, ketahanan pangan, serta rantai pasok komoditas strategis.

Kedua, meningkatkan nilai tambah dan investasi melalui hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan UMKM berorientasi ekspor, serta promosi proyek investasi potensial melalui Lampung Economic and Investment Forum.

Ketiga, mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah melalui penguatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan perluasan transaksi nontunai untuk meningkatkan efisiensi serta mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dengan berbagai langkah tersebut, BI berharap pertumbuhan ekonomi Lampung dapat terus terjaga, semakin berkualitas, dan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.