PORTALLNEWS.ID (Metro) – Sore itu, Minggu, 19 Juli 2026, beberapa kelompok ibu-ibu tampak berkumpul di balai pertemuan kampung. Sebagian masih menggenggam sapu lidi, tanda mereka baru saja menyelesaikan kerja bakti membersihkan lingkungan.
Suasana terasa hangat dan akrab. Tawa kecil sesekali terdengar di antara mereka. Meski terlihat masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka tetap menyempatkan diri menyambut setiap orang yang datang.
“Assalamualaikum, sedang apa nih ibu-ibu semua?” sapaku.
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah sehat,” jawab mereka hampir bersamaan, disertai senyum yang begitu tulus.
Kegiatan seperti ini sudah menjadi rutinitas setiap Sabtu sore. Bukan sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi momen mempererat kebersamaan warga sekaligus melakukan pengundian nomor lapak untuk kegiatan esok hari.
Ya, setiap Minggu pagi sebuah Desa 21 Yosomulyo, Kota Pusat yang mereka beri nama Payungi berubah menjadi pusat keramaian. Ribuan pengunjung datang dari berbagai daerah hanya untuk menikmati aneka kuliner yang disajikan warga.
Menariknya, lokasi pasar kuliner ini jauh dari kesan mewah. Lapak-lapak berdiri di badan jalan yang sempit, di teras rumah warga, bahkan sebagian memanfaatkan dapur rumah sebagai tempat produksi makanan.
Namun justru dari ruang-ruang sederhana itulah roda ekonomi berputar begitu cepat.
Dalam waktu setengah hari, para pelaku usaha mampu meraih omzet mulai dari satu juta hingga tujuh juta rupiah.
Bagi sebagian keluarga, hasil berjualan sehari dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga selama berminggu-minggu.
“Jualan sehari di sini bisa membantu biaya makan keluarga lebih dari sebulan,” tutur Ibu Ari, salah satu penjual nasi gudeg.
Beragam kuliner tradisional menjadi daya tarik utama. Nasi tiwul goreng, pecel, aneka jajanan kampung, hingga makanan kekinian seperti takoyaki hadir berdampingan.
Rasanya lezat, harganya terjangkau. Satu porsi nasi tiwul bahkan bisa dinikmati mulai dari Rp7.000.
Kebersamaan yang Diikat oleh Aturan
Perjalanan Payungi tentu tidak selalu mulus. Selama delapan tahun berkembang, berbagai tantangan pernah mereka hadapi.
Mengelola lebih dari 70 pelaku UMKM dengan latar belakang yang berbeda bukan perkara mudah.
Apalagi ketika popularitas Payungi meningkat dan semakin banyak pedagang dari luar yang ingin bergabung.
Namun warga menyadari bahwa keberhasilan tidak cukup dibangun oleh semangat saja.
Dibutuhkan aturan yang disepakati dan dijalankan bersama.
“Setiap Sabtu sore semua berkumpul untuk kerja bakti, lalu dilakukan pengundian nomor lapak secara bergilir untuk kegiatan esok hari,” jelas Dharma Setyawan, penggerak Kampung Payungi.
Semua wajib mengikuti sistem tersebut. Tidak ada perlakuan istimewa, kecuali bagi warga yang memang menggunakan teras rumahnya sendiri sebagai lapak.
Kedisiplinan menjadi bagian penting dari budaya mereka. Warga yang berulang kali tidak mengikuti kerja bakti dikenakan sanksi berupa denda.
Bahkan dalam kondisi tertentu, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk berjualan.
Aturan itu bukan untuk menghukum, melainkan menjaga rasa keadilan dan memastikan semua orang ikut berkontribusi terhadap kemajuan bersama.
Koperasi sebagai Mesin Penggerak
Payungi juga tidak hanya bergantung pada pasar kuliner mingguan. Mereka membangun sistem yang membuat pergerakan ekonomi tetap berjalan dan berkelanjutan.
Salah satunya melalui koperasi yang menjadi penopang usaha warga. Para pelaku UMKM dapat mengambil bahan baku terlebih dahulu sesuai kebutuhan usahanya.
Setelah berjualan dan memperoleh pendapatan, barulah mereka melakukan pembayaran.
Skema sederhana ini memberi ruang bagi banyak warga untuk memulai usaha tanpa harus terbebani modal besar di awal.
Selain itu, berkembang pula unit usaha lain berupa workplace atau ruang kerja bersama yang banyak diminati generasi muda.
Tingkat pemanfaatannya cukup tinggi. Anak-anak muda memanfaatkan fasilitas internet yang tersedia untuk bekerja secara digital, mengelola usaha daring, hingga menjalankan berbagai pekerjaan kreatif.
Tidak sedikit yang mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah dari aktivitas ekonomi digital tersebut.
Ramainya kunjungan ke Payungi juga memunculkan peluang baru. Beberapa warga mulai menyediakan kamar atau ruang di rumah mereka sebagai penginapan sederhana bagi para tamu yang datang dari luar daerah.
Perlahan tetapi pasti, Payungi tumbuh menjadi sebuah ekosistem desa yang hidup. Bukan hanya tempat berjualan, tetapi ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang kolaborasi bagi masyarakat.
Belajar dari Praktik Baik
Hal yang paling berkesan bukanlah besarnya omzet atau ramainya pengunjung. Yang paling menginspirasi adalah semangat gotong royong yang terus hidup di tengah masyarakat.
Menjelang perayaan hari jadi Payungi, misalnya, warga secara sukarela mengumpulkan iuran untuk membeli dan menyembelih sapi.
Hidangan itu kemudian dinikmati bersama dan dibagikan kepada siapa saja yang datang berkunjung.
Ada rasa memiliki yang kuat. Ada kesadaran bahwa keberhasilan kampung bukan milik segelintir orang, melainkan hasil kerja bersama seluruh warga.
Praktik baik inilah yang membuat kami, para penggerak komunitas, datang untuk belajar.
Kami ingin memahami bagaimana sebuah perubahan dapat tumbuh dari bawah, berakar pada kekuatan masyarakat itu sendiri.
Kami melihat bahwa perubahan tidak lahir dari bantuan semata, melainkan dari keberanian warga untuk bergerak, dari adanya aturan yang disepakati bersama, dari kepemimpinan yang menggerakkan, dan dari keyakinan bahwa keadaan dapat diubah menjadi lebih baik. (ENI/R-1)
