Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Akhir-akhir ini viral bagaimana orang nomor satu di negeri ini dengan lantang mengatakan kepada rakyatnya jika merasa tidak baik-baik saja silahkan cari negeri lain. Mendengar ini hati merasa sangat teriris, betapa tidak, dahulu sebelum menjadi orang nomor satu mengemis-ngemis kepada rakyatnya untuk memilih, dengan seribu janji sejuta harap. Begitu menjadi, justru berucap melukai hati. Padahal semua berharap dipundaknya perbaikan negeri akan terjadi, ternyata janji diingkari pengusiran yang diberi.
Ironi terbesar dalam kehidupan bernegara bukanlah ketika ekonomi melemah, lapangan kerja menyusut, atau harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Semua bangsa pernah mengalami badai. Yang lebih tragis adalah ketika keluhan dijawab dengan pengusiran keluar. Seolah-olah persoalan bukan terletak pada arah kebijakan, melainkan pada keberadaan mereka yang mempertanyakannya. Kritik yang semestinya menjadi cermin justru diperlakukan seperti gangguan yang harus dijauhkan.
Satirnya, negeri ini dibangun dengan begitu banyak slogan tentang cinta tanah air. Anak-anak diajarkan menyanyikan lagu kebangsaan, menghafal sejarah perjuangan, dan menghormati pengorbanan para pendahulu. Namun ketika mereka tumbuh dewasa dan mempertanyakan mengapa hidup semakin berat, jawaban yang mereka dengar justru terdengar seperti undangan untuk mencari negeri lain. Seakan cinta kepada tanah air hanya diwajibkan kepada rakyat, sementara kewajiban mendengarkan rakyat menjadi haram.
Negara bukan perusahaan yang bisa berkata kepada pelanggan yang kecewa agar membeli produk pesaing. Negara adalah rumah bersama. Di dalamnya ada ikatan sejarah, identitas, bahasa, budaya, dan jutaan mimpi yang ditanamkan sejak lahir. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk berpindah. Tidak semua orang punya paspor yang kuat, tabungan yang cukup, atau kesempatan memulai hidup dari nol di negeri asing. Bagi sebagian besar rakyat, tanah kelahiran bukan sekadar alamat. Ia adalah seluruh dunia yang mereka miliki. Tanah tumpah darah, tanah harapan untuk diri dan generasinya.
Membuat keadaan terasa semakin getir adalah kenyataan bahwa persoalan ekonomi belum juga menemukan jalan keluar yang meyakinkan. Harga kebutuhan hidup terasa semakin berat, kesempatan kerja menjadi harapan yang terus ditunggu, sementara daya beli masyarakat mengalami tekanan. Di saat rakyat berharap hadirnya kebijakan yang memberi ruang bernapas, yang lebih sering mereka rasakan justru bertambahnya berbagai pungutan dan kewajiban. Pajak memang merupakan instrumen penting bagi keberlangsungan negara. Tidak ada negara modern yang dapat berjalan tanpa pajak. Namun pajak selalu memperoleh legitimasi moral ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara nyata. Ketika beban bertambah tetapi harapan terasa semakin jauh, maka yang tumbuh bukan sekadar keluhan, melainkan rasa kehilangan kepercayaan.
Lalu lahirlah humor-humor getir yang beredar dari warung kopi hingga media sosial. Orang-orang bercanda bahwa hampir semua aktivitas suatu hari nanti akan dikenai pungutan. Tinggal bernapas yang belum dipajaki. Tinggal meludah dan membuang angin yang masih bebas dari tarif administrasi. Semua tentu hanyalah satire. Namun sejarah menunjukkan bahwa lelucon sering kali menjadi bahasa terakhir ketika kritik sudah tidak lagi dipercaya mampu mengubah keadaan. Tawa menjadi cara paling murah untuk menyembunyikan rasa kecewa yang mahal.
Sebuah pemerintahan yang kuat sesungguhnya tidak diukur dari seberapa keras ia menjawab kritik, melainkan dari seberapa besar kesediaannya mendengarkan. Kritik bukan ancaman terhadap negara. Justru kritik adalah tanda bahwa rakyat masih memiliki harapan. Orang yang benar-benar putus asa biasanya tidak lagi berbicara. Mereka diam, pergi, atau sekadar bertahan sambil menunggu keadaan berubah dengan sendirinya.
Tidak ada bangsa yang menjadi besar karena berhasil mengusir suara-suara yang berbeda. Bangsa menjadi besar karena mampu mengubah kritik menjadi bahan bakar perbaikan. Ketika keluhan dianggap sebagai permusuhan, maka yang hilang bukan sekadar dialog, melainkan kesempatan memperbaiki arah sebelum semuanya terlambat.
Rakyat sangat paham dan tidak pernah meminta kehidupan yang sempurna. Mereka memahami bahwa mengelola negara bukan pekerjaan mudah. Mereka hanya ingin diyakinkan bahwa ketika hidup menjadi semakin sulit, pemimpinnya akan berdiri di samping mereka, bukan menunjuk ke cakrawala sambil berkata bahwa mungkin rumput di negeri orang lebih hijau. Sebab tugas sebuah negara bukan menawarkan peta menuju tempat lain, melainkan memastikan rumah yang telah diwariskan oleh sejarah tetap layak dihuni oleh setiap anak bangsanya.
Barangkali itulah tragedi paling sunyi pada zaman ini. Bukan karena rakyat tidak lagi mencintai negerinya, melainkan karena mereka mulai bertanya-tanya apakah negerinya masih mencintai mereka dengan kadar yang sama. Dan ketika pertanyaan itu terus bergema tanpa jawaban, yang perlahan terusir bukan hanya manusia dari tanahnya, tetapi juga rasa memiliki yang selama ini menjadi fondasi berdirinya sebuah bangsa. Semoga para pemimpin menyadari sebelum semua terlambat.
Salam Waras (R-1)


Recent Comments