PORTALLNEWS.ID ( Jakarta ) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung bersama Bisnis Indonesia Group memperkuat sinergi dalam meningkatkan kompetensi jurnalis ekonomi melalui kegiatan Capacity Building Mitra Media yang digelar di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026). Kegiatan tersebut menitikberatkan pada pentingnya penyajian berita ekonomi yang akurat, komprehensif, serta mampu membangun perspektif publik.
Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Akhmad Subarkah, mengatakan peningkatan kapasitas wartawan menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas komunikasi publik, khususnya terkait isu ekonomi, keuangan, dan kebijakan moneter.
Menurutnya, peserta yang mengikuti kegiatan merupakan wartawan mitra Bank Indonesia yang telah melalui proses seleksi dari berbagai platform media di Provinsi Lampung.
“Kegiatan ini kami selenggarakan untuk meningkatkan kapasitas wartawan dalam memahami isu-isu ekonomi. Harapannya, pemberitaan yang dihasilkan semakin akurat, edukatif, dan dapat memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat,” kata Subarkah dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, sebelumnya KPw BI Lampung juga telah menggelar pelatihan serupa yang diikuti sekitar 90 wartawan dari berbagai media. Program tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam memperkuat literasi ekonomi di kalangan insan pers.
Subarkah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan kanal komunikasi resmi Bank Indonesia apabila membutuhkan klarifikasi terhadap suatu isu.
“Kalau ada hal yang perlu dikonfirmasi, silakan disampaikan melalui jalur komunikasi yang tersedia, sehingga informasinya dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Sementara itu, Presiden Direktur Bisnis Indonesia Group Arif Budisusilo menekankan bahwa tantangan terbesar media saat ini bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun perspektif publik melalui pemberitaan yang utuh dan berbasis data.
Menurut Arif, secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang baik. Namun, tantangan muncul akibat adanya kesenjangan antara implementasi kebijakan dan komunikasi publik yang pada akhirnya memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.
“Semua ide kebijakan pada dasarnya baik. Yang sering menjadi persoalan adalah adanya gap dalam pelaksanaan dan gap dalam komunikasi publik. Kalau itu tidak dikelola dengan baik, yang muncul adalah persepsi negatif,” ujarnya.
Ia mencontohkan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki konsep baik, namun dalam pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan sehingga memunculkan beragam persepsi di masyarakat.
Arif menilai media memiliki tanggung jawab untuk tidak berhenti pada pembentukan persepsi semata.
“Kita tidak sekadar mengelola persepsi, tetapi harus membangun perspektif. Jurnalis harus mampu melihat persoalan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan potongan-potongan data,” katanya.
Sebagai ilustrasi, Arif menyinggung perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Vietnam yang kerap menjadi bahan pemberitaan. Menurutnya, persentase pertumbuhan ekonomi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan tanpa melihat besaran ekonomi masing-masing negara.
“Vietnam memang tumbuh lebih tinggi secara persentase, tetapi ukuran ekonomi Indonesia jauh lebih besar. Karena itu, jurnalis perlu melihat data secara komprehensif agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Bisnis Indonesia Group tengah melakukan transformasi dalam proses produksi berita dengan lebih menitikberatkan pada penguatan strategi pesan (message strategy). Menurutnya, media cetak, media digital maupun media sosial hanyalah platform penyampaian informasi, sedangkan nilai utama sebuah pemberitaan terletak pada kualitas konten, akurasi data, serta kemampuan memberikan edukasi kepada publik.
Arif mengingatkan bahwa isu ekonomi dan moneter merupakan isu yang sangat sensitif sehingga pemberitaannya harus dilakukan secara hati-hati, berimbang, dan berdasarkan perspektif yang tepat agar tidak menimbulkan persepsi negatif yang dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi.

Recent Comments