PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Inflasi Provinsi Lampung pada September 2026 tercatat sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi pada Agustus 2026 yang mencapai 0,23 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan, meski mengalami penurunan secara bulanan, inflasi Lampung secara tahunan masih berada di level 3,51 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28 persen.
“Inflasi Lampung pada September 2026 tetap terkendali,” demikian disampaikan Bimo Epyanto dalam siaran pers Bank Indonesia Provinsi Lampung, Jumat (2/10/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tekanan inflasi September terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Sejumlah komoditas yang memberikan andil terbesar yakni cabai merah sebesar 0,12 persen, beras 0,10 persen, cabai rawit 0,06 persen, dan tomat 0,02 persen secara bulanan.
Menurut BI Lampung, kenaikan harga beras dipengaruhi gangguan pasokan akibat penurunan produktivitas panen gadu yang berkaitan dengan terdegradasinya daya dukung lahan. Kondisi tersebut diperberat oleh intensitas fenomena El Nino yang tengah mencapai puncaknya.
El Nino juga berdampak terhadap komoditas hortikultura, terutama cabai dan tomat, akibat terganggunya pasokan air irigasi di wilayah hulu.
Selain bahan pangan, komoditas telepon seluler turut memberikan tekanan inflasi dengan andil sebesar 0,03 persen. Kenaikan harga tersebut dikaitkan dengan meningkatnya harga komponen chip global serta tren apresiasi dolar Amerika Serikat.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen, daging ayam ras 0,06 persen, bawang putih 0,03 persen, jagung manis 0,02 persen, dan minyak goreng 0,02 persen.
Penurunan harga bawang merah sejalan dengan masuknya periode panen di sentra produksi lokal seperti Pringsewu, Pesawaran dan Lampung Barat, ditambah pasokan dari luar Lampung. Sementara penurunan harga bawang putih dipengaruhi meningkatnya pasokan di tingkat pedagang besar.
Untuk daging ayam ras, penurunan harga dipengaruhi relatif terjaganya permintaan di tengah pasar, seiring mulai digencarkannya diversifikasi menu dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
BI Waspadai Risiko Inflasi
Bimo Epyanto mengatakan, ke depan Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen secara tahunan hingga akhir 2026.
Namun, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama dampak El Nino terhadap produksi pangan dan hortikultura, kenaikan harga gabah, potensi arus keluar gabah Lampung, serta gangguan pasokan ikan akibat kondisi cuaca dan gelombang laut.
Risiko lainnya berasal dari potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat meningkatnya harga minyak dunia serta potensi gangguan distribusi LPG 3 kilogram.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama TPID Lampung memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui optimalisasi operasi pasar beras/SPHP, pemantauan harga dan pasokan pangan, penguatan produksi hortikultura, optimalisasi sarana pengairan, serta penguatan kerja sama antardaerah untuk menjaga kontinuitas pasokan pangan.
Selain itu, BI dan TPID memperkuat integrasi data harga, neraca pangan dan e-Horti sebagai bagian dari sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS). Program piloting e-Horti telah dilakukan di enam kabupaten/kota dengan melibatkan 110 petani dan luas tanam mencapai 55,42 hektare.
Upaya pengendalian juga dilakukan melalui koordinasi TPID, komunikasi publik dan edukasi inflasi, serta sosialisasi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar penyusunan menu MBG dapat menyesuaikan dinamika harga dan ketersediaan pangan.
