Jenderal Rasa Kopral

Refleksi

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

Oeh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Sebuah negeri tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, tetapi juga pemimpin yang memahami bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki akibat. Kekuasaan memberikan seseorang podium, tetapi tidak otomatis memberikan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Ada pemimpin yang ketika berbicara mampu menenangkan kegelisahan, meredakan ketegangan, dan mengembalikan kepercayaan publik. Namun ada pula pemimpin yang justru membuat suasana semakin panas karena kata-katanya meluncur tanpa kendali, seolah podium adalah ruang untuk melampiaskan segala sesuatu yang ada di kepala.

Di sinilah ungkapan “jenderal rasa kopral” menjadi relevan sebagai sebuah kritik terhadap gaya kepemimpinan, bukan terhadap pangkat atau latar belakang seseorang. Jenderal seharusnya bukan sekadar simbol kewenangan, melainkan gambaran tentang kedewasaan dalam memimpin. Ia dituntut memiliki kemampuan mengendalikan keadaan sekaligus mengendalikan dirinya sendiri. Sebab, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula dampak dari setiap ucapan dan tindakannya. Sementara itu, seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan besar tetapi berbicara seperti orang yang tidak memiliki beban tanggung jawab dapat membuat kewibawaan jabatan kehilangan maknanya.

Podium adalah tempat yang menarik. Di atasnya, seorang pemimpin tidak lagi berbicara hanya kepada orang-orang yang berdiri di hadapannya. Ia berbicara kepada masyarakat luas, kepada kelompok yang berbeda pandangan, kepada mereka yang mendukung maupun yang mengkritik. Setiap kalimat dapat dipotong menjadi judul berita, disebarkan melalui media sosial, ditafsirkan oleh berbagai kelompok, bahkan dijadikan dasar untuk memperkuat ketegangan yang sebelumnya mungkin masih kecil. Karena itu, kemampuan berbicara bukan sekadar persoalan keberanian menyampaikan pendapat. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan.

Pemimpin yang matang memahami bahwa tidak semua hal harus dijawab dengan suara keras. Tidak setiap kritik harus dibalas dengan kemarahan. Tidak setiap perbedaan harus diperlakukan sebagai ancaman. Ada saat ketika ketegasan diperlukan, tetapi ketegasan berbeda dengan kegaduhan. Ada waktunya seorang pemimpin mengatakan “tidak”, tetapi penolakan itu dapat disampaikan tanpa merendahkan. Ada kalanya sebuah kebijakan harus dipertahankan, tetapi mempertahankannya tidak mengharuskan pemimpin menciptakan musuh baru melalui ucapan.

Masalah muncul ketika podium berubah menjadi tempat di mana mulut berjalan lebih cepat daripada pertimbangan otaknya. Kata-kata yang seharusnya menjadi alat komunikasi berubah menjadi percikan yang menyulut emosi. Masyarakat yang sudah menghadapi berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik tentu membutuhkan ketenangan dari pemimpinnya. Mereka tidak membutuhkan tambahan kegaduhan yang berasal dari orang yang justru memiliki kewenangan untuk meredakannya.

Seorang pemimpin sesungguhnya memiliki dua jenis kekuatan: kekuatan keputusan dan kekuatan kata-kata. Keputusan dapat mengubah kebijakan, tetapi kata-kata dapat mengubah suasana batin masyarakat. Kalimat yang tepat dapat membuat orang merasa didengar. Kalimat yang keliru dapat membuat kelompok tertentu merasa dihina atau disingkirkan. Karena itu, seorang pemimpin harus menyadari bahwa lidahnya bukan milik pribadi sepenuhnya ketika ia berada dalam jabatan publik. Setiap ucapan melekat pada institusi yang dipimpinnya.

Kepemimpinan yang kuat juga bukan kepemimpinan yang selalu menunjukkan siapa yang paling berkuasa. Justru kekuatan sering terlihat dari kemampuan menahan diri. Orang yang benar-benar memiliki kendali tidak perlu membuktikan kekuasaannya melalui kemarahan setiap kali dikritik. Ia dapat menjawab dengan argumentasi, memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, dan membiarkan kebijakan berbicara melalui hasilnya.

Negeri ini membutuhkan pemimpin yang mampu membedakan antara keberanian dan kecerobohan, antara ketegasan dan kemarahan, antara komunikasi dan provokasi. Pangkat, jabatan, seragam, dan simbol kekuasaan tidak akan banyak berarti apabila pemiliknya tidak mampu mengendalikan kata-kata ketika berada di depan publik. Wibawa bukan lahir dari seberapa keras seseorang berbicara, melainkan dari seberapa besar orang lain dapat merasakan ketenangan, kepastian, dan tanggung jawab dari kepemimpinannya.

Seorang jenderal rasa kopral adalah gambaran tentang ironi ketika kewenangan sudah tinggi tetapi pengendalian diri tertinggal. Kritik semacam ini seharusnya menjadi pengingat bahwa semakin tinggi seseorang berdiri, semakin jauh pula jangkauan suaranya. Karena itu, setiap kata perlu ditimbang sebelum dilepaskan ke ruang publik. Mulut seorang pemimpin dapat menjadi penyejuk negeri ketika digunakan untuk merawat persatuan, menjelaskan persoalan dengan jernih, dan memberi harapan. Tetapi mulut yang tidak terkendali juga dapat menjadi pembakar negeri ketika setiap kalimatnya menambah kecurigaan, kemarahan, dan perpecahan.

Negeri tidak sedang membutuhkan pemimpin yang paling ramai suaranya. Negeri membutuhkan pemimpin yang tahu kapan harus berbicara, apa yang harus dikatakan, dan kapan harus menahan diri. Sebab kekuasaan yang besar seharusnya berjalan bersama tanggung jawab yang besar, termasuk tanggung jawab terhadap setiap kata yang keluar dari podium.
Salam Waras (R-1)