• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, June 1, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar

Refleksi

by portall news
June 1, 2026
in Headline, Pendidikan
Negeri (para) Maling

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

118
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Pagi menjelang siang terjadi diskusi kecil lewat piranti media sosial dengan seorang penulis, sekaligus penggiat demokrasi. Bermula dari remeh-temeh persoalan ringan, kemudian naik kelevel yang lebih “ngeri-ngeri sedap”; karena bicara masalah negara. Tampaknya ada sekelompok kepentingan yang mencoba “memancing diair keruh”; berharap friksi oposisi berubah menjadi pembenci kepada pemerintahan yang sah. Diskusi itu meluas menyangkut pimpinan negeri yang tidak mau mendengar kritik , dan sampai pada peluang adanya kudeta sunyi atau kudeta merayap yang dilakukan oleh kelompok yang punya kepentingan. Dari diskusi tadi memancing penulis untuk menelisik lebih jauh, tentu bersumber dari referensi yang ada, itupun sebatas dari sudut pandang filsafat manusia.

Sejarah politik menunjukkan bahwa keruntuhan kualitas pemerintahan jarang diawali oleh perebutan kekuasaan secara terbuka. Dalam banyak kasus, kemunduran justru berawal dari proses yang lebih halus, lebih sistematis, dan sering kali tidak disadari oleh para pelaku utamanya. Proses tersebut terjadi ketika kekuasaan secara perlahan kehilangan kemampuan untuk mendengar kritik, menerima koreksi, dan mengakomodasi pandangan yang berbeda. Pada titik inilah apa yang dapat disebut sebagai “kudeta sunyi” mulai berlangsung, yakni kudeta terhadap akal sehat dan mekanisme pengendalian kekuasaan itu sendiri.

Baca Juga

Hari Lahir Pancasila, Walikota Eva Ajak Warga Perkuat Persatuan

Peringatan Hari Lahir Pancasila, Pemkot Bandar Lampung Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan di Era Digital

Menjenguk Sahabat Jurnalis, Helmy Santika Bawa Semangat dan Harapan

Fenomena tersebut biasanya tidak ditandai oleh hadirnya oposisi yang kuat, melainkan oleh melemahnya keberanian di lingkungan internal kekuasaan. Ketika seorang pemimpin semakin yakin bahwa intuisi pribadinya lebih unggul dibandingkan nasihat para ahli, maka proses pengambilan keputusan akan bergeser dari pendekatan rasional menuju pendekatan personalistik. Dalam situasi demikian, kebijakan publik tidak lagi ditentukan oleh kualitas ar gumentasi, melainkan oleh kedekatan terhadap pusat kekuasaan.

Masalah utama dari kepercayaan diri yang berlebihan bukanlah optimisme, melainkan ilusi infalibilitas, yaitu keyakinan bahwa seseorang tidak mungkin salah. Dalam tradisi politik modern, tidak ada ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan keyakinan bahwa kekuasaan telah mencapai tingkat kebijaksanaan yang tidak lagi memerlukan kritik. Ketika hal tersebut terjadi, kritik tidak lagi dipandang sebagai instrumen koreksi, melainkan sebagai bentuk pembangkangan. Nasihat dianggap gangguan. Sementara pujian diterima sebagai konfirmasi bahwa seluruh kebijakan telah berjalan sesuai arah yang benar. Salah satu ciri kepemimpinan model ini ialah; jika mendapat masukan, apalagi kritik, belum selesai lawan bicara, sudah mencelah, dan memaksakan pembenarannya sendiri.

Akibatnya, ruang deliberasi mengalami penyempitan. Diskusi yang seharusnya menjadi arena pertukaran gagasan berubah menjadi mekanisme reproduksi persetujuan. Para pembantu kekuasaan tidak lagi berlomba menghadirkan solusi terbaik, melainkan berlomba menghadirkan kalimat yang paling menyenangkan untuk didengar. Dalam kondisi demikian, loyalitas memperoleh posisi yang lebih tinggi dibandingkan kompetensi, sedangkan kepatuhan lebih dihargai daripada kejujuran intelektual.

Ironisnya, situasi semacam ini sering dianggap sebagai bukti stabilitas politik. Tidak adanya perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai kesatuan visi. Tidak adanya kritik dianggap sebagai keberhasilan kepemimpinan. Padahal dalam perspektif kelembagaan, hilangnya kritik justru merupakan indikator melemahnya kesehatan sistem politik. Sebuah pemerintahan yang sehat bukanlah pemerintahan yang bebas kritik, melainkan pemerintahan yang mampu mengelola kritik sebagai sumber perbaikan.

Dalam konteks tersebut, ancaman terbesar bagi sebuah negara bukanlah perlawanan dari luar, melainkan terbentuknya ruang gema kekuasaan. Ruang gema muncul ketika seorang pemimpin hanya mendengar informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri. Fakta-fakta yang tidak sejalan disaring sebelum mencapai pusat pengambilan keputusan. Laporan yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan direduksi. Data yang menunjukkan kegagalan disajikan dengan bahasa yang lebih lunak. Pada akhirnya, pemimpin tidak lagi berhadapan dengan realitas, melainkan dengan representasi realitas yang telah dimodifikasi oleh para penjaga akses kekuasaan.

Kondisi tersebut menciptakan paradoks yang menarik. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin sedikit informasi jujur yang diterimanya. Semakin tinggi posisi politiknya, semakin besar kemungkinan ia hidup dalam konstruksi kenyataan yang berbeda dari pengalaman masyarakat sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, kebijakan publik berisiko kehilangan relevansinya karena dirumuskan berdasarkan persepsi yang tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan kondisi objektif di lapangan.

Lebih jauh lagi, kepercayaan diri yang tidak disertai kesediaan untuk mendengar kritik berpotensi menghasilkan apa yang oleh ilmuwan politik disebut sebagai overconfidence trap. Pemimpin mulai menganggap keberhasilan masa lalu sebagai jaminan keberhasilan masa depan. Setiap peringatan dianggap berlebihan. Setiap kekhawatiran dipandang sebagai pesimisme. Setiap kritik dicurigai memiliki motif politik. Akhirnya banyak orang yang berbeda dimasukkan penjara tanpa mengetahui apa salahnya. Akibat lanjut kapasitas untuk melakukan evaluasi diri melemah secara signifikan.

Argumentasi filosofis mengatakan bahwa banyak pemimpin justru merasa paling kuat pada saat mereka sedang kehilangan instrumen koreksi. Mereka merasa memperoleh dukungan penuh ketika tidak ada lagi yang berani berbeda pendapat. Mereka menganggap situasi terkendali ketika seluruh laporan menunjukkan hasil positif. Mereka percaya sistem berjalan sempurna ketika tidak ada suara yang mengganggu kenyamanan kekuasaan. Padahal yang sedang terjadi mungkin sebaliknya: sistem telah kehilangan kemampuan untuk menyampaikan kabar buruk kepada puncak kekuasaan.

Di sinilah kudeta sunyi menemukan bentuknya yang paling nyata. Kudeta tersebut tidak dilakukan oleh oposisi, tidak pula oleh kelompok bersenjata. Kudeta itu berlangsung melalui normalisasi budaya kepatuhan yang berlebihan, pengabaian terhadap kritik, serta penguatan lingkungan politik yang hanya memproduksi persetujuan. Yang direbut bukanlah kursi kekuasaan, melainkan kemampuan kekuasaan untuk melihat dirinya sendiri secara jernih.

Oleh karena itu, ukuran kematangan seorang pemimpin tidak terletak pada seberapa banyak pujian yang diterimanya, melainkan pada seberapa besar kesediaannya mendengar pandangan yang tidak menyenangkan. Sebab sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa kekuasaan jarang runtuh karena terlalu banyak kritik. Sebaliknya, kekuasaan sering kali tersandung karena terlalu lama mempercayai bahwa dirinya tidak memerlukan kritik sama sekali. Ketika keyakinan tersebut mengakar, maka yang berlangsung bukan lagi sekadar kesalahan politik, melainkan proses perlahan yang menyerupai kudeta terhadap nalar dalam jantung kekuasaan itu sendiri.

Secara filosofis kudeta seperti ini sangat berbahaya, lebih berbahaya dari kudeta apapun. Pada moment satu Juni sebagai hari lahirnya falsafah bangsa yang diberi nama Pancasila ini; mari kita sadar diri bahwa tidak ada satupun bangsa luar sana yang rela melihat bangsa ini damai. Mari kita bersatu padu dalam menyelamatkan negeri ini dari kehancuran; sekalipun kita secara entitas memiliki perbedaan. Salam Waras (R-2)

Previous Post

Hari Lahir Pancasila, Walikota Eva Ajak Warga Perkuat Persatuan

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar
  • Hari Lahir Pancasila, Walikota Eva Ajak Warga Perkuat Persatuan
  • Peringatan Hari Lahir Pancasila, Pemkot Bandar Lampung Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan di Era Digital
  • Menjenguk Sahabat Jurnalis, Helmy Santika Bawa Semangat dan Harapan
  • Rumah Ditinggal Kondangan Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp50 Juta

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist