• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sunday, July 12, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Mentang-Mentang

Refleksi

by portall news
July 12, 2026
in Headline
Negeri (para) Maling

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

105
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Kebetulan penulis punya kelompok diskusi se-plembang-an, maksudnya bahasa yang digunakan melalui piranti sosial menggunakan bahasa Palembang. Tentu banyak diksi yang tidak dapat sertamerta diterjemahkan dalam bahasa Indonesia baku; salah satu diantaranya diksi “mentang-mentang”.

Diksi ini lebih tajam daripada sekadar jumawa, lebih licin daripada arogan, dan lebih berbahaya daripada kesombongan biasa. Mentang-mentang jika didefinisi operasionalkan adalah keadaan ketika seseorang merasa memiliki hak istimewa untuk melampaui batas hanya karena sedang berada di atas. Bukan karena benar, melainkan karena berkuasa. Bukan karena bijaksana, melainkan karena merasa tak ada lagi yang berani berkata, “Anda keliru.”

Baca Juga

Pesantren Kilat Awali Masa Sekolah Siswa Baru SMA Al Kautsar

BI Lampung Tingkatkan Kompetensi Jurnalis Lewat Capacity Building Penulisan Berita Ekonomi

Pemetaan Siswa Selesai, Pemkot Bandar Lampung Tegaskan Sekolah Negeri Gratis

Negeri ini tampaknya sedang memasuki musim mentang-mentang. Musim ketika jabatan dianggap mahkota yang membuat pemakainya kebal kritik. Musim ketika kekuasaan diperlakukan seperti sertifikat kebenaran. Musim ketika suara rakyat didengar hanya jika bertepuk tangan, tetapi segera dianggap gaduh ketika mulai bertanya.

Mentang-mentang berkuasa. Mentang-mentang menjadi pejabat. Mentang-mentang memiliki akses. Mentang-mentang dekat dengan pusat keputusan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Aturan yang seharusnya berlaku sama untuk semua tiba-tiba menjadi lentur. Etika berubah menjadi pilihan. Hukum terasa tegas kepada yang lemah, tetapi menjadi sangat santun kepada mereka yang memiliki pengaruh.
Paling mengkhawatirkan lagi, mentang-mentang selalu datang dengan wajah percaya diri. Ia tidak pernah mengaku arogan. Sebaliknya, ia tampil seolah paling memahami keadaan. Semua keputusan disebut demi kepentingan bersama, meskipun yang menikmati manfaatnya hanya segelintir orang. Semua kritik dituduh membangun keresahan, sementara pujian diangkat sebagai bukti keberhasilan.

Di era digital, mentang-mentang bahkan menemukan teknologi sebagai sekutu terbaiknya. Kamera lebih sibuk merekam seremoni daripada kenyataan. Pencitraan mengalahkan pencapaian. Statistik dipoles, narasi dikemas, slogan diproduksi tanpa henti. Yang penting tampak bekerja, bukan benar-benar bekerja. Sebab dalam dunia yang dipenuhi layar, citra sering dianggap lebih penting daripada kenyataan.
Ironisnya, semakin besar fasilitas komunikasi, semakin kecil kesediaan untuk mendengar. Kritik dijawab dengan pencitraan. Pertanyaan dibalas dengan slogan. Data yang tidak sesuai dianggap gangguan. Seolah-olah masalah akan selesai jika cukup lama ditutupi oleh publikasi yang rapi.

Mentang-mentang selalu melahirkan lingkaran yang sama. Di sekitar kekuasaan, orang-orang mulai belajar bahwa mengatakan “iya” jauh lebih aman daripada mengatakan “tidak”. Kejujuran kehilangan nilai ekonominya. Yang dihargai bukan keberanian menyampaikan fakta, melainkan kemampuan menyenangkan telinga atasan. Maka lahirlah paduan suara yang indah, tetapi sumbang terhadap kenyataan.
Ketika semua orang sibuk memuji, sesungguhnya tidak ada lagi yang menjaga. Sebab kekuasaan tidak pernah runtuh karena terlalu banyak kritik. Ia justru rapuh karena terlalu banyak sanjungan. Tepuk tangan yang tidak jujur adalah obat bius paling mematikan bagi siapa pun yang sedang menikmati kursi kekuasaan.

Lebih berbahaya lagi, mentang-mentang memiliki kemampuan menghapus rasa malu. Kebijakan yang gagal cukup diberi nama baru. Janji yang tak ditepati cukup dipindahkan tenggat waktunya. Kekeliruan cukup dibungkus dengan istilah teknis yang rumit agar publik lelah memahaminya. Seolah pergantian diksi dapat menghapus kenyataan. Jembatan yang dibangun oleh rakyat secara gotongroyong pun, bisa “roboh” dengan satu diksi tidak memenuhi standard, walaupun sejatinya sedang “kehilangan muka”.

Padahal masyarakat memiliki ingatan yang lebih panjang daripada yang sering dibayangkan. Mereka mungkin diam, tetapi bukan berarti lupa. Mereka mungkin bersabar, tetapi bukan berarti menyetujui. Diam sering kali bukan tanda setuju, melainkan sedang menghitung sampai di mana kesabaran masih sanggup bertahan.

Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah. Semakin lama seseorang menikmati kekuasaan, semakin mudah ia percaya bahwa kekuasaan itu miliknya. Padahal jabatan hanyalah kursi pinjaman. Hari ini diduduki, esok ditinggalkan. Tidak ada meja yang selamanya menjadi milik satu tangan. Tidak ada stempel yang selamanya berada dalam satu saku. Yang abadi hanyalah akibat dari setiap keputusan.

Karena itu, mabuk mentang-mentang adalah penyakit yang jauh lebih berbahaya daripada mabuk pujian. Orang yang mabuk pujian masih bisa disadarkan oleh kenyataan. Tetapi orang yang mabuk mentang-mentang sering kali menganggap kenyataanlah yang salah. Ketika fakta bertentangan dengan keinginannya, fakta yang diminta menyesuaikan diri.

Ternyata mentang-mentang bukan sekadar persoalan bahasa daerah. Ia adalah diagnosis sosial. Ia menjelaskan mengapa sebagian pemegang kuasa perlahan kehilangan kemampuan mendengar, kehilangan kepekaan melihat penderitaan, dan kehilangan keberanian mengakui kekeliruan. Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa selama kursi masih diduduki, semua akan baik-baik saja.

Padahal sejarah selalu memiliki cara yang sunyi untuk memberi pelajaran. Kekuasaan tidak pernah jatuh karena kritik semata, melainkan karena terlalu lama percaya bahwa dirinya kebal terhadap kritik. Ketika mentang-mentang telah menjadi cara berpikir, kejatuhan tinggal menunggu waktu. Sebab rakyat mungkin tidak selalu memiliki kekuasaan, tetapi mereka selalu memiliki ingatan. Dan ingatan publik hampir selalu lebih panjang daripada umur sebuah jabatan.
Salam Waras (R-1)

Previous Post

Pesantren Kilat Awali Masa Sekolah Siswa Baru SMA Al Kautsar

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Mentang-Mentang
  • Pesantren Kilat Awali Masa Sekolah Siswa Baru SMA Al Kautsar
  • BI Lampung Tingkatkan Kompetensi Jurnalis Lewat Capacity Building Penulisan Berita Ekonomi
  • Pemetaan Siswa Selesai, Pemkot Bandar Lampung Tegaskan Sekolah Negeri Gratis
  • Jelang Piala Kemenpora 2026, 60 Wasit Renang Ikuti Penyegaran Aturan Baru

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist