Minumnya Besok, Mabuknya Sekarang

Refleksi

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di dalam kehidupan sehari-hari, mabuk tentu datang setelah seseorang minum. Namun dalam dunia politik, keadaan sering kali berlangsung sebaliknya. Masyarakat dapat merasakan kekecewaan setelah menyadari bahwa suatu peristiwa yang sebelumnya dianggap sebagai bentuk penghormatan, penghargaan, atau penghormatan budaya ternyata memiliki makna politik yang jauh lebih besar. Kesadaran itu datang terlambat, ketika tujuan sesungguhnya mulai terlihat melalui berbagai langkah yang dilakukan kemudian.

Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa simbol memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk opini publik. Gelar kehormatan adat, penghormatan dari tokoh masyarakat, prosesi budaya, hingga berbagai bentuk pengakuan sering dipandang sebagai wujud penghormatan yang tulus. Publik melihatnya sebagai bentuk penghargaan atas jasa atau kedudukan seseorang. Tidak sedikit masyarakat yang merasa bangga karena tradisi dan budaya mereka mendapat perhatian. Akan tetapi, dalam praktik politik, simbol-simbol tersebut tidak selalu berdiri sendiri. Simbol dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi yang dirancang untuk membangun citra, memperluas pengaruh, serta menciptakan kedekatan emosional dengan masyarakat.

Masalah muncul ketika masyarakat baru menghubungkan berbagai peristiwa tersebut setelah muncul langkah politik berikutnya. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai penghormatan budaya mulai dipahami sebagai bagian dari proses membangun legitimasi. Apa yang dulu diterima tanpa pertanyaan kemudian dinilai memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar penghormatan. Pada saat itulah banyak orang merasa telah terlambat menyadari arah permainan yang sesungguhnya. Rasa kecewa muncul bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena merasa telah ikut larut dalam narasi yang ternyata memiliki kepentingan politik.

Keadaan seperti ini memperlihatkan bahwa masyarakat sering kali lebih mudah terpesona oleh penampilan daripada substansi. Upacara yang megah, pidato yang menyentuh, simbol adat yang sakral, serta pemberitaan yang masif mampu membentuk persepsi positif dalam waktu singkat. Namun, persepsi tidak selalu mencerminkan kenyataan secara utuh. Politik adalah seni membangun persepsi sekaligus mengelola citra. Karena itu, masyarakat tidak boleh berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Setiap peristiwa perlu dilihat secara menyeluruh agar tidak mudah terjebak dalam kesimpulan yang terlalu cepat.

Demokrasi memberikan ruang kepada setiap orang untuk memperoleh penghormatan maupun dukungan dari masyarakat. Akan tetapi, demokrasi juga menuntut adanya budaya kritis. Sikap kritis bukan berarti selalu mencurigai setiap tindakan, melainkan membiasakan diri mengajukan pertanyaan terhadap tujuan, manfaat, dan dampak dari setiap langkah politik. Dengan cara itulah masyarakat dapat membedakan antara penghormatan yang lahir dari ketulusan dengan penghormatan yang mungkin dimanfaatkan sebagai instrumen membangun kekuatan politik di masa depan.

Pelajaran penting dari fenomena ini adalah perlunya meningkatkan literasi politik masyarakat. Literasi politik bukan sekadar mengetahui nama partai, proses pemilu, atau struktur pemerintahan. Literasi politik berarti kemampuan membaca hubungan antara simbol, narasi, komunikasi publik, dan kepentingan yang mungkin berada di balik semuanya. Masyarakat yang memiliki literasi politik akan lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian. Mereka tidak mudah terbawa arus pujian maupun propaganda, melainkan berusaha memahami setiap peristiwa berdasarkan fakta dan perkembangan yang terjadi.

Oleh karena itu, setiap warga negara perlu membangun kebiasaan berpikir kritis tanpa kehilangan sikap objektif. Penghormatan terhadap budaya harus tetap dijaga, tetapi tidak boleh menghilangkan kemampuan untuk menilai setiap peristiwa secara rasional. Menghormati tradisi tidak berarti menutup mata terhadap kemungkinan adanya kepentingan politik. Sebaliknya, sikap kritis justru merupakan bentuk tanggung jawab warga negara dalam menjaga kualitas demokrasi agar tidak hanya dipenuhi simbol, tetapi juga diisi oleh keterbukaan, kejujuran, dan akuntabilitas.

Ungkapan “minumnya besok, mabuknya sekarang” mengandung pesan bahwa penyesalan sering muncul karena masyarakat terlambat memahami maksud di balik suatu peristiwa. Simbol yang tampak sederhana dapat memiliki arti politik yang jauh lebih besar ketika dilihat dalam rangkaian waktu yang panjang. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya menjadi penonton yang menikmati kemeriahan sebuah peristiwa. Masyarakat harus menjadi warga negara yang mampu membaca arah perkembangan, menilai setiap langkah secara kritis, serta menyimpulkan sesuatu berdasarkan fakta, bukan semata-mata berdasarkan kesan.
Dengan demikian, demokrasi akan lebih kuat karena dibangun oleh rakyat yang berpikir jernih, tidak mudah terbawa euforia, dan tidak mudah menyesali sesuatu ketika semuanya telah terlambat disadari.
Salam Waras (R-1)