PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Konservasi kukang memasuki babak baru. Ancaman kepunahan kukang tidak lagi dipicu oleh konflik dengan manusia ataupun perburuan dan perdagangan ilegal, melainkan cedera berat dan kematian akibat tersengat listrik (elektrokusi).
Ismail Agung Rusmadipraja, selaku Senior Manager Edukasi & Panyadartahuan YIARI mengatakan, berdasarkan pemantauan selama 10 tahun terakhir, jumlah kematian kukang akibat sengatan listrik melampaui data tren perdagangan ilegal kukang.
Selama 2019-2025, YIARI melakukan evakuasi terhadap 15 kukang korban elektrokusi di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, 10 diantaranya mati saat proses evakuasi, sedangkan 40 lainnya ditangani oleh Pusat Rehabilitasi YIARI Bogor, Jawa Barat. Namun sayangnya, setelah penanganan medis, hanya 26 Kukang yang berhasil diselamatkan dengan 41,2 persen diantaranya dapat dilepasliarkan.
“Jumlah kasus ini adalah yang dilaporkan dan berhasil dievakuasi YIARI ke pusat rehabilitasi, bukan kasus total di Jawa Barat,” kata Ismail Agung pada kegiatan “Temu Wicara dan Gelar Sinema Kukang Tegang, di Gedung Dewan Kesenian Lampung, Selasa, 1 September 2026.
Dia menjelaskan, kondisi kukang elektrokusi mengalami luka bakar yang beragam, mulai dari luka bakar derajat I (ringan), luka bakar derajat 2 (sedang) dan luka derajat 3 serta derajat 4 atau luka bakar berat.
“Sebagian besar penanganannya harus amputasi karena kerusakan jaringan yang sudah sangat parah,” ujarnya.
Estimasi biaya yang dikeluarkan untuk proses penyelamatan dan rehabilitasi 51 kukang elektrokusi tersebut mencapai Rp1, 01 Miliar atau rata-rata Rp19, 8 Juta per kasus.
“Pada kasus kukang cacat permanen biaya berlanjut dalam bentuk perawatan harian, pemeriksaan kesehatan, pakan, dan biaya SDMnya,” jelas Ismail.
Tingginya angka kasus sengatan listrik pada kukang disebabkan oleh habitat atau wilayah jelajah kukang yang bersinggungan dengan insfrastruktur jaringan listrik. Kukang menjadikan kabel-kabel listrik sebagai jalur lalu lintas untuk merayap dari pohon tidur menuju pohon makan, dan sebaliknya dari pohon makan menuju pohon tidur.
Aksi Kolaboratif Mitigas Kukang
Jika tidak dimitigasi, kondisi ini tidak hanya mengancam kelestarian kukang dari kepunahan, tetapi juga membebani PLN. Sengatan listrik pada satwa dapat memicu gangguan jaringan hingga pemadaman arus. Akibatnya, selain merugikan PLN, pelanggan juga terdampak karena aktivitas ekonomi yang terganggu.
“Kita membutuhkan aksi kolaboratif multipihak dalam upaya penyelamatan dan konservasi kukang sesuai peran masing-masing,” ujar Ismail.
Beberapa aksi mitigasi yang dapat dilakukan adalah memetakan titik rawan jaringan listrik yang besinggungan dengan jalur jelajah kukang, mitigasi teknik jaringan seperti pemasangan cover/isolator, pengamanan titik rentan dan desain koridor yang aman dan ramah satwa, serta mendukung program rehabilitasi satwa korban dengan dukungan biaya penyelamatan, perawatan medis, pakan dan SDM.
“Selain itu aksi kolaborasi juga dapat dilakukan dalam bentuk edukasi kepada masyarakat, respons cepat melapor ke BKSDA atau Damkar saat melihat Kukang di jaringan listrik, penerapan standar teknis jaringan ramah satwa pada skala nasional, serta melakukan riset prilaku kukang dan efektivitas alat penghalau kukang,” papar Ismail.
Sinema “Kukang Tegang”
Bangkai seekor kukang tergeletak di meja putih. Matanya terbelalakterbelalak dan mulutnya menganga dengan kaki tangan yang menegang kaku. Tepat di atasnya, empat lampu operasi memancarkan cahaya terang, menyingkap bagian-bagian tubuh satwa malang itu yang telah menghitam.
Dua petugas berompi rescue satwa liar bersiap. Setelah mengenakan sarung tangan steril, mereka mengambil pisau bedah dan mulai membedah organ demi organ. Pemeriksaan tertuju pada bagian jantung, tempat pembuluh darah kapiler yang rusak parah dan menghitam menjadi saksi bisu penyebab kematian kukang tersebut.
Bekas luka dan bercak hitam pada organ tubuh kukang itu tak sekadar menjadi catatan medis biasa. Bagi Shiva, mahasiswa magang di Pusat Rehabilitasi YIARI Bogor yang ikut menyaksikan langsung proses nekropsi tersebut, kematian sang kukang menyisakan teka-teki besar. Tanda-tanda yang tak biasa pada bangkai primata bermata besar ini mendorong rasa ingin tahunya untuk menggelar investigasi demi mengungkap tabir di balik kematian tragisnya.
Kisah investigasi Shiva ini terangkum apik dalam film semi-dokumenter berjudul Kukang Tegang. Diproduksi oleh Garda Animalia dan Visualkan. Dikemas dengan visual yang sinematik, alur narasi yang hidup sehingga tidak membosankan ditonton hingga akhir. Di balik keindahan visualnya, film ini menyampaikan pesan dengan lugas dan menyentuh tentang betapa pentingnya menjaga keberadaan kukang serta menyelamatkannya dari ancaman kepunahan.
Perjuangan Shiva mencari penyebab kematian kukang mengantarkannya hingga di Air Naningan, Tanggamus, daerah konservasi kukang yang ada di Provinsi Lampung.
Awalnya, Shiva mengira kukang tersebut mati akibat penyiksaan oleh pemburu liar atau pedagang ilegal. Namun, setelah melakukan penelusuran bersama aktivis YIARI di Air Naningan dan mewawancara beberapa tokoh, warga, serta akademisi, akhirnya Shiva menemukan jawaban. Kematian kukang dengan ciri-ciri kaki tangan tegang /kaku dan hitam seperti luka bakar bukan karena penyiksaan hewan, melainkan karena sengatan listrik.
Film dokumenter tersebut menutup tayangannya dengan pesan tentang pembangunan infrastruktur energi yang harus ramah satwa dan menjaga keberlangsungan hidup kukang.
Memperkuat Riset dan Desa Eko Wisata Kukang
Usai penayangan sinema Kukang Tegang dan pemaparan para narasumber pada sesi Temu Wicara, dilanjutkan dengan diskusi. Hadir sebagai penanggap Kepala Dinas Kehutanan Lampung Yanyan Ruchyansyah, Akademisi Universitas Lampung (Unila) Elly Lestari Rustiati, Sekretaris Kecamatan Air Naningan Agus Setiawan, serta beberapa penanggap lainnya.
Akademisi Unila, Elly Lestari Rustiati mengapresiasi upaya PLN ULP Talang Padang dalam menerapkan teknologi mitigasi di jaringan listrik untuk mencegah kukang tersengat listrik. Diantaranya alat penghalau berupa caping dan serabut, isolasi kabel menggunakan jenis A3CS, serta isolasi protective slevee dan tutup isolator di sambungan kabel pada tiang-tiang listrik untuk mencegah terjadinya arus pendek.
“Mahasiswa kami telah melakukan penelitian tentang mitigasi yang paling efektif mencegah kukang tersengat listrik. Penelitian-penelitian seperti ini sangat dibutuhkan untuk konservasi kukang,” kata Elly.
Sementara, Sekretaris Kecamatan Air Naningan, Agus Setiawan mengatakan, saat ini YIARI bersama pemerintah kecamatan telah meluncurkan program eko wisata kukang di Air Naningan. Namun, program tersebut belum berjalan optimal.
Mengaca dari kesuksesan Desa Wisata Braja Harjosari, Lampung Timur yang awalnya memiliki program Safari Night mengamati gajah-gajah liar di habitatnya, kini berkembang ke potensi satwal lainnya, salah satunya kukang.
Kehadiran program Desa Wisata di Braja Harjosari tersebut menjadikan masyarakat sadar untuk turut menjaga dan melindungi satwa karena kini menjadi salah satu sumber ekonomi warga, melalui penyediaan homestay bagi wisatawan, makanan, minuman dan suvenir.
“Kami butuh belajar dari desa Braja Harjosari bagaimana membangun desa wisata. Selain itu, kami berharap YIARI bisa memfasilitasi pelatihan-pelatihan Sadar Wisata untuk menyadarkan leading sektornya terlebih dahulu, seperti kepala-kepala pekon, TP-PKK, Karang Taruna, komunitas, tokoh-tokoh desa, baru masyarakat secara umum,” ujarnya.
Kegiatan dihadiri oleh berbagai kalangan, diantaranya dinas-dinas terkait, PLN, mahasiswa Unila, Itera, UIN, NGO, serta awak media. (RINDA/R-2)

Recent Comments