PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Mahasiswa Doktor Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) M.D. Wicaksono berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor, Selasa, 13 Januari 2026, di kampus setempat.
Ketua Sidang yang dipegang langsung oleh Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Wan Jamaluddin Z memutuskan bahwa Promovendus MD Wicaksono dinyatakan lulus sebagai Doktor ke-389 Bidang Pengembangan Masyarakat Islam, dengan nilai sangat memuaskan.
Pada sidang terbuka tersebut, MD Wicaksono memaparkan penelitiannya yang berjudul “Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Perhutanan Sosial di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung (Studi Kasus Resort Way Sabu dan Resort Bandar Lampung)” dengan tim penguji Prof. Afif Anshori, Prof. M. Nasor, Dr. M. Mawardi J, Bambang Budiwiranto, dan Dr. Mubasit. Sedangkan Sekretaris Sidang Prof. Rini Setiawati yang juga Ketua Prodi S3 PMI.
Dalam paparannya, Promovendus MD Wicaksono menjelaskan, penelitian dilakukan dalam rentang waktu 2023-2024 menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus ganda.
“Metode ini mampu memberikan kerangka kerja yang memungkinkan analisis menyeluruh terhadap fenomena sosial yang kompleks, terutama berkaitan dengan peran para pihak yaitu pemerintah, pemerintah daerah dan NGO dalam pemberdayaan masyarakat melalui Perhutanan Sosial,” kata MD Wicaksono yang lama berkarir di Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan kini berprofesi sebagai Widyaiswara Ahli Madya dari BPSDM Lampung.
Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan pemberdayaan efektif merupakan sebuah konstruksi sosial yang terbentuk melalui pertemuan antara kekuatan internal kelompok masyarakat dan dukungan eksternal yang adaptif, responsif, dan berkelanjutan.
Keberhasilan program Perhutanan Sosial bukan hanya ditentukan oleh rancangan kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kemampuan para pihak untuk membangun kolaborasi yang setara, proses dialog yang terbuka, serta pemanfaatan potensi lokal yang tumbuh dari pengalaman hidup komunitas di kawasan hutan.
“Dinamika di Resort Way Sabu dan Resort Bandar Lampung memperlihatkan bahwa pemberdayaan tidak bisa dipisahkan dari faktor-faktor struktural dan kultural yang mengelilinginya. Realitas yang beragam ini menunjukkan bahwa pemberdayaan harus dirancang dengan pendekatan yang peka terhadap konteks,” jelas promovendus.
Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa tidak ada strategi universal yang dapat diterapkan secara merata pada semua kelompok. Strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif adalah strategi yang mampu menghadirkan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan imperatif konservasi ekosistem.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa kunci utama pemberdayaan masyarakat dalam Perhutanan Sosial di Tahura Wan Abdul Rachman terletak pada kemampuan merajut tiga unsur penting yaitu kekuatan kelembagaan kelompok tani, efektivitas kolaborasi multipihak, dan implementasi ekoteologi.
“Ketiganya menuntun masyarakat dan pemerintah menuju model pengelolaan hutan yang lebih adil, adaptif, dan berkelanjutan,” tutur MD Wicaksono.
Keterbaruan disertasi terletak pada perumusan model strategi pemberdayaan kontekstual di kawasan konservasi, yang mengintegrasikan dimensi sosial, ekologis, dan kelembagaan secara simultan. Strategi pemberdayaan yang efektif merupakan sinergi antara kekuatan kelembagaan lokal, pendampingan adaptif, dan kolaborasi multipihak, juga metransformasi spiritual ekologis melalui internalisasi nilai tauhid lingkungan dalam mewujudkan kelestarian sumber daya hutan dan kesejahteraan masyarakat.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung normatif atau sektoral, disertasi ini menawarkan kerangka analisis operasional berbasis praktik lapangan yang dapat direplikasi dengan penyesuaian kontekstual.
Ketua Sidang, Prof. Wan Jamaluddin Z mengapresiasi hasil penelitian berbasis pendekatan ekoteologi tersebut. Menurutnya, pendekatan ekoteologi juga merupakan salah satu program utama di Kementerian Agama.
“Musibah bencana alam di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga menjadi momentum yang pas dalam menjaga alam oleh manusia,” kata Wan Jamaluddin.
Ekoteologi merupakan kajian teologis yang membahas hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, yang memandang alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, sehingga menjaga lingkungan adalah bagian integral dari keimanan dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, bukan sekadar isu ekologis atau teknis semata.
Sidang promosi doktor turut dihadiri Prof Sugeng P. Harianto (Guru Besar Bidang Konservasi Sumber Daya Hutan Unila), Dr. Nandang Prihadi (Sekretaris Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan), Yanyan Ruchyansyah (Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung), Dwi Tyastuti (Sekretaris BPSDM Provinsi Lampung), Prof Ayi Ahadiat (Guru Besar Bidang Manajemen Strategi Unila), Chrisna Putra (Ketua Pokja Widyaiswara BPSDM Prov Lampung).
Istri promovendus, Dr. Bainah Sari Dewi turut mendampingi, beserta dua orang putri Apt. Safira Cahya Fadhila, S.Farm dan Sakura Cahya Q. (RLS/R-1)






Recent Comments