PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Keindahan kain tapis khas Lampung siap mencuri perhatian publik nasional dalam ajang “Persit Bisa 2” yang akan digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 7–9 Mei 2026.
Dalam pameran tersebut, UMKM Asri Tapis akan menampilkan koleksi unggulannya di Booth 75 sebagai wujud komitmen pelaku usaha lokal dalam melestarikan warisan budaya sulam benang emas di tengah perkembangan zaman.
Partisipasi tapis Lampung di panggung nasional ini tidak hanya sekadar ajang promosi, tetapi juga mencerminkan kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya. Keterlibatan Persit Kartika Chandra Kirana menjadi bukti peran aktif organisasi dalam mendorong pemberdayaan ekonomi anggota sekaligus memperluas akses pasar produk lokal.
Sejak berdiri pada 1946, Persit terus berkembang dari wadah pembinaan keluarga prajurit menjadi motor penggerak kegiatan sosial dan ekonomi. Kini, organisasi tersebut juga berperan dalam pelestarian budaya melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM, termasuk Asri Tapis Lampung.
Setiap lembar kain tapis yang dipamerkan mengandung nilai seni tinggi, dikerjakan secara manual dengan ribuan tusukan jarum oleh para pengrajin. Selain menghadirkan tapis klasik dengan sulaman benang emas, inovasi juga dilakukan melalui produk turunan seperti tas dan clutch yang memadukan unsur tradisional dengan desain modern.
Menurut pihak Asri Tapis, inovasi menjadi kunci agar tapis tidak hanya dipandang sebagai busana adat, tetapi juga mampu menjadi bagian dari gaya hidup masa kini yang elegan dan bernilai budaya.
Melalui ajang ini, tapis Lampung diharapkan tidak hanya dikenal lebih luas, tetapi juga menjadi sarana diplomasi budaya untuk memperkenalkan kekayaan “Bumi Ruwa Jurai” ke tingkat nasional.
Selama pameran berlangsung, pengunjung juga dapat memperoleh edukasi seputar sejarah, filosofi motif, hingga cara merawat kain tapis sebagai warisan budaya bernilai tinggi.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang melalui inovasi, sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah arus modernisasi. (*)
