PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Dosen UIN Raden Intan Lampung, Sri Wahyuni mempresentasikan hasil penelitian pada International Symposium on Sustainable Business Growth And Development (SBGD) yang diselenggarakan Azerbaijan State University Of Economy, pada Sabtu, 23 Mei 2026, secara daring.
Riset berjudul Building Food Self-Sufficiency Through the Empowerment of Women Farmers Groups in Lampung Province tersebut merupakan hasil penelitian bersama tiga peneliti. Selain Sri Wahyuni, dua peneliti lain adalah M. Apun Syaripudin dari UIN Raden Intan Lampung dan Machfud Fauzi dari STAI Tulang Bawang Lampung.
Mewakili tim, Sri Wahyuni memaparkan tentang krusialnya peran Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam penguatan ketahanan pangan di Provinsi Lampung.
Menurut Sri Wahyuni, penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia, termasuk Lampung yang sedang menghadapi tantangan swasembada pangan. Kebutuhan pangan di Provinsi Lampung terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, tetapi upaya pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut dihadapkan pada tantangan alih fungsi lahan dan perubahan iklim.
“Terdapat potensi tersembunyi pada kaum perempuan, khususnya istri petani, yang memiliki peran besar dalam pengelolaan pangan keluarga. Namun, sering kali belum terlibat secara optimal dalam sistem produksi pertanian skala besar, ” ujar Sri Wahyuni.
Dia menegaskan, pemberdayaan kelompok wanita tani sebagai strategi kunci untuk memperkuat ketahanan pangan mulai dari tingkat rumah tangga, daerah hingga tingkat nasional.
Dalam paparannya, Sri Wahyuni juga menjelaskan tentang teknis penelitian yang menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mengurai bagaimana KWT berkontribusi pada pemberdayaan perempuan guna mendorong ketahanan pangan.
Lokasi penelitian dilakukan di dua daerah, yakni Kabupaten Lampung Tengah meliputi Desa AstoMulyo, Majapahit, Sri Sawahan, dan Toto Katon), serta Kota Metro meliputi Desa Banjarsari dan Purwosari.
“Peneliti mengumpulkan data dengan wawancara mendalam, observasi, serta menggelar FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok wanita tani tidak hanya berfungsi sebagai unit ekonomi, tetapi juga ruang pembelajaran, kepemimpinan, dan solidaritas sosial,” tuturnya.
Melalui aksi kolektif, perempuan memperoleh akses ke peluang penghasilan lebih baik, meningkatkan keterampilan teknis dan kewirausahaan, dan berpartisipasi lebih aktif dalam pemerintahan lokal.
Sri Wahyuni mengatakan, KWT merupakan model yang layak dan transformatif untuk pemberdayaan perempuan pedesaan.
“Melalui pemberdayaan KWT, dapat dipastikan keberlanjutan rantai pasok hasil pertanian, sehingga ketahanan pangan dapat terbangun dengan baik,” pungkasnya. (RLS/R-1)

Recent Comments