• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, June 22, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Basing-lah

Refleksi

by portall news
June 22, 2026
in Headline
Katek Jero
103
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Di antara sekian banyak ungkapan yang hidup dalam bahasa daerah Nusantara, ada satu kata dari Palembang yang menyimpan kedalaman makna yang jauh melampaui bunyinya yang sederhana: “basing lah”. Secara harfiah, ia dapat diterjemahkan sebagai “terserah kamu”. Namun terjemahan itu gagal menangkap seluruh beban emosional yang dikandungnya. Di dalam ungkapan tersebut berdiam rasa kesal yang telah lama dipendam, kekecewaan yang berulang kali dikecewakan, emosi yang kehilangan ruang untuk diluapkan, serta kelelahan batin yang memilih menyerah pada keadaan. Basing lah bukan sekadar kata. Ia adalah kesimpulan panjang dari sebuah proses kehilangan harapan.

Pada percakapan sehari-hari, seseorang biasanya mengucapkan basing lah bukan ketika ia tidak peduli, melainkan justru setelah terlalu lama peduli. Ia telah menjelaskan, mengingatkan, memperingatkan, bahkan mungkin memohon. Namun ketika semua upaya itu tidak menghasilkan perubahan apa pun, maka yang tersisa hanyalah kalimat pendek yang terdengar ringan tetapi sesungguhnya berat: basing lah. Di sana terdapat pesan yang tidak terucapkan, yaitu bahwa energi untuk memperjuangkan sesuatu telah habis.

Baca Juga

Ribuan Warga Meriahkan Color Run HUT ke-344 Bandar Lampung

Itera Buka Jalur Afirmasi SMT Bagi Putra Daerah Lampung, Pendaftaran Hingga 29 Juni

Itera Resmikan Taman Cendawan, Pusat Riset dan Konservasi Biodiversitas Jamur Nusantara

Ketika ungkapan ini dibawa ke dalam kehidupan sosial dan politik, maknanya menjadi jauh lebih serius. Sebab yang paling berbahaya bagi sebuah negeri bukanlah rakyat yang marah, melainkan rakyat yang lelah. Kemarahan masih menunjukkan adanya kepedulian. Kritik masih menandakan adanya harapan. Protes masih membuktikan bahwa masyarakat percaya perubahan mungkin terjadi. Namun ketika semua itu berubah menjadi sikap basing lah, maka yang lahir adalah ketidakpedulian yang dingin dan sunyi.

Hari-hari ini, banyak orang merasa hidup di tengah situasi yang semakin sulit dipahami. Berbagai persoalan datang silih berganti tanpa pernah benar-benar terselesaikan. Ketimpangan ekonomi masih terasa nyata. Keadilan sering dipersepsikan tidak berjalan seimbang. Ruang publik dipenuhi pertengkaran, propaganda, dan kebisingan informasi yang membuat masyarakat sulit menemukan kebenaran yang dapat dipercaya. Dalam keadaan seperti itu, rakyat perlahan mengalami kelelahan kolektif.

Awalnya orang bertanya. Mereka ingin mengetahui alasan di balik berbagai kebijakan dan keputusan yang memengaruhi hidup mereka. Ketika jawaban tidak memuaskan, mereka mulai mengkritik. Setelah kritik tidak menghasilkan perubahan yang berarti, mereka berubah menjadi sinis. Dan ketika sinisme berlangsung terlalu lama, muncullah tahap yang lebih berbahaya daripada kemarahan, yaitu apatisme. Pada titik itulah basing lah lahir sebagai sikap sosial.

Secara filosofis, basing lah adalah bentuk pengunduran diri dari ruang harapan. Ia bukan penolakan yang aktif, melainkan penarikan diri yang pasif. Seseorang tidak lagi berusaha mengubah keadaan karena merasa perubahan mustahil terjadi. Dalam filsafat eksistensial, manusia hidup karena percaya bahwa tindakannya memiliki makna. Ketika keyakinan itu hilang, yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa keterlibatan emosional. Orang tetap bekerja, tetap membayar kewajiban, tetap menjalani hari-harinya, tetapi tidak lagi merasa menjadi bagian dari perjalanan bersama sebuah bangsa.
Bahaya terbesar dari keadaan ini adalah terkikisnya kepercayaan.

Negara pada hakikatnya tidak hanya dibangun oleh undang-undang, gedung-gedung pemerintahan, atau simbol-simbol kekuasaan. Negara berdiri di atas kontrak moral yang tidak tertulis antara rakyat dan para pengelola kekuasaan. Kontrak itu bernama kepercayaan. Ketika kepercayaan menghilang, hubungan yang tersisa hanyalah hubungan administratif. Rakyat tidak lagi merasa memiliki negara, dan negara kehilangan ikatan emosional dengan rakyatnya.

Lebih jauh lagi, basing lah adalah bentuk perlawanan yang diam. Ia tidak turun ke jalan. Ia tidak mengangkat spanduk. Ia tidak memenuhi ruang publik dengan slogan-slogan. Namun justru karena diam, ia sering kali tidak terdeteksi. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak perubahan besar bermula ketika masyarakat kehilangan keyakinan terhadap arah yang sedang ditempuh bersama. Ketika harapan memudar, legitimasi moral ikut terkikis.

Ironisnya, kondisi ini sering disalahartikan sebagai tanda stabilitas. Tidak adanya protes dianggap sebagai tanda kepuasan. Tidak adanya kritik dianggap sebagai tanda keberhasilan. Padahal bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Masyarakat tidak lagi berbicara bukan karena mereka setuju, melainkan karena mereka merasa suara mereka tidak lagi memiliki arti.

Dalam situasi seperti itu, diam bukanlah bentuk penerimaan, melainkan bentuk keputusasaan.
Pertanyaan terbesar bagi negeri ini bukanlah bagaimana menghadapi kemarahan rakyat, melainkan bagaimana mencegah rakyat sampai pada titik basing lah. Sebab kemarahan masih membuka ruang dialog, kritik masih membuka kemungkinan perbaikan, dan protes masih menunjukkan adanya harapan. Tetapi ketika masyarakat secara kolektif memilih berkata basing lah, sesungguhnya mereka sedang menyampaikan pesan yang sangat menyedihkan: kami pernah percaya, kami pernah berharap, kami pernah peduli, tetapi kini kami tidak lagi yakin bahwa semua itu akan mengubah apa pun. Dan tidak ada pertanda yang lebih mengkhawatirkan bagi masa depan sebuah bangsa selain ketika harapan rakyat perlahan berubah menjadi ketidakpedulian.
Salam Waras (R-2)

Previous Post

Ribuan Warga Meriahkan Color Run HUT ke-344 Bandar Lampung

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Basing-lah
  • Ribuan Warga Meriahkan Color Run HUT ke-344 Bandar Lampung
  • Itera Buka Jalur Afirmasi SMT Bagi Putra Daerah Lampung, Pendaftaran Hingga 29 Juni
  • Itera Resmikan Taman Cendawan, Pusat Riset dan Konservasi Biodiversitas Jamur Nusantara
  • Gubernur Apresiasi Kinerja Pemkot di HUT ke 344 Bandar Lampung

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist