PORTALLNEWS.ID ( Bandar Lampung ) – Inflasi Provinsi Lampung pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan (mtm). Meski meningkat dibandingkan Juli yang mengalami deflasi 0,49 persen, Bank Indonesia menilai perkembangan inflasi Lampung masih terkendali.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyampaikan, secara tahunan inflasi Lampung mencapai 3,53 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19 persen.
“Ke depan, inflasi di Provinsi Lampung diprakirakan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) pada akhir 2026,” demikian disampaikan Bimo dalam siaran pers perkembangan inflasi Lampung Agustus 2026, Rabu (2/9/2026).
Kenaikan inflasi Agustus terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas beras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,09 persen, disusul daging ayam ras 0,05 persen, kacang panjang 0,05 persen, dan jagung manis 0,04 persen.
Kenaikan harga beras terjadi seiring meningkatnya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat penggilingan. Kondisi tersebut dipengaruhi belum optimalnya panen gadu akibat memasuki musim kemarau serta gangguan hama pada musim tanam kedua.
Sementara itu, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi meningkatnya permintaan pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Maulid Nabi Muhammad serta pemenuhan kebutuhan sejumlah program strategis pemerintah pascalibur sekolah.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan sejumlah komoditas pangan. Harga bawang merah, tomat, dan bawang putih masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,16 persen, 0,10 persen, dan 0,06 persen.
Penurunan harga bawang merah sejalan dengan masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi lokal, terutama Pringsewu, Pesawaran, dan Lampung Barat.
Selain pangan, penurunan harga bensin dan tarif angkutan udara turut menahan laju inflasi. Harga bensin turun seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi, sedangkan tarif angkutan udara menurun setelah normalisasi permintaan pascalibur sekolah dan penurunan harga avtur sebesar 14 persen untuk penerbangan domestik.
Bimo mengatakan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui optimalisasi operasi pasar beras SPHP, pemantauan harga dan pasokan pangan strategis, penguatan produksi hortikultura, serta optimalisasi kerja sama antardaerah untuk menjaga kontinuitas pasokan.
BI dan TPID Lampung juga mewaspadai sejumlah risiko ke depan, termasuk dampak El Nino dan karhutla terhadap produksi pangan, kenaikan harga GKP dan beras, gangguan pasokan ikan akibat kondisi cuaca maritim, serta potensi kenaikan harga BBM dan gangguan distribusi LPG 3 kilogram.
Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, BI Lampung memastikan pengendalian inflasi akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung daya beli masyarakat hingga akhir 2026.

Recent Comments