PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Jurnalis TV Tempo, Andre Prasetyo Nugroho, yang diculik dan disandera oleh militer Israel mengalami luka-luka akibat disiksa oleh militer Israel. Andre bersama delapan warga negara Indonesia lainnya tiba di Istanbul Turki Rabu Malam, 21 Mei 2026, untuk mendapatkan pengobatan sebelum dipulangkan ke Indonesia.
Andre dan delapan WNI yang disandera tentara Israel merupakan relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 0.2 yang membawa bantuan logistik dan berupaya membuka blokade Israel terhadap Palestina. Mereka diculik oleh militer Israel saat melintasi perairan internasional dekat Siprus pada 18 Mei 2026, dan disandera selama tiga hari.
Bersama Andre, terdapat tiga jurnalis Indonesia lainnya yang disandera, yaitu Bambang Noroyono alias Abeng dan Thoudy Badai Rifan dari Republika, serta Rahendro Herubowo dari iNews.
Sebelum menjadi jurnalis Tempo TV di Jakarta, Andre juga pernah menjadi jurnalis di salah satu media di Lampung dan masih tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung.
Dari tayangan video Reels Instagram @tvtempochannel, Kamis, 22 Mei 2026, terlihat Andre dan para relawan WNI yang baru tiba di bandara Istanbul, Turki, disambut ratusan relawan pro Palestina. Andre mengaku baru berkumpul bersama para relawan WNI lainnya setelah tiba di Istanbul.
Andre mengaku kondisinya tidak sehat dan tidak baik-baik saja.“Enggak Mbak, mau mati Mbak,” jawab Andre saat ditanya salah satu redaksi Tempo TV yang menanyakan kondisinya.
Andre mengaku mengalami banyak luka di bagian tubuhnya, bahkan relawan yang lain kondisinya lebih parah karena ada yang mengalami patah tulang. Para relawan sudah ditangani oleh KJRI untuk pemeriksaan dan perawatan bagi relawan yang mengalami luka serius.
Andre mengatakan tidak memegang handphone karena semua uang dan barangnya hilang selama penculikan dan penyanderaan oleh militer Israel. Untuk menghubungi redaksi Tempo TV, Andre meminjam ponsel staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul, dia meminta tolong agar disampaikan kepada pihak keluarganya bahwa dia dalam kondisi selamat.
Selain disiksa secara fisik, para WNI yang disandera juga jarang diberi minum dan hanya diberi makanan berupa roti. Ande sendiri mengaku memilih menjalani aksi mogok makan atau hunger strike sebagai bentuk protes atas kekerasan yang mereka alami.
“Minum jarang. Makanan dikasih roti-rotian. Aku jadi hunger strike. Jadi nggak makan aku. Baru makan enak itu tadi di pesawat,” katanya.
Diakhir percakapan dengan redaksi Tempo TV, Andre mengaku belum tahu sampai kapan berada di Istanbul karena baru tiba dan masih menunggu informasi selanjutnya dari KJRI.
Sehari setelah penculikan empat jurnalis Indonesia oleh militer Israel, puluhan jurnalis di Provinsi Lampung menggelar demo menuntut pembebasan jurnalis dan relawan Indonesia yang disandera militer Israel, serta mendesak Kementerian Luar Negeri mengambil langkah diplomatik maksimal guna memastikan keselamatan dan pemulangan seluruh WNI.
Aksi tersebut juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNESCO, dan komunitas internasional agar memberikan tekanan kepada Israel untuk menghormati hukum humaniter internasional serta kebebasan pers, serta mengajak seluruh insan pers di Indonesia maupun dunia untuk bersolidaritas dan terus menyuarakan perlindungan jurnalis di wilayah konflik.
Beberapa organisasi jurnalis yang melakukan aksi adalah Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Lampung, dan lainnya. (R-1)




Recent Comments