PORTALLNEWS. ID (Bandar Lampung) – Universitas Lampung (Unila) menguatkan posisinya sebagai center of excellence (pusat keunggulan) riset dan hilirisasi komoditas singkong setelah resmi ditetapkan menjadi National Cassava Center (Pusat Singkong Nasional).
Langkah ini dilakukan dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) “Akselerasi Pengembangan National Cassava Center” pada Senin, 18 Mei 2026, di Gedung Rektorat Unila.
FGD diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan Fakultas Pertanian (FP) Unila yang bekerja sama dengan Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia.
Forum diskusi dihadiri oleh Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas RI Dr. Jarot Indarto dan Ahli Utama Bappenas Dr. Suprayoga Hadi. Dari Unila, hadir Plh. Rektor Unila Prof. Eng. Suripto Dwi Yuwono bersama jajaran Wakil Rektor, yakni Prof. Ayi Ahadiat dan Dr. Habibullah Jimad, serta para dekan dan peneliti unggulan di lingkungan Unila. Agenda ini juga turut dikawal oleh Bappeda Provinsi Lampung, serta dinas terkait dari pemerintah kabupaten/kota.
Dalam sambutannya, Prof. Eng. Suripto Dwi Yuwono menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan Bappenas yang menetapkan Unila sebagai salah satu dari lima pusat riset unggulan komoditas pangan di Indonesia, khususnya untuk pengembangan singkong dari hulu hingga hilir.
Mandat nasional ini menempatkan Unila dalam jejaring strategis bersama empat kampus unggulan lainnya, yaitu IPB University sebagai Rice Center (Padi), Universitas Padjadjaran sebagai Sweet Potato Center (Ubi Jalar), Universitas Sebelas Maret sebagai Tropical Herbs Center (Herbal Tropis), dan Universitas Kristen Maranatha sebagai pusat pengembangan Moringa Oleifera (Kelor).
“Unila merupakan salah satu di antara lima pusat riset unggulan komoditas pangan di Indonesia, yakni pusat kajian cassava. Pilihan terhadap cassava adalah pilihan yang sangat rasional karena Lampung merupakan salah satu produsen singkong terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Unila telah melakukan berbagai pengembangan terkait singkong melalui riset, hilirisasi produk, hingga inovasi pertanian berkelanjutan. Namun demikian, masih diperlukan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk memperkuat pengembangan tersebut.
Menurut Prof. Eng. Suripto, Unila menyediakan satu block plan di Kampus II Unila, Kota Baru yang akan difungsikan sebagai National Cassava Center. Lahan tersebut diproyeksikan menjadi laboratorium lapangan eksklusif bagi Fakultas Pertanian dan pusat hilirisasi riset LPPM sehingga inovasi para peneliti Unila dapat diadopsi langsung oleh industri dan diaplikasikan dalam kebijakan pemerintah daerah.
FGD diisi dengan pemaparan dan diskusi terkait strategi pengembangan National Cassava Center (NCC), penguatan kolaborasi lintas sektor, penyusunan peta jalan pengembangan, serta peluang hilirisasi riset dan inovasi berbasis cassava di Provinsi Lampung.
Harus Memberi Dampak Nyata
Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas, Dr. Jarot Indarto, menegaskan, amanah yang diberikan kepada Unila sebagai National Cassava Center sejalan dengan arah RPJMN 2025–2029, khususnya dalam pengembangan pangan lokal dan nabati.
“RPJM di 2024 akhir 2025 ya memang salah satu yang kita masukkan sebagai prioritas itu bagaimana kita bisa menyediakan bahan pangan dari kapasitas domestik kita,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, sebagai provinsi dengan potensi singkong yang besar, Lampung memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan komoditas ini secara nasional dan produksi singkong Lampung dapat menjadi penggerak ekonomi daerah.
Hal senada ditekankan oleh Staf Ahli Bappenas, Dr. Suprayoga Hadi. Sebagai langkah awal, dia menyatakan pentingnya membangun visi bersama antara Unila, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.
“Yang pertama adalah membangun visi yang sama. Kita memang harus membangun visi sebagai satu pusat keunggulan dalam komoditas singkong secara nasional,” katanya.
Menurutnya, Cassava Center harus memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama memberi solusi bagi para petani singkong.
“Mau enggak mau kita membangun satu center of excellence yang dapat memberikan kemaslahatan kepada petani singkong,” ujarnya.
Dari sisi teknis, Dekan Fakultas Pertanian Kuswanta menyampaikan program jangka pendek yang akan dilakukan Unila. Diantaramya, menentukan lima varietas unggulan untuk dikembangkan di Lampung, menyusun peta sebaran varietas/klon singkong Lampung, memperbanyak massal bibit varietas unggul singkong.
Lalu, pengembangan alat terkait budidaya dan pascapanen, penyusunan Good Agricultural Practices (GAP) atau standar budidaya varietas singkong, kegiatan demplot singkong di Lampung, serta penyusunan roadmap National Cassava Center
“Standar budidaya yang sudah kami susun akan coba kami terapkan di DFL (Digital Farming Laboratory atau Laboratorium Pertanian Digital), sekaligus melalui demplot yang sudah disiapkan,” jelas Kuswanta.
Ia menambahkan, NCC juga terus memperluas jejaring kolaborasi dan ditargetkan menjadi pusat solusi bagi masyarakat dengan kolaborasi lintas sektor sehingga singkong Lampung diharapkan naik kelas menjadi kekuatan pangan lokal hingga regional. (R-1)
