• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Menjelang Senja

Refleksi

by portall news
May 19, 2026
in Headline
Menjelang Senja

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

103
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Tanggal 20 Mei 2026 bukan sekadar angka dalam kalender. Ia hadir sebagai penanda perjalanan panjang yang kini mencapai usia tujuh puluh tahun lebih: sebuah usia yang sarat dengan pengalaman, pengujian, dan pemaknaan. Jika masa muda dahulu dipenuhi dengan ambisi dan keinginan untuk menaklukkan dunia, maka di usia ini, hidup terasa lebih seperti ruang hening untuk memahami dunia dan diri sendiri. Tidak lagi berlari, melainkan berhenti sejenak untuk melihat ke belakang, menimbang, dan kemudian menerima.

Perjalanan hidup yang telah dilalui bukanlah jalan yang rata. Ia penuh dengan onak dan duri, tikungan tajam, serta tanjakan yang melelahkan. Ada masa ketika langkah terasa ringan, seakan segala sesuatu berpihak. Namun, tidak sedikit pula saat di mana hidup terasa begitu berat, bahkan untuk sekadar melangkah satu langkah ke depan. Dalam rentang waktu yang panjang ini, saya menyadari bahwa penderitaan dan kebahagiaan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu kenyataan yang sama, yaitu: kehidupan itu sendiri.

Baca Juga

Pemkot Bandar Lampung Salurkan Bantuan Beras untuk Warga

SD Al Kautsar Gelar Perpisahan bagi 214 Lulusan Angkatan ke-26

PW Muslimat NU Lampung Helat Pelatihan Kepemimpinan

Ketika menengok ke masa lalu, luka-luka yang dulu terasa begitu dalam kini tampak berbeda. Ia tidak lagi sekadar menyakitkan, tetapi juga mengandung pelajaran yang tak ternilai. Dari kegagalan, saya belajar tentang keterbatasan diri. Dari kehilangan, saya memahami arti kehadiran. Dari kesalahan, saya mengenal pentingnya kejujuran dan kerendahan hati. Hidup, pada akhirnya, adalah guru yang keras namun jujur; ia tidak pernah memberi tanpa sekaligus menguji.

Di usia ini, saya mulai melihat bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang harus dikejar tanpa henti. Ia bukan sesuatu yang bisa dimiliki secara permanen. Kebahagiaan datang seperti angin yang berhembus; kadang lembut, kadang tak terasa, dan sering kali pergi tanpa peringatan. Dulu, saya mungkin terlalu sibuk mencarinya di tempat-tempat yang jauh, dalam pencapaian besar atau pengakuan dari orang lain. Kini, saya justru menemukannya dalam hal-hal sederhana: keheningan pagi, tawa kecil bersama anak anak yang kini sudah dewasa, makan berdua di luar bersama istri, diskusi seru dengan para cucu; itu semua lebih dari sekadar rasa cukup.

Waktu, yang dahulu terasa begitu luas, kini terasa semakin terbatas. Hari-hari tidak lagi berlalu tanpa makna; setiap detik memiliki bobotnya sendiri. Kesadaran akan keterbatasan ini menghadirkan perspektif baru. Bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi waktu yang ada. Ada keinginan yang semakin kuat untuk tidak menyia-nyiakan sisa perjalanan ini, bukan dengan mengejar lebih banyak, tetapi dengan menjalani lebih dalam dan berbagi lebih banyak.

Kematian, yang dulu mungkin terasa sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, kini hadir sebagai kenyataan yang tak terelakkan. Ia bukan lagi bayangan gelap yang harus dihindari, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang wajar. Dalam kesadaran ini, muncul suatu bentuk penerimaan yang perlahan menenangkan. Bahwa pada akhirnya, setiap perjalanan pasti memiliki titik akhir. Dan mungkin, yang terpenting bukanlah kapan hari akhir itu datang, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kehadirannya.

Refleksi ini juga membawa saya kembali pada hubungan dengan sesama. Ada begitu banyak wajah yang pernah hadir dalam hidup; sebagian masih ada, namun kebanyakan dari mereka telah berpulang. Setiap pertemuan meninggalkan jejak, setiap perpisahan menyisakan cerita. Dalam perjalanan ini, tidak semua hubungan berjalan mulus. Ada kesalahpahaman, ada luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. Namun, di usia ini, muncul kesadaran bahwa memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebebasan. Melepaskan beban masa lalu justru membuat langkah menjadi lebih ringan.

Saya juga mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu diukur dengan pencapaian besar. Dunia sering kali menilai keberhasilan dari apa yang tampak: jabatan, kekayaan, atau pengakuan. Namun, dalam keheningan refleksi, saya menemukan bahwa makna hidup sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang tidak terlihat. Menjadi pribadi yang jujur, yang berusaha berbuat baik kepada sesama mahluk, meskipun tidak selalu dihargai, menurut saya itu adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.

Usia tujuh puluh lebih ini membawa saya pada kesederhanaan yang lebih dalam. Keinginan untuk memiliki semakin berkurang, digantikan oleh keinginan untuk memahami. Hidup tidak lagi tentang mengumpulkan, tetapi tentang melepaskan. Melepaskan ambisi yang tidak lagi relevan, melepaskan beban yang tidak perlu, dan bahkan melepaskan ego yang selama ini tanpa sadar mengikat. Dalam proses inilah, saya menemukan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Menjelang senja kehidupan, ada dorongan untuk merapikan segala sesuatu. Bukan hanya hal-hal yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi dalam hati. Ada keinginan untuk berdamai dengan masa lalu, untuk mengakui kesalahan tanpa harus tenggelam dalam penyesalan, dan untuk menerima diri apa adanya. Proses ini tidak selalu mudah, tetapi terasa perlu; seperti menyiapkan diri untuk perjalanan panjang yang akan datang.

Akhirnya, ulang tahun kali ini bukanlah sekadar peringatan bertambahnya usia. Ia adalah momen perenungan yang mendalam, sebuah titik di mana kehidupan dilihat dengan kejernihan yang mungkin tidak dimiliki di masa lalu. Dalam keheningan ini, saya menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar sempurna, tetapi selalu memiliki makna bagi mereka yang mau melihatnya. Dan, ketika saat itu benar-benar tiba, ketika kehidupan mencapai ujungnya, saya berharap dapat menyambutnya dengan ketenangan. Bukan karena tidak ada ketakutan, tetapi karena telah belajar menerima. Bukan karena tidak ada penyesalan, tetapi karena telah berusaha menjalani hidup dengan sepenuh hati. Dalam kesadaran itu, senja tidak lagi terasa sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai bagian indah dari menuju perjalanan abadi. Jika diri larut dalam fana yang sunyi, Lenyaplah aku, tinggallah Dia Yang Abadi. Jika hijab tersingkap di ujung perjalanan, Hamba dan Tuhan menyatu dalam pengenalan. Salam Keabadian (R-1)

Previous Post

PGN Perkuat Infrastruktur Gas dan Energi Rendah Emisi

Next Post

Pemkot Bandar Lampung Salurkan Bantuan Beras untuk Warga

Next Post
Pemkot Bandar Lampung Salurkan Bantuan Beras untuk Warga

Pemkot Bandar Lampung Salurkan Bantuan Beras untuk Warga

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Pemkot Bandar Lampung Salurkan Bantuan Beras untuk Warga
  • Menjelang Senja
  • PGN Perkuat Infrastruktur Gas dan Energi Rendah Emisi
  • Kasir Toko Candi Jaya Dituntut 2 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Modus Diskon 100 Persen
  • IKAM Gelar Goes To School di Dua SMA Negeri Lampung Timur

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist